Medan (ANTARA) - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution menggandeng Rumah Sakit (RS) Mata Cicendo Bandung guna meningkatkan layanan kesehatan mata bagi masyarakat setempat.

Ia juga menandatangani nota kesepahaman tentang jejaring pengampuan mata bersama Direktur Utama Rumah Sakit Mata Cicendo Antonia Kartika.

"Kerja sama ini bagian atas upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan mata," kata Bobby usai penandatanganan nota itu di Kantor Gubernur Sumut di Medan, Rabu.

Ia mengatakan, kerja sama tersebut sejalan dengan program prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bidang kesehatan.

Setelah memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, Pemprov Sumut fokus peningkatan kualitas pelayanan kesehatan lainnya diterima masyarakat Sumut.

"Salah satu program prioritas di bidang kesehatan pertama kali kami capai bagaimana masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan, dan sudah kami coba di awal masa jabatan kami. Hari ini setelah masyarakat mendapat layanan kesehatan, kami coba meningkatkan kualitas layanannya," katanya.

Ia menjelaskan peningkatan kualitas layanan kesehatan ini melalui berbagai langkah, yakni pembenahan fasilitas kesehatan hingga penguatan kapasitas layanan rumah sakit.

Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung diresmikan pada 3 Januari 1909 memiliki nama Koningen Wilhemina Gathuis voor Ooglijders merupakan pusat mata nasional menjadi rujukan pelayanan kesehatan mata di Indonesia.

"Kami coba memperbaiki baik fasilitas kesehatan itu sendiri, seperti rumah sakit, puskesmas, RSUD. Hari ini (nota kesepahaman) bagian pengoptimalan layanan rumah sakit, khususnya rumah sakit mata dimiliki Provinsi Sumut," kata Bobby.

Direktur Utama Rumah Sakit Mata Cicendo Antonia Kartika menjelaskan program jejaring pengampuan mata ini difokuskan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dokter dan perawat mata di Sumut.

Ia mengaku rumah sakit ini telah memulai sejak beberapa waktu yang lalu memberikan tahap pertama, yaitu peningkatan pengetahuan dasar dan teori tentang mata secara virtual.

"Besok kita melakukan workshop kepada dokter mata dari 49 rumah sakit di Sumatera Utara, dan juga perawat mata. Sehari setelahnya, kita akan melakukan pendampingan operasi katarak," katanya.

Selain peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, program pengampuan ini juga diarahkan untuk menekan angka kebutaan di Indonesia hingga kini masih tergolong tinggi.

Menurutnya, prevalensi kebutaan di Indonesia sekitar tiga persen, sedangkannprogram pengampuan diharapkan mampu meningkatkan penanganan berbagai penyakit penyebab kebutaan.

"Kami melakukan pengampuan untuk menurunkan angka tersebut, terutama pada penyakit penyebab kebutaan, seperti katarak, diabetik retinopati, glukoma, dan lainnya," kata Kartika.