Pertama, polisi memastikan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jasad pria berinisial AP (33), pria asal Jakarta Utara yang ditemukan tewas tergantung di dahan pohon durian di kawasan Suayan Randah, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (2/6/2026) pagi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban murni diduga mengakhiri hidupnya sendiri setelah sebelumnya sempat mengeluhkan tangannya bengkak akibat disengat tawon kepada seorang saksi.
Kedua, Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali mengalami erupsi pada Selasa (2/6/2026) malam sekitar pukul 19.56 WIB.
Meski terekam di seismogram dengan durasi sekitar 2 menit 40 detik, ketinggian kolom abu erupsi kali ini tidak dapat teramati karena puncak gunung tertutup kabut tebal.
Ketiga, tekanan inflasi di Provinsi Sumatra Barat kembali menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pada pertengahan kuartal kedua tahun ini.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat pada Selasa (2/6/2026), wilayah ini mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,90 persen sepanjang Mei 2026.
Simak selengkapnya berikut ini:
Polisi memastikan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jasad pria berinisial AP (33), pria asal Jakarta Utara yang ditemukan tewas tergantung di dahan pohon durian di kawasan Suayan Randah, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (2/6/2026) pagi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban murni diduga mengakhiri hidupnya sendiri setelah sebelumnya sempat mengeluhkan tangannya bengkak akibat disengat tawon kepada seorang saksi.
Hal itu disampaikan oleh Kasi Humas Polres Payakumbuh, AKP Satria Rudi, saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Selasa (2/6/2026).
Diketahui sebelumnya, jasad pria berinisial AP (33) ditemukan tewas tergantung pada pohon di sebuah ladang warga sekira pukul 09.00 WIB.
Korban merupakan warga Sawah Padang, Jorong Suayan Randah, Nagari Suayan, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota.
Baca juga: Mesin Rusak di Tengah Penerbangan, Hercules Angkatan Laut AS Mendarat Darurat di BIM
Berdasarkan KTP, korban beralamat di Kampung Malaka III, Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta.
Menanggapi itu, Satria Rudi menceritakan kronologi kejadian saat warga menemukan Ari Purnomo yang sudah tidak bernyawa usai tergantung tersebut.
Kata dia, penemuan mayat tersebut berawal dari keterangan saksi bernama Sapar (51), seorang buruh tani.
Menurut keterangan Sapar kepada pihak kepolisian, dirinya sempat bertemu dengan korban di kawasan Batu Mereng Rimbo Soriak saat hendak menuju kebun kopi miliknya pada Senin (1/6/2026) pagi kemarin.
"Berdasarkan keterangan saksi, saat itu korban mengeluhkan kondisi tangannya yang bentol-bentol akibat digigit tawon," ucapnya kepada TribunPadang.com, Selasa (2/6/2026) malam.
Saksi Sapar kemudian memberikan tembakau kepada korban untuk dioleskan pada bagian tubuh yang mengalami bentol.
Baca juga: Breaking News: Marapi Sumbar Erupsi Lagi di Awal Juni 2026, Puncak Gunung Ditutupi Kabut
Korban lalu mengambil tembakau tersebut dan mengoleskan ke tangan dan kakinya.
"Saksi juga menyarankan korban untuk mengoleskan ke seluruh tubuh atau berobat terlebih dahulu ke rumah," sebutnya.
Setelah itu, saksi melanjutkan aktivitas ke kebun kopi dan tidak lagi bertemu dengan korban pada hari tersebut.
Keesokan harinya, Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, Sapar kembali menuju kebun kopi miliknya. Dalam perjalanan, ia melihat sepasang sepatu berada di atas pohon.
"Karena curiga, saksi kemudian menelusuri lokasi tersebut dan mendapati korban sudah tergantung di dahan pohon durian menggunakan tali," bebernya.
Baca juga: Hendak ke Ladang, Warga Akabiluru Limapuluh Kota Kaget Temukan Mayat Tergantung di Pohon
Informasi itu selanjutnya diteruskan kepada masyarakat sekitar dan Wali Nagari, yang kemudian menghubungi Bhabinkamtibmas Nagari Suayan.
