Di tengah pertumbuhan positif sektor pariwisata nasional, Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk mengejar negara-negara pesaing di kawasan Asia dalam menarik wisatawan mancanegara (wisman).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026 mencatat kunjungan wisman ke Indonesia selama Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan, atau tumbuh 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan capaian tersebut menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian global. "Kita mengalami situasi geopolitik yang cukup dinamis. Kami bersyukur pariwisata Indonesia tetap menunjukkan resiliensi," ujar Widiyanti dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, sejak Februari 2026 kondisi geopolitik global mulai memanas dan menimbulkan berbagai keraguan di sektor perjalanan dan pariwisata. Namun Indonesia tetap mampu mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan asing.
"Pada periode Januari-April kita melihat ada pertumbuhan kunjungan sebesar 8,24 persen. Bahkan pada Maret-April pertumbuhannya mencapai 8,72 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," katanya.
Pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2026 mencapai 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan.
Selain dari sisi jumlah wisatawan, kualitas kunjungan juga menunjukkan perbaikan. Rata-rata pengeluaran wisatawan asing saat berkunjung ke Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai US$1.346 per kunjungan, meningkat 5,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi USD 1.372 hingga USD 1.404 pada tahun ini.
Sementara itu, devisa sektor pariwisata pada kuartal I 2026 tercatat mencapai USD 4,05 miliar atau sekitar Rp 68,28 triliun, naik 6,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional juga terus meningkat. Pemerintah menargetkan kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 4,6 hingga 4,7 persen, dari realisasi saat ini sekitar 4,01 hingga 5 persen.
Di sektor ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja yang terserap di industri pariwisata pada 2025 mencapai 25,91 juta orang, meningkat 3,64 persen dibandingkan 2024.
Widiyanti mengakui sektor pariwisata sempat terdampak oleh gangguan penerbangan internasional akibat situasi global. Pada periode terdampak, tercatat 1.232 penerbangan dibatalkan yang menyebabkan potensi kehilangan sekitar 127.376 perjalanan wisata. Hingga 27 Mei 2026, jumlah pembatalan penerbangan bahkan mencapai 1.444 penerbangan, dengan sekitar 160.052 perjalanan wisata tidak terealisasi.
"Namun kondisi ini tidak mengherankan mengingat adanya penutupan sejumlah jalur penerbangan internasional akibat situasi geopolitik," ujarnya.
Meski demikian, Indonesia dinilai tetap menjadi destinasi pilihan wisatawan di tengah ketidakpastian global. Hal itu tercermin dari meningkatnya lama tinggal wisatawan asing sebesar 8,53 persen serta kenaikan rata-rata pengeluaran selama berada di Indonesia.
Pemerintah juga terus mendorong pembukaan rute-rute penerbangan baru dan peningkatan kapasitas kursi dari pasar utama seperti Australia dan China guna mendukung pencapaian target kunjungan wisatawan tahun ini.
DPR Soroti Ketertinggalan Indonesia
Meski menunjukkan tren pertumbuhan positif, Anggota Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara pesaing di kawasan.
"Posisi Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Jepang sudah lebih dari 14 juta wisatawan, Thailand sekitar 11 juta wisatawan, Vietnam hampir 9 juta wisatawan, sementara Indonesia baru sekitar 4,68 juta wisatawan," ujar Evita.
Menurutnya, Vietnam menjadi negara yang perlu mendapat perhatian khusus karena dalam beberapa tahun terakhir berhasil melesat jauh meninggalkan Indonesia.
"Beberapa tahun lalu posisi kita dengan Vietnam masih sejajar. Hari ini Vietnam melesat cukup jauh meninggalkan kita," katanya.
Evita menilai promosi destinasi wisata Vietnam seperti Phu Quoc dan Da Nang dilakukan secara sangat agresif, termasuk di pasar Indonesia melalui berbagai paket wisata berharga kompetitif.
Karena itu, ia meminta pemerintah mengevaluasi berbagai hambatan yang membuat Indonesia belum mampu tumbuh secepat negara-negara pesaing.
"Kita harus bertanya apa yang menjadi hambatan utama sehingga Indonesia belum mampu berlari secepat negara-negara tersebut. Apakah konektivitas, visa, investasi, promosi, atau memang koordinasi lintas sektor yang belum optimal," ujarnya.
Evita juga menyoroti masih adanya kendala investasi di sektor pariwisata, termasuk persoalan koordinasi dengan sejumlah instansi. "Saya melihat masih ada hambatan investasi. Bahkan komunikasi dengan Perhutani di beberapa lokasi masih menjadi tantangan bagi investor yang ingin mengembangkan destinasi wisata," katanya.
Ia menegaskan pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara sektoral dan harus menjadi program strategis nasional yang melibatkan banyak kementerian dan lembaga.
"Kalau kita bicara pengembangan destinasi wisata, tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata. Ini harus menjadi program strategis nasional karena keterkaitannya sangat banyak dengan kementerian dan lembaga lain," tegas Evita.
Data perkembangan pariwisata RI April 2026 Foto: Badan Pusat Statistik
|






