Donald Trump Disebut 'Ketagihan' Jalani Cek Kesehatan
GH News June 04, 2026 08:09 AM
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (79), belakangan ini menjadi sorotan karena frekuensi kunjungan medisnya yang dinilai cukup sering. Hanya dalam waktu 13 bulan, Trump tercatat sudah menjadwalkan pemeriksaan kesehatan hingga tiga kali di Rumah Sakit Walter Reed.

Fenomena 'ketagihan' cek kesehatan ini akhirnya menuai pertanyaan publik. Mengapa seseorang yang berulang kali dinyatakan dalam 'kondisi kesehatan yang sangat baik' masih terus kembali ke rumah sakit?

Dr Mehmet Oz (65), selaku Administrator Pusat Layanan Medicare and Medicaid AS, memberikan penjelasan sederhana tetapi menarik soal kebiasaan sang presiden tersebut.

"Saya pikir karena dia menyukai hasilnya," kata Dr. Oz dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip dari laporan medis terkini.

Sifat Teliti dan Selalu Ingin Pantau Angka Medis

Menurut Dr Oz, Trump adalah sosok yang sangat teliti. Presiden AS itu selalu ingin memastikan bahwa segala hal yang berkaitan dengan kondisi tubuhnya berjalan ke arah yang benar.

Setiap kali pemeriksaan dilakukan, Trump selalu berhasil melewati berbagai tes dengan hasil yang memuaskan.

"Dia benar-benar baik-baik saja. Dia lulus tes setiap hari, dan saya benar-benar percaya bahwa dia ingin memastikan semuanya berjalan ke arah yang benar," terang Dr Oz yang dikutip dari laman .

"Dia adalah orang yang sangat teliti dalam banyak hal yang sering kali kurang dihargai."

Rasa penasaran dan keinginan Trump untuk memantau indikator kesehatannya dinilai mirip, dengan kebiasaan komunikasinya sehari-hari yang perfeksionis.

"Tetapi baginya untuk ingin mengetahui semua angka dan terus memantau kondisinya, itu adalah alasan yang sama mengapa dia menelepon orang-orang di jam-jam yang tidak biasa karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia ingin menanganinya," jelas Dr Oz.

Di Balik Heboh Foto Memar Tangan-Isu 'Tertidur' saat Rapat

Kesehatan fisik Trump memang kerap memicu spekulasi, terutama setelah beberapa penampilan publiknya memperlihatkan adanya memar, riasan tebal, hingga perban untuk menutupi bercak-bercak gelap di tubuhnya.

Dokter pribadinya, Kapten Sean Barbabella, DO, menjelaskan memar Trump sebenarnya sesuai dengan iritasi jaringan lunak ringan. Kondisi ini berkaitan dengan seringnya berjabat tangan dalam konteks penggunaan aspirin untuk pencegahan kardiovaskular.

Trump sendiri secara blak-blakan mengakui bahwa ia mengonsumsi aspirin melebihi dosis anjuran dokter dengan alasan agar darahnya tetap encer. Efek samping dari pengencer darah dosis tinggi inilah yang membuat kulitnya mudah memar.

"Mereka bilang aspirin bagus untuk mengencerkan darah, dan saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," kata Trump dalam wawancara bersama The Wall Street Journal.

"Saya ingin darah yang encer mengalir melalui jantung saya. Apakah itu masuk akal?" sambungnya.

Selain efek aspirin, memar di tangannya juga sempat disebabkan oleh insiden kecil saat Konvensi Nasional Partai Republik 2024, di mana tangan Trump tidak sengaja terluka akibat terkena cincin Pam Bondi saat melakukan tos (high-five).

"Cincin itu mengenai punggung tangan saya, dan ya, ada sedikit luka," aku Trump yang terpaksa memakai riasan wajah (foundation) untuk menutupi bekas luka tersebut.

Tak hanya soal memar, Trump juga mengklarifikasi foto-foto viral yang menarasikan dirinya kerap tertidur di tengah-tengah rapat penting.

"Saya hanya akan menutup [mata saya]. Itu sangat menenangkan bagi saya. Terkadang mereka akan mengambil foto saya berkedip, berkedip, dan mereka akan menangkap momen kedipan saya," sanggah Trump.

Sejauh ini, Trump tampaknya sangat puas dengan kondisi fisiknya yang prima di usia senja. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, ia dengan bangga mengklaim bahwa hasil pemeriksaan fisiknya berjalan dengan sangat 'sempurna'.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.