Profil dan Perjalanan Karier Dino Patti Djalal, Diplomat Senior yang Disentil Seskab Teddy
Rita Lismini June 02, 2026 06:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Nama Dino Patti Djalal kembali menjadi sorotan setelah disinggung Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terkait masa jabatannya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan.

Pada klarifikasinya, Teddy menyinggung soal jabatan Dino sebagai Wamenlu.

"Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal," kata Teddy.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas masukan yang diberikan secara cermat dan terstuktur.

Teddy kemudian memuji Dino sambil menyindir jabatan yang ia sebut hanya tiga bulan.

"Saya pikir beliau adalah Diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.

Dalam video itu, bahkan tulisan 3 bulan dibuat cetak tebal sebagai penegasan.

Publik pun menilai kalau itu tak ada hubungannya dengan kritik yang disampaikan oleh Dino.

Apalagi soal kunjungan Prabowo ke luar negeri ini juga menjadi isu yang meresahkan rakyat.

Teddy juga dinilai merendahkan Dino hanya karena menjabat tiga bulan saja sebagai Wamenlu.

Pernyataan tersebut kemudian memicu perhatian publik terhadap sosok Dino Patti Djalal dan rekam jejaknya di dunia diplomasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Profil Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal merupakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri yang dikenal sebagai diplomat senior Indonesia sekaligus Bapak Diaspora Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari dinopattidjalal.com, Dino lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965.

Ia merupakan putra diplomat senior Indonesia, Hasyim Djalal. Latar belakang keluarganya membuat Dino menghabiskan masa kecil hingga remaja di berbagai negara mengikuti penugasan orang tuanya.

Dino pernah tinggal di Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa hingga Vancouver.

Untuk pendidikan, Dino menempuh SD Muhammadiyah dan SMP Al-Azhar sebelum melanjutkan SMA di McLean, Virginia, Amerika Serikat.

Setelah itu ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Carleton, Kanada, Magister Ilmu Politik dari Universitas Simon Fraser, Kanada, serta gelar Doktor Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.

Perjalanan Karier

Karier diplomasi Dino dimulai pada 1987 saat bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Selama hampir 40 tahun berkiprah di dunia diplomasi, Dino pernah menduduki berbagai posisi penting, mulai dari penugasan di London, Dili, hingga Washington DC.

Beberapa jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain:

  1. Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI (1987)
  2. Juru Bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum Timor Timur (1999)
  3. Direktur Urusan Amerika Utara (2004)
  4. Staf Khusus Presiden untuk Urusan Internasional (2004-2010)
  5. Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010-2013)
  6. Wakil Menteri Luar Negeri (2014-2015)
  7. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) (2015)
  8. Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) (2018)

Selain itu, Dino juga dikenal sebagai penggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012 dan pencetus istilah Diaspora Indonesia.

Ia juga pernah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Bintang Jasa Utama, Bintang Mahaputra Adipradana, serta penghargaan Antarbudaya untuk Inovasi dari Austria.

Anies Ungkit Rekam Jejak Dino

Di tengah polemik yang berkembang, Anies Baswedan turut mengungkap pandangannya mengenai sosok Dino Patti Djalal.

Melalui unggahan di Threads, Anies memberikan dukungan kepada Dino dengan mengungkap rekam jejak dan pengalamannya di dunia diplomasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Anies mengaku telah mengenal nama Dino sejak masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia," tulis Anies.

Menurut Anies, penampilan Dino saat itu membuatnya terkesan karena mampu menjaga nama Indonesia di forum internasional.

"Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal," lanjutnya.

Beberapa tahun kemudian, Anies mengaku bertemu langsung dengan Dino saat menempuh pendidikan doktoral di Illinois, Amerika Serikat.

Ia menilai Dino sebagai diplomat yang cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dengan pendekatan diplomatik.

"Yang kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru," tulis Anies. 

Ungkit Rekam Jejak Dino

Anies juga menyinggung sejumlah pencapaian Dino selama berkarier sebagai diplomat.

Salah satunya saat menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat dan menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012.

"Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang," tulis Anies.

Ia juga menyoroti kiprah Dino dalam mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang disebutnya turut melahirkan generasi baru diplomat Indonesia.

Di akhir unggahannya, Anies menegaskan kemampuan Dino sebagai diplomat tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang dan pengalaman yang teruji.

"Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam."

"Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat," tulis Anies.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.