Mendapat laporan tersebut, Kapolsek Payakumbuh bersama anggota, Unit Inafis Satreskrim Polres Payakumbuh dan petugas Puskesmas Batu Hampar mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan.
"Dari hasil pemeriksaan luar yang dilakukan oleh dr. Tia, ditemukan bahwa tidak terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," sebutnya.
Petugas juga menemukan bekas memar di leher akibat jeratan tali serta adanya bekas keluar air mani pada kelamin korban.
Setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
"Di tubuh korban, ditemukan bekas memar di leher akibat jeratan tali serta adanya bekas keluar air mani pada kelamin korban. Dapat disimpulkan jika korban memang berniat mengakhiri hidup," jelasnya.
Sementara pihak keluarga, menyatakan tidak menuntut secara hukum dan menerima kepergian korban. Surat pernyataan dari keluarga akan menyusul untuk keperluan administrasi.
Sedangkan proses penyelenggaraan jenazah, mulai dari memandikan hingga mengkafani, dilakukan oleh pihak keluarga sesuai permintaan keluarga korban.
"Adapun tindakan kepolisian yang telah dilakukan meliputi mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), memasang garis polisi, mencatat identitas korban dan para saksi, serta melakukan visum luar bersama pihak Puskesmas Batu Hampar dan Unit Inafis Satreskrim Polres Payakumbuh," tutupnya.
Seorang warga menemukan jasad pria tewas tergantung di pohon saat hendak pergi ke ladang di kawasan Suayan Randah, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun TribunPadang.com, jasad pria tersebut ditemukan warga sekira pukul 09.00 WIB.
Wali Nagari Suayan, Irwanul Fuad mengatakan jasad pria tersebut diketahui bernama berinisial AP (33).
"Identitas korban berinisial AP, ia kelahiran 1993," kata Irwanul memberikan keterangan.
Kata dia, jasad korban ditemukan oleh warga bernama Sapar saat hendak pergi ke ladang di Suayan Randah.
Kemudian, warga tersebut melihat jasad korban bernama Ari Purnomo sudah tergantung di batang pohon.
Baca juga: Seorang Pria di Akabiluru Limapuluh Kota Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon
"Tadi pagi kurang lebih pukul 09.00 WIB, warga bernama Sapar ingin ke ladang, terus menemukan korban sudah tergantung di pohon," bebernya.
Setelah itu, jasad korban dievakuasi oleh warga ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah duka.
Atas meninggalnya korban, pihak keluarga sudah membuat surat pernyataan dan tidak dilakukan proses otopsi.
"Pihak keluarga sudah menerima kematian korban, tadi sudah dibuat surat dan diberikan ke kepolisian," jelasnya.
Saat ini, korban belum disemayamkan lantaran masih menunggu pihak keluarga yang berada di rantau pulang ke rumah.
"Belum disemayamkan, kemungkinan besok pagi, karena masih menunggu tujuh orang keluarganya dari rantau," sebutnya.
Baca juga: Lewat Pelatihan Teknisi AC di Padang, Harapan Baru Mantan Napiter untuk Reintegrasi Sosial
Penemuan ini beredar di media sosial Instagram @payakumbuhkini dan sudah diposting selama tiga jam lalu, saat dikutip TribunPadang.com pukul 17.58 WIB.
Video tersebut menampilkan warga secara beramai-ramai mengevakuasi jasad pria tersebut menggunakan tandu sederhana dari sebilah kayu.
Jasad pria itu digotong menggunakan kain sarung berwarna kuning, dan warga terlihat mengevakuasi ke dalam ambulans.
Sementara warga lainnya tampan ramai menyaksikan proses evakuasi jasad pria tersebut.
Baca juga: Lewat Pelatihan Teknisi AC di Padang, Harapan Baru Mantan Napiter untuk Reintegrasi Sosial
Selain itu, pihak kepolisian juga datang di lokasi. Sedangkan beberapa warga lainnya juga merekam proses evakuasi.
Camat Akabiluru, Yalbaku Javino membenarkan terkait penemuan jasad pria yang tergantung pada sebuah pohon di Suayan Randah tersebut.
"Benar, kita dapat informasinya memang ada penemuan mayat pria tergantung di Suayan Randah," kata Javino saat dikonfirmasi TribunPadang.com.
