TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Putusnya jembatan di Jalan Sinta, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, membuat aktivitas warga terganggu.
Jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses yang digunakan siswa, guru, dan warga menuju sekolah serta sejumlah kebun milik masyarakat.
Tak ingin aktivitas pendidikan terhenti, warga bersama personel TNI Satgas Pamtas Pos Bukit Keramat langsung bergotong royong membangun jembatan darurat agar akses kembali terbuka.
Jembatan yang putus menyebabkan siswa dan guru kesulitan menuju sekolah. Selain itu, aktivitas warga yang hendak ke kebun juga ikut terdampak.
Kepala MI Darul Furqon Sebatik Tengah, Adnan Lolo, mengaku bersyukur atas kepedulian warga dan TNI yang turun tangan membantu membangun jembatan darurat.
Baca juga: Jembatan Putus Total, Siswa di Nunukan Rela Terobos Sungai untuk Ujian, MBG Disantap di Tepi Sungai
"Alhamdulillah dan saya sangat berterima kasih kepada warga Jalan Sinta bersama anggota TNI Pamtas Bukit Keramat yang membuat jembatan darurat. Ini bukti kepedulian dan gotong royong yang luar biasa," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Rabu (3/6/2026).
Menurut Adnan Lolo, keberadaan jembatan darurat membuat akses siswa dan guru menuju sekolah kembali terbuka sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan normal.
"Dengan adanya jembatan ini, akses siswa dan guru ke sekolah jadi lebih aman dan proses belajar bisa berjalan lagi. Kami pihak sekolah sangat mengapresiasi dan mendukung penuh upaya warga," katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Nunukan segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen.
Salah seorang warga yang terlibat dalam pembangunan, H Iskandar, mengatakan pengerjaan dimulai sejak sehari sebelumnya.
Awalnya warga membuat jalur alternatif yang dapat digunakan untuk melansir hasil perkebunan kelapa sawit dan hasil pertanian. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jembatan darurat untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
"Pengerjaan sudah sejak kemarin. Untuk jembatan motor dan pejalan kaki baru hari ini dimulai," katanya kepada TribunKaltara.com melalui sambungan telepon.
Baca juga: Perjuangan Siswa Sebatik Tengah Nunukan ke Sekolah usai Jembatan Putus
Menurutnya, jembatan yang dibangun juga telah diuji coba menggunakan kendaraan roda empat tanpa muatan.
"Mobil roda empat tanpa muatan juga bisa lewat karena tadi sudah kami coba ketahanan jembatannya," ujarnya.
Pembangunan melibatkan warga, TNI Satgas Pamtas Pos Bukit Keramat, pemerintah desa, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Dana sementara berasal dari bantuan Kepala Desa Sungai Limau dan BPD untuk membeli bahan pendukung seperti bahan bakar gergaji mesin, paku, dan konsumsi pekerja.
Sementara material kayu diperoleh dari sumbangan warga dan area sekitar sungai.
Dalam proses pembangunan, warga juga menggunakan alat berat jenis Hitachi untuk mempercepat pengerjaan.
"Kita gunakan alat berat juga selama sekitar tujuh jam dan biayanya sekitar Rp3,5 juta," kata Iskandar.
Ia menambahkan warga berencana kembali melakukan urunan untuk melanjutkan penyempurnaan jalur alternatif yang masih membutuhkan hamparan tambahan.
"Besok pagi kita akan rapat lagi karena masih membutuhkan hamparan untuk jalan alternatif. Kita juga terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan," ujarnya.
Di tengah upaya warga membangun jembatan darurat, Dinas Pekerjaan Umum telah turun langsung melakukan peninjauan ke lokasi.
Berdasarkan informasi yang diterima warga, pembangunan jembatan permanen diperkirakan akan dilakukan dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan mendatang.
Kepala Desa Sungai Limau, Mardin mengatakan pihak kecamatan bersama pemerintah desa telah melakukan survei terhadap lokasi jembatan yang putus.
"Sudah survei sama Pak Camat. Sudah mulai kita bikin jembatan darurat dulu, karena menurut keterangan dari PU, dua sampai tiga bulan baru dikerjakan yang permanen," ujarnya.
Sambil menunggu pembangunan permanen, jembatan darurat hasil gotong royong warga menjadi harapan utama agar aktivitas pendidikan dan perekonomian
masyarakat tetap berjalan.
(*)
Penulis: Fatimah Majid