Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Stanley Edwin Williams Latul alias Eten Latul membantah menerima uang dari DH terkait pengurusan surat kendaraan bermotor pada tahun 2023.
Namun, bantahan tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah bukti transfer yang dipaparkan korban.
Dalam sejumlah bukti transfer terlihat dana dikirim ke rekening atas nama Stanley Edwin Williams Latul.
Saat dikonfirmasi TribunAmbon.com, Senin (1/6/2026), Eten mengakui pernah membantu pengurusan surat kendaraan milik DH.
Namun ia menegaskan peristiwa yang dimaksud terjadi pada tahun 2016, bukan pada 2023 seperti yang dilaporkan korban.
"Dia minta tolong beta untuk urus surat motor. Itu tahun 2016," kata Eten.
Menurutnya, saat itu dirinya hanya meneruskan informasi dari pihak yang disebut bekerja di Samsat terkait biaya yang harus dibayarkan untuk proses pengurusan dokumen kendaraan.
Baca juga: Eten Latul Bantah Terima Transfer Rp3 Juta, Sebut Bukti yang Dipegang Korban Hasil Editan
Baca juga: TikToker Eten Latul Diduga Tipu Teman SMA Bermodus Urus STNK, Korban Rugi Jutaan Rupiah
"Karena saya sudah urus di Samsat, jadi orang di Samsat yang minta uang. Saya meneruskan pembicaraan orang Samsat ke dia. Ternyata motor itu harus cek fisik," ujarnya.
Meski demikian, Eten mengakui pernah menerima transfer dari DH.
Namun ia mengaku tidak mengetahui jumlah uang yang ditransfer dan menilai sebagian informasi yang disampaikan korban tidak sesuai fakta.
"Dia transfer-transfer itu tidak tahu berapa, tapi apa yang disampaikan dia itu tidak benar," katanya.
Pernyataan tersebut kemudian berubah ketika ditanya lebih lanjut mengenai transfer yang dilakukan korban pada tahun 2023.
Eten secara tegas membantah pernah menerima uang pada periode tersebut.
"Saya tidak pernah menerima transfer 2023. Kalau dia bisa menunjukkan bukti transfer ke rekening saya atas nama," ujar Eten.
Menariknya, di tengah bantahannya, Eten justru menyatakan kesediaannya untuk mengembalikan uang yang diklaim telah dikeluarkan DH bahkan hingga dua kali lipat.
"Saya siap kembalikan uang Rp6 juta, dua kali lipat dari uang yang sudah dia keluarkan," katanya.
Namun Eten tetap bersikeras bahwa tuduhan penipuan yang dialamatkan kepadanya tidak benar.
Ia mengklaim justru menggunakan uang pribadi untuk menalangi biaya pengurusan dokumen kendaraan tersebut.
"Itu tidak benar. Saya talangi biaya pakai uang saya, kira-kira sekitar Rp2 jutaan," ujarnya.
Menurut DH, kasus bermula pada 15 Juli 2023 ketika dirinya yang berdomisili di Maluku Utara meminta bantuan Eten untuk mengurus dokumen sepeda motor miliknya.
Eten disebut meyakinkan korban bahwa ia memiliki jaringan yang dapat membantu proses pengurusan melalui pihak di Samsat Sidoarjo, Jawa Timur.
Karena percaya, DH kemudian mengirim berbagai dokumen kendaraan yang diminta.
"Saya sebenarnya sempat ragu karena saya berada di Maluku Utara, sementara pengurusannya dilakukan di Sidoarjo. Tapi karena terus diyakinkan, akhirnya saya kirim semua berkas yang diminta," kata DH.
Korban mengaku pertama kali mentransfer Rp500 ribu pada 17 Juli 2023 ke rekening BCA atas nama Stanley Edwin Williams Latul. Transfer tersebut disebut untuk biaya pengurusan STNK.
Setelah itu, DH kembali mengirim sejumlah uang, baik ke rekening yang disebut milik Eten maupun rekening lain yang diarahkan oleh terlapor.
Salah satu transfer kembali dilakukan ke rekening atas nama Stanley Edwin Williams Latul sebesar Rp500 ribu.
Puncaknya pada 4 Agustus 2023, DH kembali mentransfer sekitar Rp1,1 juta ke rekening BCA atas nama Stanley Edwin Williams Latul setelah mendapat penjelasan bahwa biaya pengurusan telah lebih dahulu ditalangi oleh Eten.
Korban mengaku seluruh transfer tersebut dilakukan karena percaya kepada Eten yang merupakan teman satu kelasnya saat SMA.
Namun setelah uang dikirim, pengurusan surat kendaraan yang dijanjikan tidak pernah selesai.
DH mengaku kesulitan menghubungi Eten dan berbagai upaya komunikasi melalui WhatsApp maupun media sosial tidak mendapat respons.
Akibat rangkaian transfer tersebut, DH mengaku mengalami kerugian sekitar Rp3 juta.
"Saya tidak menyangka bisa diperlakukan seperti ini. Kami teman satu kelas waktu SMA. Karena itu saya percaya dan tidak berpikir akan berakhir seperti sekarang," ujar DH. (*)