TRIBUNGORONTALO.COM – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh aksi saling balas argumen antara Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait tingginya frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Kritik awalnya dilayangkan oleh Dino Patti Djalal melalui akun media sosial pribadinya pada Sabtu (30/5/2026), yang menyoroti data statistik perjalanan sang Presiden.
Dino memaparkan bahwa sejak dilantik pada 20 Oktober 2024 hingga akhir Mei 2026, Presiden Prabowo tercatat sudah melakukan 49 kali kunjungan ke 28 negara, yang berarti satu dari setiap enam hari masa jabatannya dihabiskan di luar negeri dengan akumulasi mencapai 95 hari.
Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu menilai frekuensi tersebut terlalu tinggi dan memakan anggaran negara yang sangat besar, mulai dari biaya pesawat, logistik, pengamanan, hingga uang harian delegasi yang bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Sebagai solusi efisiensi, Dino menyarankan agar diplomasi bilateral lebih banyak memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call atau Zoom, serta mendelegasikan sebagian tugas kepada Menteri Luar Negeri Sugiono.
Menanggapi kritik tajam tersebut, Seskab Teddy Indra Wijaya langsung pasang badan dan memaparkan data tandingan mengenai capaian konkret dari rangkaian lawatan luar negeri Presiden Prabowo.
Teddy menegaskan bahwa berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), diplomasi aktif yang dijalankan kepala negara selama 1,5 tahun terakhir justru berhasil membawa masuk komitmen investasi sebesar Rp2.430 triliun, termasuk investasi senilai Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan.
Namun, ketegangan justru merembet ke ranah personal setelah Teddy menyentil masa jabatan Dino saat masih aktif di pemerintahan masa lalu.
"Saya pikir beliau adalah Diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," ujar Teddy dalam klarifikasinya.
Sindiran balik mengenai "jabatan tiga bulan" tersebut sontak memicu polemik luas dan memantik rasa penasaran publik mengenai latar belakang kedua tokoh ini. Netizen kini ramai-ramai membandingkan rekam jejak karier militer moncer milik Letkol Teddy dengan rekam jejak diplomatik senior yang melekat pada diri Dino Patti Djalal.
Berikut adalah perbandingan rincian perjalanan karier mentereng antara Dino Patti Djalal dan Seskab Teddy Indra Wijaya yang berhasil dihimpun:
Dino Patti Djalal merupakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus tokoh yang menyandang gelar kehormatan sebagai Bapak Diaspora Indonesia. Dunia internasional sudah menjadi bagian dari hidup Dino sejak belia.
Lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, ia melewatkan masa kecil hingga remaja dengan berpindah-pindah negara. Hal itu tidak lepas dari profesi sang ayah, Hasyim Djalal, yang merupakan salah satu diplomat legendaris Indonesia, bersama ibunya yang bernama Jurni.
Keluarga berdarah Minangkabau asal Ampek Angkek, Agam, Sumatra Barat ini membawa Dino menjelajahi berbagai belahan dunia. Berbagai kota global pernah menjadi tempat tinggalnya, mulai dari Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, hingga Vancouver.
Pendidikan dasarnya sempat ditempuh di SD Muhammadiyah sebelum berlanjut ke SMP Al-Azhar. Saat SMA, Dino pindah ke McLean, Virginia, Amerika Serikat. Setelah lulus, ia melanjutkan studi Ilmu Politik di Universitas Carleton di Ottawa, Kanada untuk gelar sarjananya. Dino kemudian meraih gelar Magister Ilmu Politik dari Universitas Simon Fraser di Vancouver hingga memperoleh gelar Doktor di bidang Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science (LSE) di Inggris.
Karier diplomatik Dino dimulai pada tahun 1987 saat bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Selama kiprahnya, ia pernah ditempatkan di pos-pos penting seperti London, Dili, dan Washington DC. Pengalamannya di dunia internasional membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada 2014.
Jika diakumulasikan, Dino tercatat memiliki rekam jejak panjang di dunia hubungan internasional. Berikut bentangan karier dan pencapaian Dino Patti Djalal:
Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia (1987).
Jadi Juru Bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Timur (1999).
Diangkat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara (2004).
Dipercaya sebagai Staf Khusus Presiden untuk Urusan Internasional (2004-2010).
Jadi duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat (2010-2013).
Menerima Bintang Jasa Utama (2010).
Menerima Bintang Mahaputra Adipradana (2014).
Memenangkan penghargaan bergengsi “Marketeer of the Year” (2013).
Bergabung dalam konvensi Partai Demokrat untuk memilih calon Presiden. Dino berkampanye sebagai calon independen dan bukan anggota Partai Demokrat (2014).
Diangkat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Juni 2014 - pertengahan 2015).
Mendirikan Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) (2015).
Menerima Penghargaan Antarbudaya untuk Inovasi dari Austria (2017).
Dino menjadi Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) (2018).
Dino bergabung dengan program talk show di Mola TV, di mana ia mewawancarai aktor Robert De Niro, sutradara Spike Lee, John Travolta, Sylvester Stallone, Richard Gere, Mel Gibson, Kurt Russell, Susan Sarandon, Ron Howard, Francis Ford Coppola, dan Dana White (2020).
Teddy Indra Wijaya lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 14 April 1989, dan merupakan putra dari pasangan Kolonel Inf. (Purn) Giyono dan Mayor Caj (K) Patris R.A. Rumbayan. Sejak kecil, Teddy sudah menunjukkan minat besar pada dunia militer.
Ia menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, salah satu sekolah unggulan di Indonesia yang banyak melahirkan calon perwira tinggi. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah dan lulus pada 2011. Teddy meraih gelar Sarjana (S1) di Universitas Jenderal Achmad Yani pada 2012, dan gelar Magister (S2) dalam Kajian Terorisme di Universitas Indonesia pada 2021.
Selain itu, Teddy sempat mengikuti pendidikan di Ranger School, Amerika Serikat (AS), salah satu program pelatihan paling bergengsi di dunia militer, khususnya untuk melahirkan prajurit US Army Ranger.
Saat berpangkat Kapten, Teddy berhasil meraih Tab Ranger, sebuah pencapaian yang menunjukkan kualifikasinya sebagai bagian dari pasukan elite Angkatan Darat AS (US Army) Ranger. Program ini diikuti oleh 412 siswa dari US Army dan 6 siswa asing, termasuk dari Indonesia.
Teddy juga menorehkan prestasi saat menempuh pendidikan di US Army Infantry School pada 2019. Di Fort Benning, ia berhasil menjadi lulusan dengan predikat International Honor Graduate, di antara 185 peserta yang terdiri dari perwira Amerika dan perwira asing. Selain itu, ia juga menerima penghargaan Commandant List Award dan Gold APFT, pencapaian fisik yang prestisius.
Pada 2014-2019, Teddy yang masih memiliki pangkat Mayor menjadi asisten ajudan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Lalu, pada 2020, ia diangkat menjadi ajudan Prabowo Subianto yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI (Menhan).
Ia setia mendampingi Prabowo selama empat tahun, termasuk selama masa kampanye Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 hingga akhirnya ditunjuk sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) dan dilantik pada 20 Oktober 2024.
Beberapa bulan setelah resmi menjadi Seskab, Teddy naik pangkat dari Mayor menjadi Letnan Kolonel (Letkol) pada 25 Februari 2025. Kenaikan pangkat tersebut didasarkan pada keputusan Panglima TNI dan Surat Perintah Nomor Sprin/674/II/2025. Adapun Teddy tidak mundur dari prajurit TNI aktif setelah ditunjuk menjadi Seskab.