BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Meski status kebencanaan di Kabupaten Tanahlaut (Tala) masih siaga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mulai memperkuat pemantauan perkembangan cuaca menyusul indikasi kemarau ekstrem yang diperkirakan terjadi dalam waktu dekat.
Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dan menunggu rilis terbaru dari BMKG Kalimantan Selatan terkait perkembangan musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Menurut Aspi, tanda-tanda musim kemarau sudah mulai terasa belakangan ini. "Kalau kita lihat sekarang, angin sudah mulai kering dan malam hari langit relatif cerah terus. Kami terus melakukan pemantauan sambil menunggu informasi terbaru dari BMKG terkait perkembangan cuaca," ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Meski demikian, hingga saat ini BPBD Tala belum melakukan mobilisasi personel maupun armada ke wilayah rawan karena status penanganan masih berada pada tahap siaga.
Aspi menjelaskan, kesiapsiagaan tetap dilakukan melalui personel yang berjaga di Posko Induk di kantor BPBD Tala di Jalan A Syairani, Pelaihari.
Sedikitnya satu regu yang beranggotakan enam personel disiagakan setiap hari untuk memantau perkembangan situasi di lapangan.
"Mereka setiap hari standby di posko induk. Tugasnya melakukan pencermatan perkembangan kondisi di lapangan. Kalau memang diperlukan langkah lanjutan, personel siap bergerak," katanya.
Selain personel, berbagai armada dan peralatan pendukung penanganan kebakaran juga terus dicek dan disiapkan agar sewaktu-waktu dapat langsung dioperasikan.
"Kami tidak ingin ketika dibutuhkan justru ada kendala. Karena itu perlengkapan dan armada selalu dalam kondisi siap pakai," tambahnya.
Baca juga: Siswa dan Guru Terpukul Pasca MTs Muhammadiyah 1 Banjarmasin Terbakar, Pakai Masjid untuk Belajar
BPBD Tala masih menempatkan Kecamatan Tambangulang, Batibati, dan Kurau sebagai wilayah prioritas pengawasan selama musim kemarau.
Ketiga wilayah tersebut hampir setiap tahun masuk daerah dengan risiko kebakaran lahan cukup tinggi.
Aspi mengatakan, apabila kondisi cuaca makin ekstrem dan status penanganan dinaikkan menjadi tanggap darurat, maka BPBD akan membuka posko lapangan di tiga kecamatan tersebut.
Khusus Kecamatan Tambangulang, Desa Sungaipinang diproyeksikan menjadi lokasi posko utama karena selama ini kerap menjadi titik awal munculnya kebakaran lahan.
"Selama beberapa tahun terakhir, berdasarkan pencermatan kami, kebakaran bondong sering bermula dari kawasan Sungaipinang. Kemudian api meluas ke wilayah Gunungraja hingga merambat ke arah Kecamatan Batibati," jelasnya.
Sebagai informasi, wilayah Tambangulang dan Batibati selama ini dikenal sebagai kawasan yang memiliki hamparan lahan tidur sangat luas yang ditumbuhi bondong atau gulma kering.
Saat kemarau panjang, hamparan vegetasi tersebut sangat mudah terbakar dan api dapat menjalar cepat karena luasnya area yang terdampak.
Tak hanya menyebabkan kerusakan lahan, kebakaran bondong juga kerap memunculkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Jarak pandang pengguna jalan menurun, sementara warga di sekitar lokasi terdampak sering mengeluhkan gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kalangan warga Kecamatan Tambangulang berharap kesiapsiagaan yang dilakukan BPBD tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga langkah pencegahan sebelum kebakaran meluas.
Pasalnya apabila telah terbakar, biasanya cepat meluas karena hamparan bondong sangat banyak. Karena itu pemantauan diharapkan lebih intensif sehingga titik api bisa diketahui sejak awal.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)