TRIBUNJAMBI.COM - Kasus tewasnya seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial RR (26) di sebuah rumah kawasan Perumahan Kota Wisata, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, mengungkap fakta memilukan.
Korban diduga menjadi korban penyiksaan brutal yang dilakukan oleh tiga rekan sesama ART. Ironisnya, pemicu penganiayaan tersebut diduga hanya karena hilangnya charger jam tangan milik majikan.
Akibat serangkaian kekerasan yang dialaminya, RR meninggal dunia setelah beberapa hari menahan luka serius di sekujur tubuhnya.
Awalnya Dikira Kecelakaan di Kamar Mandi
Kasus ini sempat membuat polisi menerima keterangan yang berbeda dari fakta sebenarnya.
Saat petugas datang melakukan penyelidikan, salah satu terduga pelaku berinisial NR mengaku korban mengalami kecelakaan setelah merasa pusing dan terjatuh di kamar mandi.
Baca juga: Breaking News Polresta Jambi Gagalkan Penyelundupan 47 Ribu Benih Lobster, 2 Pelaku Diamankan
Baca juga: Drama Cinta Berujung Kekerasan, Prada MR Dilaporkan Usai Diduga Aniaya Penggoda Pacarnya
Ia bahkan menyebut RR terkena air panas secara tidak sengaja.
"Dari Jumat, habis itu dia kepleset gara-gara dia pusing terus mual," kata NR kepada petugas saat awal pemeriksaan.
Namun seiring pendalaman kasus, cerita tersebut mulai terungkap sebagai kebohongan.
Pengakuan Terbongkar Saat Interogasi
Penyidik yang menemukan sejumlah kejanggalan terus melakukan pemeriksaan terhadap para penghuni rumah.
Tekanan pertanyaan yang diajukan akhirnya membuat salah satu pelaku tidak mampu lagi mempertahankan keterangannya.
Dalam pemeriksaan, para terduga pelaku mengakui bahwa korban memang menjadi sasaran penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama.
Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, membenarkan bahwa para pelaku sempat berusaha menutupi kejadian sebenarnya.
"Setelah kami dalami melalui interogasi, akhirnya mereka mengaku korban mengalami perundungan dan penganiayaan yang dilakukan oleh tiga orang sesama ART lainnya," ujar Edison.
Berawal dari Charger Jam Tangan yang Hilang
Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa tragis tersebut bermula ketika majikan mencari charger jam tangan yang tidak ditemukan selama dua hari.
Sebelum bepergian ke luar kota, majikan meminta seluruh ART di rumah tersebut membantu mencari barang yang hilang dan meminta pihak yang bertanggung jawab untuk mengaku.
Namun setelah majikan pergi, tiga pelaku diduga langsung menuduh RR sebagai penyebab hilangnya charger tersebut.
Tanpa bukti yang jelas, korban kemudian menjadi sasaran kemarahan rekan-rekannya sendiri.
Disiram Air Mendidih dan Dipukul Berkali-kali
Polisi mengungkap tindakan kekerasan yang dialami korban berlangsung sangat brutal.
Korban dipaksa masuk ke kamar mandi dan diminta membuka pakaiannya.
Di lokasi itu, tubuh korban disiram menggunakan air mendidih yang sebelumnya telah disiapkan di dalam ember.
Penyiksaan tidak berhenti di situ.
Saat korban berteriak kesakitan, para pelaku diduga kembali melakukan pemukulan menggunakan berbagai benda yang ada di sekitar mereka.
Mulut korban dipukul menggunakan botol semprot racun serangga, sementara bagian tubuh lainnya dihantam dengan gagang sapu.
Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka bakar serius dan kondisi fisiknya terus memburuk.
Sempat Bertahan Beberapa Hari Sebelum Meninggal
Meski mengalami luka berat, korban masih sempat beraktivitas pada hari berikutnya.
Namun kondisinya semakin melemah dari hari ke hari.
Menurut polisi, pada 28 Mei 2026 korban sudah tidak mampu beraktivitas seperti biasa dan hanya terbaring lemah.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada malam 30 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, RR dinyatakan meninggal dunia.
"Pada tanggal 28 korban sudah tidak bisa beraktivitas dan kondisinya sangat lemah. Kemudian pada tanggal 30 sekitar pukul 19.00 WIB korban meninggal dunia," kata Edison.
Saat ini polisi masih terus mendalami kasus tersebut dan telah mengamankan para terduga pelaku untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.