UT Serang Gelar Workshop P5 Terintegrasi MBG, Guru PAUD Banten Belajar Merancang Masa Depan
Ahmad Tajudin June 03, 2026 01:02 PM

TRIBUNBANTEN.COM - Universitas Terbuka (UT) Serang melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menyelenggarakan “Workshop Pendampingan Pembuatan Modul Ajar P5 Terintegrasi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)” di Aula TK Global Indonesia School di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Senin (25/5/2026).

Para guru yang hadir bukan sekadar menjadi peserta, mereka adalah mitra, perancang, dan ujung tombak pelaksana yang sesungguhnya dari program nasional.

Sebanyak 30 guru PAUD dari berbagai sekolah di bawah naungan Kelompok Kerja Guru (PKG) Kolase Kecamatan Kramatwatu hadir memadati ruangan, membawa semangat untuk belajar, berbagi, dan berkarya.

Sejak pagi, suasana terasa hidup. Saat registrasi dibuka pukul 07.30, para guru berdatangan dengan wajah antusias, saling menyapa dan bertukar cerita.

Energi positif itu mengalir hingga akhir acara saat mereka mempresentasikan modul yang berhasil mereka rancang sendiri, sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menginspirasi.

Kegiatan dirangkai dengan prosesi pembukaan formal, penandatanganan Nota Kesepakatan antara Tim PkM UT Serang dan perwakilan PKG Kolase, dilanjutkan dengan serangkaian sesi materi, workshop intensif, dan presentasi hasil kerja kelompok.

Kegiatan dibuka dan dipandu oleh Yus Alvar Saabighoot, M.Pd, Ketua Tim PkM sekaligus penanggung jawab keseluruhan program. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan latar belakang lahirnya kegiatan ini: sebuah keprihatinan sekaligus harapan besar terhadap kualitas gizi dan pendidikan karakter anak-anak PAUD di wilayah Banten.

Yus Alvar mengajak seluruh peserta untuk memandang workshop ini bukan sebagai kewajiban hadir, melainkan sebagai kesempatan untuk naik kelas sebagai pendidik, dari guru yang mengajarkan anak makan, menjadi guru yang mengajarkan anak mencintai makanannya, mencintai budayanya, dan mencintai dirinya sendiri.

Dalam sesi materinya mengenai Pangan Lokal sebagai Media Pembelajaran, Yus Alvar memaparkan bagaimana kekayaan pangan lokal Banten, ikan bandeng, daun kelor, talas beneng, dapat menjadi pintu masuk pembelajaran yang autentik, kontekstual, dan penuh makna bagi anak usia dini.

“Pangan lokal bukan sekadar bahan makanan. Ia adalah cerita leluhur, kebanggaan daerah, dan identitas yang harus kita wariskan kepada anak-anak kita sejak usia paling dini. Ketika guru mengajarkan ‘Isi Piringku’ melalui ikan bandeng atau daun kelor, ia sedang mengajarkan anak untuk menghargai tanah kelahirannya sendiri. Itulah P5 yang sesungguhnya.” Ujarnya dalam pembukaan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Hj. Eha Julaeha, M.Pd, mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Serang.

Dengan nada hangat dan penuh apresiatif, beliau menyambut antusias tema yang diangkat dalam workshop ini. Menurutnya, integrasi MBG ke dalam pembelajaran P5 adalah gagasan yang tidak hanya baik secara akademis, tetapi juga sangat relevan dengan kebutuhan nyata anak-anak di lapangan.

Hj. Eha menekankan pentingnya penerapan ilmu yang didapat oleh para guru langsung di kelas masing-masing. Baginya, workshop ini akan memiliki dampak paling besar bukan dari jumlah pesertanya, melainkan dari sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu mengubah cara guru memandang aktivitas makan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak.

“Tema yang diangkat pada hari ini sangat baik dan bermanfaat. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat segera diterapkan di kelas masing-masing, agar anak-anak kita tumbuh dengan kecintaan terhadap makanan khas kita sendiri, makanan yang sehat, bergizi, dan berakar pada budaya kita.” Ungkapnya.

Baca juga: BREAKING NEWS! Kejagung Geledah Kantor BGN Hari Ini, Pasca Presiden Mengganti Tiga Pejabat Kemarin

Sambutan kedua sekaligus momen bersejarah dihadirkan oleh Indriyani, FM, M.Pd, Ketua PKG Kolase Kecamatan Kramatwatu. Ia tampil mewakili seluruh guru PAUD peserta workshop, menyuarakan rasa syukur, harapan, dan komitmen komunitas guru terhadap program pendampingan yang dinilai sangat menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.

Indriyani menyoroti sifat ilmu yang disampaikan dalam workshop ini: praktis, langsung dapat dipraktikkan, dan mudah disesuaikan dengan kondisi PAUD masing-masing peserta. Ia mendorong seluruh rekan guru untuk tidak hanya menyimpan ilmu ini untuk diri sendiri, tetapi juga menyebarluaskannya kepada rekan-rekan di PAUD lain yang belum berkesempatan hadir.

Penandatanganan Nota Kesepakatan antara Tim PkM UT Serang dan PKG Kolase yang ia wakili pun menjadi penanda dimulainya kolaborasi formal yang diharapkan terus tumbuh dan menghasilkan dampak nyata bagi anak-anak Kramatwatu.

“Semoga ilmu yang kita dapatkan hari ini benar-benar bermanfaat bagi anak-anak didik kita. Ilmu ini praktis dan dapat langsung dipraktikkan di PAUD masing-masing — jangan hanya disimpan, tapi disebarkan, didiseminasikan, karena manfaatnya sangat besar bagi perkembangan anak usia dini kita.” tekannya.

Sesi materi dibuka oleh Dr. Mutoharoh, M.Pd tampil membawakan dua sesi beruntun: “Integrasi MBG dalam P5” dan “Bedah Contoh Modul Ajar MBG-P5”.

Interaksi antara narasumber dan peserta terasa hidup, banyak guru yang spontan mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman di kelas, dan bersemangat mencatat setiap poin yang disampaikan.

Dr. Mutoharoh memandu peserta memahami bagaimana program nasional MBG dapat dijalin secara organik ke dalam enam dimensi Profil Pelajar Pancasila. Sesi bedah modul menjadi klimaks pagi hari. Para guru diajak menelaah contoh modul ajar MBG-P5 secara langsung, dari tujuan pembelajaran hingga asesmen formatif.

“P5 memberikan keleluasaan luar biasa bagi guru untuk berkreasi. MBG adalah konteks yang kaya: ada gotong royong saat anak makan bersama, ada Bhinneka Tunggal Ika saat mengenal pangan dari berbagai daerah, ada akhlak mulia saat mengucap syukur sebelum makan. Guru tinggal merangkai kisah itu dengan cermat dalam sebuah modul.” Ujarnya.

Antusiasme peserta semakin terasa saat Ati Rastiani, S.Gz, Ahli Gizi dari Dapur MBG, yang membawakan Materi 1 bertajuk “Filosofi MBG dan Urgensi Gizi Anak”. Paparan Ati langsung menyentuh perhatian peserta sejak awal — ia mengurai mengapa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan distribusi pangan, melainkan sebuah gerakan pendidikan gizi untuk membangun generasi sehat dari usia paling dini.

Para guru terlihat antusias menyimak setiap data dan ilustrasi yang disampaikan. Banyak yang mengangguk ketika Ati menyebutkan fenomena picky eater dan tingginya sisa makanan di sekolah sebagai tantangan nyata yang mereka hadapi sehari-hari.

Konsep food literacy sejak dini yang ia tawarkan pun disambut sebagai solusi yang masuk akal dan langsung bisa diaplikasikan.

“Anak yang tumbuh dengan gizi seimbang bukan hanya sehat fisiknya. Ia juga lebih siap belajar, lebih stabil emosinya, dan lebih mudah tumbuh menjadi individu berkarakter. MBG bukan program makan gratis biasa; ini adalah investasi peradaban yang kita tanamkan satu piring demi satu piring.” Katanya.

Memasuki sesi siang setelah ISHOMA, para guru kembali ke ruangan dengan semangat yang tidak surut.

Sesi dipandu oleh Mohamad Arif Rahmansyah, M.Pd. yang mengambil peran sebagai fasilitator sekaligus pendamping utama workshop.

