TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Kisah perjuangan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menyita perhatian, setelah jembatan penghubung menuju sekolah mereka putus diterjang arus sungai akibat hujan deras.
Putusnya jembatan di Jalan Sinta, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ( Kaltara ) membuat siswa, guru, dan warga kehilangan satu-satunya akses menuju sekolah dan sejumlah kebun warga.
Meski kondisi berbahaya, sejumlah siswa tetap berangkat mengikuti ulangan semester kedua dengan cara menyeberangi sungai yang masih berarus deras.
Bahkan, ada orangtua yang nekat menggendong anaknya menyeberangi sungai agar tetap bisa mengikuti ujian di sekolah.
"Ada orangtua yang menggendong anaknya sampai ke seberang sungai, kemudian lanjut berjalan kaki menuju sekolah," ujar Kepala MI Darul Furqon Sebatik Tengah, Adnan Lolo kepada TribunKaltara.com, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Rumah Warga Sebatik Tengah Hangus Terbakar Saat Pemilik Hadiri Hajatan di Nunukan Kaltara
Namun tidak semua siswa berani melintasi sungai tersebut.
Beberapa siswa memilih tidak hadir karena khawatir dengan derasnya arus air.
"Ada siswa yang meminta izin karena takut menyeberang sungai.
Untuk mereka kami berikan dispensasi ulangan susulan," katanya.
Adnan Lolo mengatakan, jembatan yang putus itu merupakan akses vital bagi sekolah, karena setiap hari digunakan siswa dan guru untuk menuju lokasi belajar.
Tak hanya itu, masyarakat sekitar juga memanfaatkan jalur tersebut untuk mengangkut hasil kebun mereka.
"Jembatan itu sangat penting karena satu-satunya akses menuju sekolah kami.
Guru, siswa, dan masyarakat semua terdampak," ujarnya.
Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, mengungkapkan pihaknya menerima laporan dari warga pada pagi hari setelah jembatan tersebut ambruk akibat derasnya aliran sungai.
Menurutnya, kondisi sungai masih bisa dilintasi saat debit air rendah.
Namun ketika hujan turun dan arus meningkat, akses menuju sekolah praktis terputus.
"Kalau tidak hujan deras masih bisa dilewati pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Tapi kalau arus besar tentu sangat berisiko," kata Aris Nur kepada TribunKaltara.com melalui sambungan telepon.
Pemerintah Desa Sungai Limau bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) kini bergerak cepat menyiapkan pembangunan jembatan darurat.
Jembatan darurat itu rencananya memanfaatkan konstruksi jembatan lama yang berada tidak jauh dari lokasi jembatan yang putus.
Selain itu, Pemerintah Kecamatan Sebatik Tengah terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam upaya penanganan dampak bencana yang terjadi di wilayahnya.
Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Penataan Ruang Kabupaten Nunukan serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan untuk mempercepat langkah penanganan di lapangan.
"Hari ini tim dari Dinas PU sudah masuk ke lokasi dan telah bertemu dengan Kepala Desa setempat," ujarnya.
Ia menjelaskan, tim Dinas PU juga telah membawa rencana desain jembatan yang akan menjadi acuan dalam proses penanganan dan pembangunan infrastruktur yang terdampak.
Menurutnya, kehadiran tim teknis tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat segera ditangani.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Nunukan berperan dalam mengoordinasikan aspek kebencanaan serta melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lokasi terdampak.
Pemerintah Kecamatan Sebatik Tengah berharap sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan pemerintah desa dapat mempercepat proses penanganan serta memberikan solusi bagi masyarakat yang terdampak.
Putusnya jembatan juga membuat para guru khawatir proses belajar mengajar akan terganggu apabila hujan kembali turun dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Adnan Lolo, saat air sungai meluap, tidak ada jalur alternatif yang bisa digunakan menuju sekolah.
"Kalau hujan deras dan air naik, kami tidak bisa menembus sekolah. Jarak dari jembatan yang runtuh ke sekolah sekitar setengah hingga satu kilometer," jelasnya.
Pihak sekolah saat ini meminta orangtua mendampingi anak-anak mereka saat menyeberangi sungai demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara pemerintah desa berencana menggelar gotong royong bersama warga untuk membongkar jembatan lama yang akan dipindahkan menjadi jembatan darurat.
Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan darurat agar aktivitas pendidikan dan perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan normal.
"Kami berharap bantuan segera direalisasikan, minimal dibuatkan jembatan darurat terlebih dahulu. Ini sangat mendesak karena menyangkut keselamatan dan akses anak-anak sekolah," pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid