Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Persoalan sampah di Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Tumpukan sampah kembali terlihat menggunung di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kawasan Pasar Bongkar, salah satu titik aktivitas masyarakat yang cukup padat di ibu kota kabupaten tersebut.
Pantauan TribunAmbon.com Selasa (2/6/2026), sampah rumah tangga, plastik, kardus bekas hingga berbagai jenis limbah lainnya menumpuk di dalam dan luar TPS.
Bahkan, sebagian sampah meluber hingga ke bahu jalan, menciptakan pemandangan kumuh di kawasan yang setiap hari dilalui warga.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait efektivitas pengelolaan sampah di Kota Bula.
Pasalnya, persoalan serupa bukan kali pertama terjadi dan kerap berulang di sejumlah titik penampungan sampah.
Selain mengganggu estetika kota, tumpukan sampah tersebut juga menimbulkan bau tidak sedap yang dapat dirasakan pengguna jalan dan warga sekitar.
Baca juga: Puluhan Sopir Angkot Demo Dishub Maluku, Tuntut Penataan AKDP
Baca juga: Dalih Ayah Dirawat di RS Manokwari Terbukti Bohong, Jefri Disebut Akui Menipu
Pada siang hari, aroma menyengat dari sampah yang menumpuk semakin terasa akibat teriknya matahari.
Yang lebih memprihatinkan, lokasi TPS berada di kawasan pesisir yang berdekatan dengan laut.
Jika tidak segera ditangani, sampah plastik dan limbah ringan lainnya berpotensi terbawa angin maupun air hujan ke perairan sekitar dan mencemari lingkungan pesisir.
Sejumlah warga menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kota Bula.
"Kalau pengangkutan terlambat satu atau dua hari saja, sampah langsung meluber keluar. Ini hampir sering terjadi. Kami tidak tahu kendalanya apa, tetapi kondisi seperti ini menunjukkan pengelolaan sampah masih belum maksimal," ujar Armin (41) salah warga di lokasi.
Pihaknya juga menyoroti kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Seram Bagian Timur yang dinilai perlu meningkatkan pelayanan kebersihan, terutama di titik-titik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
"Kami berharap DLH lebih rutin mengangkut sampah. Jangan tunggu sampai menumpuk baru dibersihkan. Pasar Bongkar ini kawasan ramai, jadi harus menjadi prioritas," tegasnya.
Menurut warga, keberadaan TPS yang berada di area terbuka tanpa pengelolaan yang memadai membuat sampah mudah tercecer dan berserakan di sekitar lokasi.
"Kalau angin kencang, plastik-plastik beterbangan sampai ke jalan dan pantai. Ini bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga masalah lingkungan yang harus diperhatikan pemerintah," tambahnya.
Masyarakat menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah lebih serius, bukan hanya mengangkut sampah setelah menumpuk, tetapi juga menata sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Mulai dari penambahan armada pengangkut, peningkatan frekuensi pengangkutan, hingga penyediaan fasilitas TPS yang lebih representatif.(*)