Asal-usul Desa Pengabuan dan Pengabuan Timur: Dari Karta Dewa hingga Kisah Heroik Puyang Wakim
tarso romli June 02, 2026 09:27 PM

 

Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Desa Seri Bandung Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel


SRIPOKU.COM, PALI – Sejarah penamaan Desa Pengabuan dan Desa Pengabuan Timur di Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, memiliki akar sejarah yang panjang. Sebelum mengalami pemekaran wilayah akibat perluasan pemukiman, kedua desa tersebut awalnya merupakan bagian dari sebuah wilayah luas bernama Dusun Karta Dewa.

Dusun Karta Dewa kuno terletak di pinggiran sungai kecil yang bermuara ke Sungai Lingkis, sebelum mengalir ke Sungai Lematang dan Sungai Musi.

Menurut penuturan Sekretaris Desa Pengabuan, Zet Januari, AMd, sejarah desa ini diturunkan secara lisan dari para tetua adat yang peduli terhadap peradaban lokal.

Dahulu, Dusun Karta Dewa dipimpin oleh seorang tokoh yang sangat disegani dan dihormati bernama Puyang Wakim.

Beliau memiliki seorang kakak perempuan bernama Putri Jaring Angin, yang menikah dengan Puyang Jagawana dan menetap di Dusun Air Itam.

Kisah perubahan nama dusun ini bermula ketika Puyang Wakim mendapatkan firasat buruk bahwa wilayah mereka akan diserang oleh komplotan perampok besar.

Beliau segera mengumpulkan warga dan memerintahkan mereka untuk ngubu (bersembunyi) ke tempat yang aman sembari membawa harta benda yang berharga.

Firasat tersebut terbukti benar. Rombongan perampok asal Bugis yang dipimpin oleh Puyang Bugis datang menyusuri sungai untuk menjarah Karta Dewa.

Demi melindungi wilayahnya, Puyang Wakim menghadapi para perampok seorang diri.

Karena kalah jumlah, Puyang Wakim berhasil ditangkap, diikat, dan ditenggelamkan ke dalam air menggunakan tumpukan kayu balai.

Dari penjarahan itu, Puyang Bugis merampas sebuah pusaka berupa Pendok Emas.

Di Air Itam, Putri Jaring Angin merasakan firasat buruk setelah melihat tanaman Selase Ulung miliknya layu.

Ia bersama suaminya, Puyang Jagawana, segera bertolak ke Karta Dewa untuk menyelamatkan Puyang Wakim. Setelah berhasil membebaskan sang adik, mereka mengejar komplotan perampok hingga ke daerah Tanjung Putus.

Pertempuran sengit kembali terjadi. Puyang Wakim akhirnya berhasil menewaskan Puyang Bugis yang kebal menggunakan senjata pusaka Dowong Cang Kripas.

Setelah situasi aman, Puyang Wakim meminta Puyang Jagawana membawa Pendok Emas kembali ke dusun dan mengabarkan kepada warga yang sedang bersembunyi (ngubu) bahwa keadaan sudah aman, sementara ia melanjutkan perburuan sisa-sisa anggota perampok.

Untuk mengenang peristiwa persembunyian masal tersebut, warga mengubah nama Dusun Karta Dewa menjadi Dusun Pengubuan.

Seiring berjalannya waktu, nama tersebut disesuaikan menjadi Desa Pengabuan.

Mengingat luasnya wilayah, pemerintah setempat kemudian memekarkan desa ini menjadi dua wilayah administratif, yaitu Desa Pengabuan dan Desa Pengabuan Timur yang dikenal hingga saat ini.

Baca juga: Asal-usul Desa Suka Pindah Ogan Ilir, Tempat Pelarian Warga Hindari Pengaruh Buruk Penjajah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.