Kegiatan diawali dengan pembagian kelompok berdasarkan tema sekolah masing-masing melalui metode yang cair dan menyenangkan, sehingga suasana ruangan segera berubah menjadi lebih dinamis dan interaktif.

Guru-guru yang sebelumnya menyimak materi kini aktif bergerak, berdiskusi dalam kelompok, dan mulai menuangkan berbagai ide kreatif ke dalam draft modul yang sedang disusun.

Tawa, pertukaran gagasan, dan diskusi produktif terdengar di setiap sudut ruangan, mencerminkan antusiasme peserta dalam mengikuti proses pembelajaran kolaboratif. Suasana yang hangat dan suportif membuat para guru merasa nyaman untuk bereksplorasi dan mengembangkan ide-ide terbaik mereka.

Puncak kegiatan sesi siang ini adalah workshop inti penyusunan modul ajar guru dan modul aktivitas siswa yang didampingi langsung oleh M. Arif Rahmansyah, M.Pd. dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UT Serang.

Selama lebih dari satu jam, Arif bersama tim melakukan pendampingan secara intensif dengan pendekatan coaching, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya untuk memberikan arahan, masukan, solusi atas berbagai kendala, sekaligus memotivasi peserta agar dapat menyelesaikan modul yang disusun.

Gairah dan semangat para peserta terasa sangat nyata sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak guru mengungkapkan bahwa ini merupakan pengalaman pertama mereka menyusun modul ajar secara sistematis dan terstruktur.

Namun, berkat pendampingan yang intensif serta suasana belajar yang kolaboratif, setiap kelompok berhasil menghasilkan draft modul yang siap dipresentasikan. 

Sesi presentasi hasil kerja kelompok pun berlangsung meriah, diwarnai dengan tepuk tangan, apresiasi, serta saling berbagi inspirasi antarpeserta, menandai keberhasilan workshop dalam meningkatkan kapasitas guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang kontekstual dan inovatif.

“Yang paling membahagiakan bagi saya adalah melihat guru-guru ini bersemangat. Mereka datang sebagai peserta, tetapi pulang sebagai pencipta, membawa draft modul yang mereka rancang sendiri, yang akan hidup di ruang kelas mereka sendiri. Itulah makna sejati dari pendampingan.” Ucapnya.

Salah satu momen paling berkesan dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Nota Kesepakatan antara Tim PkM UT Serang dan Ketua PKG Kolase Kecamatan Kramatwatu.

Momen ini disaksikan oleh perwakilan Dinas Pendidikan, tamu undangan, dan seluruh peserta workshop, diakhiri dengan sesi foto bersama yang hangat dan penuh keakraban.

Nota ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah simbol komitmen bersama antara dunia akademik dan komunitas guru PAUD untuk terus bergerak berdampingan — memastikan bahwa ilmu tidak berhenti di ruang seminar, tetapi mengalir masuk ke dalam ruang-ruang kelas kecil tempat generasi bangsa dibentuk.

Pada akhir sesi, para peserta mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka - berupa draft Modul Ajar Guru dan Draft Modul Aktivitas Siswa yang telah mengintegrasikan tema MBG ke dalam kerangka P5. 

Tepuk tangan riuh mewarnai setiap presentasi, mencerminkan kebanggaan bersama atas hasil yang berhasil dicapai dalam satu hari penuh.

Seluruh peserta juga menerima sertifikat pelatihan sebagai pengakuan atas partisipasi aktif mereka. Modul-modul yang dihasilkan akan dikompilasi, disempurnakan, dan diproyeksikan untuk didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bagian dari luaran akademik Program PkM Universitas Terbuka.

Workshop ini membuktikan bahwa perubahan pendidikan yang sejati tidak selalu datang dari kebijakan besar di atas - ia bisa tumbuh dari kolaborasi hangat antara dosen, guru, dan komunitas yang duduk bersama, merancang masa depan anak bangsa satu lembar modul demi satu lembar modul.

Di tangan para guru PAUD Kramatwatu yang penuh semangat ini, Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar sepiring nasi. Ia adalah kanvas tempat nilai-nilai Pancasila dilukiskan dengan tangan kecil anak-anak, warna budaya lokal, dan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.