Unika Ruteng dan Pemkab Mabar Susun Bahan Ajar Muatan Lokal Bagi Siswa SD dan SMP
Hilarius Ninu June 02, 2026 02:47 PM

 

Penulis: Selvianus Hadun

TRIBUNFLORES.COM,LABUAN BAJO- Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan dan Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai untuk jenjang SD dan SMP, Selasa (2/6/2026). 

Kegiatan yang berlangsung di Labuan Bajo tersebut menjadi langkah awal penyusunan kurikulum muatan lokal yang relevan dengan identitas budaya dan kebutuhan pembangunan daerah.

FGD ini mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pemerhati pendidikan, tokoh budaya, serta tim penyusun kurikulum dari Unika St. Paulus Ruteng untuk merumuskan arah pengembangan Mulok Budaya Manggarai yang kontekstual dan berkelanjutan. 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Unika St. Paulus Ruteng dalam pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal.

 

Baca juga: Magang di SMK Karya Ruteng, Mahasiswa Teologi Unika Ruteng Belajar Menjadi Pendidik Berkarakter

 

Muatan Lokal Menjadi Sarana Merawat Identitas Budaya

Rektor, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Theol., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membentuk generasi yang mengenal jati diri, mencintai budaya, memahami lingkungan, serta memiliki tanggung jawab terhadap masa depan daerahnya.

Menurutnya, muatan lokal tidak boleh dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap dalam kurikulum sekolah.

“Muatan Lokal bukanlah sekadar mata pelajaran tambahan dalam kurikulum. Muatan Lokal adalah ruang strategis untuk mentransmisikan nilai, pengetahuan, kearifan lokal, sejarah, bahasa, seni, tradisi, serta cara hidup masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” tegas Rektor.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak Manggarai Barat perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.

“Melalui Mulok, sekolah menjadi tempat di mana anak-anak Manggarai Barat belajar menjadi warga dunia tanpa kehilangan akar budayanya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rektor melihat penyusunan kurikulum muatan lokal sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang berangkat dari pengalaman hidup, budaya, dan identitas masyarakat setempat.

“Saya memandang bahwa penyusunan Mulok ini juga merupakan bagian dari upaya dekolonisasi pendidikan, yaitu menghadirkan pendidikan yang berangkat dari realitas, pengalaman, pengetahuan, dan identitas masyarakat setempat,” katanya.

Menyiapkan Generasi Berbudaya dan Sadar Wisata

Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes., menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pengembangan muatan lokal budaya dan sadar wisata.

Menurutnya, program tersebut menjadi instrumen penting dalam mempersiapkan generasi muda yang tetap berakar pada budaya sendiri sekaligus mampu berinteraksi secara percaya diri dengan budaya global.

“Muatan lokal budaya dan sadar wisata didukung oleh pemerintah daerah dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang hidup berakar pada budayanya sendiri dan percaya diri dalam dialog dengan budaya global,” ungkap Wakil Bupati Mabar.

Ia juga menilai bahwa penguatan pendidikan berbasis budaya memiliki relevansi strategis dengan posisi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas nasional.

Karena itu, pendidikan perlu menyiapkan generasi yang memahami identitas budayanya sekaligus mampu menjadi pelaku pembangunan daerah berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif.

FGD Menghasilkan Berbagai Temuan Strategis

Dalam sesi FGD, tim penyusun dari Unika Ruteng memaparkan hasil analisis kebutuhan yang melibatkan ratusan tenaga pendidik dan puluhan pemangku kepentingan di Manggarai Barat. 

Hasil kajian menunjukkan dukungan yang sangat kuat terhadap pengembangan muatan lokal budaya Manggarai di sekolah.

Kajian tersebut juga menemukan bahwa mayoritas responden memandang muatan lokal sebagai instrumen penting untuk mencegah hilangnya identitas budaya sekaligus memperkuat karakter generasi muda. Namun, para responden juga menyoroti kebutuhan mendesak terhadap buku ajar, modul pembelajaran, peningkatan kapasitas guru, dan dukungan sarana pendidikan.

Tim peneliti menemukan enam tema utama yang perlu menjadi perhatian dalam penyusunan bahan ajar Mulok, yakni kebutuhan bahan ajar yang terstandar, pelatihan guru, penguatan konten bahasa dan ritual adat, penyediaan infrastruktur pendukung, kemitraan dengan komunitas budaya, serta integrasi potensi pariwisata dan kewirausahaan budaya dalam pembelajaran.

Kurikulum Visioner untuk Masa Depan Manggarai Barat

Rektor Unika Ruteng berharap FGD tidak hanya menghasilkan dokumen administratif, tetapi juga melahirkan kurikulum yang mampu memperkuat karakter peserta didik dan menjawab kebutuhan pembangunan daerah.

“Saya berharap tim penyusun tidak hanya menghasilkan dokumen kurikulum yang memenuhi aspek administratif, tetapi juga mampu melahirkan sebuah kurikulum yang visioner; kurikulum yang menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal, memperkuat karakter peserta didik, serta menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan Manggarai Barat,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi muatan lokal tidak hanya bergantung pada tim penyusun, tetapi juga membutuhkan kolaborasi pemerintah, sekolah, guru, tokoh adat, tokoh budaya, orang tua, dan masyarakat.

Mengusung semangat Dies Natalis Unika Ruteng tahun 2026, “Collaboration Drives Impact, Transformation Builds Character”, Unika Ruteng menegaskan komitmennya untuk mendukung penyusunan kurikulum melalui kajian ilmiah, penelitian, dan pendampingan akademik.

Melalui FGD ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Unika Santu Paulus Ruteng mengambil langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang semakin kontekstual, berakar pada budaya lokal, serta mampu membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.