Ia menjelaskan, mayat itu ditemukan oleh warga dan sudah dievakuasi. Akan tetapi, untuk informasi lebih lengkapnya ia mengaku belum mengetahuinya.
"Saya baru dapat informasi penemuannya memang hari ini, tidak tahu pukul berapa," ujarnya.
Baca juga: Gerebek Lokasi Tambang Emas Ilegal di Supayang, Polres Solok Bakar Pondok Milik Pelaku
Sedangkan untuk kronologi kejadian, Javino juga belum mendapatkan informasi pastinya.
Hanya saja, pria yang ditemukan tewas tergantung di pohon itu merupakan warga sekitar, namun kartu tanda penduduk (KTP) korban masih terdata di Jakarta.
"Korban warga setempat, tapi KTP miliknya masih terdata di Jakarta. Dia baru pulang dari rantau, tetapi berapa lama di rumah saya tidak tahu pasti," tambahnya.(*)
Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali mengalami erupsi pada Selasa (2/6/2026) malam sekitar pukul 19.56 WIB.
Meski terekam di seismogram dengan durasi sekitar 2 menit 40 detik, ketinggian kolom abu erupsi kali ini tidak dapat teramati karena puncak gunung tertutup kabut tebal.
Ketua Pos PGA Bukittinggi, Ahmad Rifandi mengatakan bahwa erupsi Gunung Marapi tersebut tepatnya terjadi sekitar pukul 19.56 WIB.
"Telah terjadi erupsi Gunung Marapi, Sumatera Barat pada pukul 19.56 WIB," ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Ahmad Rifandi menjelaskan, untuk ketinggian kolom abu dari erupsi Gunung Marapi Sumbar kali ini tidak teramati lantaran tertutup kabut.
Namun kata dia, erupsi Gunung Marapi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 4.1 mm.
"Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 4.1 mm dan durasi kurang lebih 2 menit 40 detik," tutupnya.
Baca juga: Hendak ke Ladang, Warga Akabiluru Limapuluh Kota Kaget Temukan Mayat Tergantung di Pohon
Saat ini Gunung Marapi berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunung Marapi dan pendaki atau pengunjung dan wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas (Kawah Verbeek).
Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah atau bantaran dan aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi agar tetap mewaspadai potensi atau ancaman bahaya lahar atau banjir lahar yang dapat terjadi terutama di saat musim hujan.
Jika terjadi hujan abu maka masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernapasan (ISPA).
Seluruh pihak agar menjaga suasana yang kondusif di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax), dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah.
Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung atau dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi di Jl. Prof. Hazairin No.168 Bukittinggi untuk mendapatkan informasi langsung tentang aktivitas Gunung Marapi.
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi mencatat 6 letusan Gunung Marapi sepanjang Mei 2026.
Sementara sepanjang 2026 terjadi 47 kali letusan Gunung Marapi yang pernah tercatat, mengutip magma.esdm.go.id.
Saat ini Gunung Marapi berada pada Status Level II (Waspada) dan masih erupsi serta mengeluarkan hembusan.
"Total 6 kali erupsi selama bulan Mei 2026 ini," kata Ketua Pos PGA Bukittinggi, Ahmad Rifandi saat memberikan keterangan, Sabtu (30/5/2036).
Baca juga: Abu Erupsi Gunung Marapi Sabtu Pagi Mengarah ke Tanah Datar
Dari 6 kali letusan selama Mei 2026, lanjut Ahmad Rifandi, erupsi dengan kolom abu tertinggi terpantau terjadi Sabtu (30/5/2026) pagi tadi.
Ketinggian kolom abu dari erupsi ini tercatat 2.000 meter di atas puncak atau kurang lebih 4.891 di atas permukaan laut.
Kolom abu dari erupsi ini juga teramati berwarna kelabu, dengan intensitas sedang condong ke arah Timur Laut atau Tanah Datar.
"Ini erupsi tertinggi di bulan Mei 2026. Erupsi ini juga terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi sementara ini ±1 menit 25 detik," katanya.
Gunung Marapi terletak dalam kawasan administrasi Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.
Memiliki ketinggian 2.891 mdpl, gunung ini dapat dilihat jelas dari Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang.
