Hanya Ada 2 Ruangan, Murid SD di Simalungun Terpaksa Pindah Sekolah saat Kenaikan Kelas
Randy P.F Hutagaol June 02, 2026 06:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Jangankan menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, terbatasnya ruang kelas di SD Negeri 094151, Nagori Simbolon Tengko, Kecamatan Panombeian Panei, membuat warga setempat terpaksa memindahkan sekolah anaknya apabila naik ke kelas 4, kelas 5 dan 6 yang jaraknya mencapai 3 kilometer.

Bukan tanpa sebab, SD Negeri yang berada di ketinggian ± 600 Mdpl ini hanya memiliki dua ruang kelas dan satu ruang guru.

Parahnya, salah satu satu ruang kelas pun terpaksa dibagi lagi agar sekolah mini ini memiliki jenjang Kelas 1, Kelas 2 dan Kelas 3 SD.

“Jadi disekat satu ruangannya biar dapat kelas 1, kelas 2 dan kelas 2. Karena satu lagi dipakai untuk ruang guru,” kata Agus Purba, warga setempat.

“Kalau anak kami naik kelas 4 ya terpaksa lah orangtua/wali di sini ngantar anaknya ke sekolah induk yang jaraknya 3-4 km dari  sini,” kata Agus Purba, Selasa (2/6/2026). 

Adapun SD Negeri Mini 09415 merupakan sekolah dasar terdekat yang mampu dijangkau warga Dusun Saribu Raya I dan Dusun Saribu Raya II, yang notabene dusun terakhir di lereng Gunung Si Imbou Bolon. 

Total penduduk di kedua dusun ini adalah 112 Kepala Keluarga (KK), dengan mayoritas pekerjaan adalah petani karet. 

Di SD Negeri Mini 094151 ini hanya ada 38 peserta didik dengan jumlah guru hanya 4 orang. Kondisi sekolah pun tampak memprihatinkan dengan asbes jebol di beberapa sisi, kurangnya kursi dan meja, hingga tak terlihat adanya perangkat modern seperti komputer dan proyektor untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar yang atraktif. 

“Jangankan MBG, komputer dan proyektor pun mereka nggak punya. Ekstrakurikuler mereka juga gak punya. Kita minta lah prioritas agar sekolah ini ditambah ruangannya biar bisa dapat sampai lulus SD di sini. Jangan pindah-pindah lagi sekolahnya,” tambah Ronald R Tamba yang juga warga sekitar. 

Ronald sendiri mengaku prihatin dengan warga yang menyekolahkan anaknya di sini. Sebab, apabila naik kelas 4 SD dan pindah sekolah, jarak yang ditempuh untuk mengantar di sekolah induk cukup jauh dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. 

“Di sini bus atau angkot nggak ada. Jadi terpaksa mereka yang orangtuanya punya roda dua untuk mengantar. Tapi kalau hujan ya susah juga datang ke sekolah yang jaraknya 3 km dari sini,” kata Ronald kembali. 

Kaji Pendirian SD Tersendiri

Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun, Mixnon A Simamora pun menyebut bahwa masukkan ini akan mereka kaji secara teknis dengan Dinas Pendidikan. Pemkab Simalungun sendiri tak ingin sembarangan mendirikan sekolah walaupun adanya permintaan dari warga. 

"Kalau memang harus terpisah dan jadi sekolah sendiri, kita akan pertimbangkan memang untuk jadikan itu sekolah sendiri," kata Mixnon. 

Mixnon pun menyebut bahwa Pemkab Simalungun sempat melakukan re-grouping SD dan SMP yang muridnya berkurang sehingga efektivitas tenaga pendidik sesuai pada tugasnya. 

"Kita lihat animo murid seperti apa. Karena saya heran juga kok bisa mereka pindah kelas ke sekolah induk," kata Mixnon. 

(alj/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.