Baca juga: BMKG Sumsel: Waspada Kemarau Lebih Kering, Luruskan Istilah "El Nino Godzilla"
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprediksi wilayah Sumsel mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak akhir Mei hingga awal Juni 2026. Berdasarkan dinamika atmosfer terbaru, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih kering dan memiliki durasi yang lebih panjang dari biasanya.
Kepala BMKG Sumsel, Dr. Wandayantolis, menjelaskan bahwa pergeseran iklim ini dipengaruhi oleh fenomena global dan regional yang menguat.
Durasi kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang 1 hingga 5 dasarian, atau sekitar 10 hingga 50 hari lebih lama dibandingkan kondisi normal.
"Untuk wilayah Palembang dan sekitarnya, musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada awal Juni 2026. Sementara puncak musim kemarau bergeser ke bulan September 2026."
"Sebelumnya kami sempat memprediksi puncak kemarau jatuh pada Agustus, namun adanya gangguan atmosfer jangka pendek seperti gelombang Kelvin membuat puncaknya mundur ke September," ujar Wandayantolis, Rabu (3/6/2026).
Sebelum memasuki periode kering ini, sebagian besar wilayah Sumsel sebenarnya masih sempat mengalami curah hujan yang cukup di atas 50 mm.
Momentum tersebut telah dimanfaatkan pemerintah untuk melakukan Program Modifikasi Cuaca (PMC) pada pertengahan Mei lalu guna mengoptimalkan penyimpanan air di waduk, sungai, kolam retensi, serta membasahi lahan gambut.
Namun ke depan, curah hujan dipastikan menurun drastis.
Secara klimatologis, fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase aktif intensitas lemah dan diprediksi meningkat ke fase moderat pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Kondisi ini diperparah dengan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terpantau berada pada fase positif dan terus menguat hingga pertengahan tahun.
Waspada Kekeringan dan Karhutla
Menyikapi prediksi kemarau yang lebih ekstrem ini, BMKG mengingatkan pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada sejumlah sektor krusial, seperti pertanian, energi, dan lingkungan.
Pada sektor pertanian, penurunan pasokan air pada lahan tadah hujan berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengancam cadangan pangan.
Sementara di sektor energi, menyusutnya debit air ke bendungan dikhawatirkan dapat mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta pasokan air bersih bagi masyarakat.
Dampak yang paling diwaspadai adalah meningkatnya potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), terutama di kawasan lahan gambut.
Karhutla tidak hanya memicu kekeringan parah, tetapi juga berpotensi menghasilkan polusi kabut asap yang menurunkan kualitas udara, mengganggu kesehatan, serta memperpendek jarak pandang yang membahayakan transportasi darat, laut, maupun udara.
Sebagai langkah mitigasi menghadapi puncak kemarau, BMKG merekomendasikan beberapa tindakan strategis:
Baca juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Datang Lebih Awal, Waspada Karhutla