Saat cuaca cerah, Gunung Marapi bahkan akan terlihat jelas bila sedang berada di Pasar Atas, Kota Bukittinggi.
Tekanan inflasi di Provinsi Sumatra Barat kembali menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pada pertengahan kuartal kedua tahun ini.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat pada Selasa (2/6/2026), wilayah ini mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,90 persen sepanjang Mei 2026.
Lonjakan tersebut mengonfirmasi adanya dinamika fluktuasi harga yang cukup tinggi di tingkat konsumen, terutama dipicu oleh kelompok pangan bergejolak serta komoditas logam mulia.
Pemaparan data yang disiarkan secara langsung melalui kanal digital tersebut memperlihatkan potret makroekonomi terkini terkait tingkat kesejahteraan riil masyarakat, indeks harga, pariwisata, hingga dinamika ekspor-impor di wilayah Sumatra Barat.
Baca juga: Ketua DPRD Sumbar Jagokan Timnas Portugal di Piala Dunia 2026, Singgung Efek Cristiano Ronaldo
Nurul Hasanudin menjelaskan bahwa tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) atau akumulasi perubahan harga sejak Desember 2025 hingga Mei 2026 telah mencapai angka 0,47 persen.
Namun, yang menjadi perhatian serius adalah laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Mei 2026 terhadap Mei 2025 yang menembus angka 3,91 persen.
Angka tahunan ini berada di batas atas target sasaran inflasi nasional, yang menandakan beban pengeluaran rumah tangga di ranah Minang mengalami eskalasi yang cukup tebal dalam setahun terakhir.
Jika dibedah berdasarkan pengeluaran sektoral secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih memegang andil paling dominan terhadap pembentukan inflasi di Sumatra Barat.
Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,73 persen dengan menyumbang andil inflasi (share) sebesar 0,58 persen.
Baca juga: BPS Sumbar Catat Inflasi Tahunan Sumatera Barat Tembus 3,91 Persen per Mei 2026
Di samping itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga ikut mengerek indeks dengan inflasi sebesar 1,57 persen dan andil sebesar 0,17 persen terhadap total inflasi.
“Secara lebih rinci, komoditas utama yang menjadi motor penggerak utama laju inflasi bulanan di Sumatra Barat pada Mei 2026 adalah cabai merah. Berdasarkan pantauan statistik penyeimbangan harga di pasar, cabai merah mengalami lonjakan harga sebesar 26,03 persen secara bulanan dan memberikan andil inflasi tersendiri sebesar 0,40 persen,”jelasnya.
Selain cabai merah, komoditas bumbu-bumbuan lain seperti bawang merah juga naik 6,93 persen dengan andil 0,06 persen, disusul oleh nasi dengan lauk (naik 1,86 persen; andil 0,05 persen), minyak goreng (naik 2,49 persen; andil 0,04 persen), serta tarif angkutan udara yang merangkak naik sebesar 5,37 persen dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen.
Sebaliknya, tekanan inflasi bulanan di Sumatra Barat sedikit tertahan oleh adanya deflasi pada sejumlah komoditas pangan pokok lainnya. Daging ayam ras, misalnya, mencatatkan penurunan harga sebesar 8,86 persen dengan andil deflasi sebesar 0,13 persen.
“Komoditas lain yang ikut mengalami penurunan harga secara bulanan antara lain jengkol yang turun signifikan sebesar 12,27 persen, telur ayam ras minus 3,10 persen, kentang minus 5,95 persen, serta komoditas emas perhiasan yang mengalami koreksi teknis bulanan sebesar 2,65 persen,”kata Nurul.
Baca juga: Polres Agam Tangkap Bandar Sabu di Lubuk Basung, Polisi Sita Lima Paket Siap Edar
Kendati emas perhiasan mengalami deflasi tipis dalam basis bulanan (m-to-m), komoditas logam mulia ini justru menjadi pemicu utama meroketnya angka inflasi Sumatra Barat dalam basis tahunan (y-on-y).
Data BPS menunjukkan bahwa dalam rentang waktu satu tahun terakhir, harga emas perhiasan di Sumatra Barat telah melonjak drastis sebesar 37,81 persen dan memberikan andil inflasi tahunan terbesar, yaitu mencapai 0,51 persen.
Tingginya ketidakpastian ekonomi global ditengarai membuat nilai komoditas pelindung nilai (safe haven) ini terus merangkak naik tajam di tingkat lokal.
Selain emas perhiasan, komoditas pangan strategis yang mencatatkan andil inflasi tahunan (y-on-y) yang signifikan adalah beras, dengan kenaikan sebesar 5,75 persen dan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen.
Diikuti kemudian oleh cabai merah yang dalam basis tahunan masih menyisakan kenaikan 12,99 persen (andil 0,23 persen), sigaret kretek mesin atau SKM meningkat 5,17 persen (andil 0,14 persen), serta minyak goreng yang secara tahunan naik 9,46 persen dengan andil 0,04 persen.
Baca juga: Jenazah Terseret 19 Km, Tim SAR Temukan Guru Hanyut di Sungai Batang Sangir Solok Selatan
Analisis spasial per wilayah di dalam Provinsi Sumatra Barat menunjukkan adanya ketimpangan serapan pasokan dan dinamika pembentukan harga antar-kabupaten dan kota.
Berdasarkan indikator bulanan (m-to-m), Kabupaten Pasaman Barat tercatat mengalami lonjakan inflasi bulanan tertinggi di Sumatra Barat, yakni mencapai 1,03 persen. Sebaliknya, tingkat inflasi bulanan terendah berada di Kota Bukittinggi yang mampu meredam gejolak harga sehingga hanya berada di angka 0,44 persen.
Sementara itu, jika ditinjau dari laju akumulasi inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d), Kabupaten Dharmasraya menempati posisi teratas dengan angka inflasi mencapai 1,95 persen.
Menariknya, dalam indikator tahun kalender ini, Kabupaten Pasaman Barat justru menjadi satu-satunya daerah di Sumatra Barat yang berhasil mencatatkan deflasi secara kumulatif sejak awal tahun, yakni sebesar 1,03 persen.
Penurunan kumulatif ini memperlihatkan adanya normalisasi harga yang cukup struktural di daerah sentra produksi pangan tersebut setelah melewati fase panen.
Baca juga: Pemkab Dharmasraya Gelar Tiga Event Besar Akhir Pekan Ini, Catat Jadwal Lengkapnya
Namun, peta tekanan ekonomi kembali bergeser apabila indikator yang digunakan adalah inflasi tahunan (y-on-y).
Kabupaten Dharmasraya kembali memperlihatkan kerentanan ekonomi wilayah yang cukup tinggi dengan mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di Sumatra Barat, yaitu menyentuh angka 5,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertengger di level 114,84.
Posisi inflasi tahunan yang relatif lebih terkendali di tingkat provinsi dipegang oleh Kota Padang, yang mencatatkan laju inflasi tahunan terendah sebesar 3,52 persen.
Kondisi tingginya inflasi tahunan di Kabupaten Dharmasraya ini memerlukan perhatian ekstra dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Pola distribusi logistik yang panjang serta ketergantungan pasokan komoditas pangan dari luar daerah dituding menjadi faktor utama yang membuat stabilitas harga di wilayah timur Sumatra Barat tersebut cenderung bergejolak dibanding wilayah pesisir seperti Kota Padang.
Baca juga: Pemkab Solok Selatan Tolak Isu Tiga Nagari Gabung Dharmasraya, Sekda Ingatkan Ikuti Aturan
Secara makro, potret ringkas dari struktur inflasi Sumatra Barat per Mei 2026 menegaskan bahwa kelompok pengeluaran inti terutama makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil tahunan secara agregat sebesar 2,06 persen dari total inflasi 3,91 persen yang terjadi.
Struktur ini memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat Sumatra Barat saat ini sangat sensitif terhadap perubahan harga di sektor meja makan. Ketika komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang mengalami gagal panen atau gangguan distribusi, dampaknya langsung memukul konsumsi domestik.
Menyikapi perkembangan data statistik ini, pemerintah daerah bersama TPID Sumatra Barat dihadapkan pada tantangan nyata untuk memperkuat rantai pasokan pangan intra-wilayah. (*)