Dolar AS Menguat, Lama Tinggal Wisatawan Mancanegara di Kota Yogyakarta Meningkat 
Muhammad Fatoni June 04, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena melonjaknya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah rupanya membawa dampak ganda bagi Kota Yogyakarta. 

Meski memicu kekhawatiran inflasi, kondisi ini menjadi angin segar yang mendongkrak sektor pariwisata, terutama dari ceruk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

​Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat adanya tren positif berupa peningkatan rata-rata lama tinggal atau length of stay para pelancong asing.

Penguatan mata uang asing disinyalir membuat daya beli para wisman meningkat, sehingga mereka memilih untuk tinggal lebih lama di Kota Yogyakarta.

​Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, mengatakan bahwa peningkatan performa ini terlihat jelas dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel, baik hotel berbintang maupun non-bintang yang mengalami kenaikan.

​"Tingkat penghunian kamar baik berbintang maupun non-bintang itu naik. Bahkan di hotel bintang naiknya sampai 14,12 poin jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Untuk non-bintang naik 4,93 poin," tandasnya, Kamis (4/6/2026).

​Joko membenarkan bahwa pergerakan nilai tukar dolar AS akhir-akhir ini berkorelasi dengan keputusan wisatawan asing untuk memperpanjang masa liburannya. 

Baca juga: Pemda DIY Buka Ruang Kolaborasi dengan BUMN dan Swasta untuk Pengadaan Becak Listrik di Yogyakarta

Data Lapangan

Berdasarkan data riil di lapangan, rata-rata lama menginap tamu asing menunjukkan grafik menanjak, yang mulai tampak pada periode Maret-April 2026 lalu.

​"Pada bulan Maret, rata-rata wisman hanya menginap selama 1,77 malam di hotel bintang, kemudian memasuki April angkanya melonjak menjadi 2,22 malam," terangnya.

"Termasuk hotel non-bintang, durasi menginap wisman naik dari 1,72 malam di Maret, jadi 1,82 malam pada April. Jadi, untuk rata-rata lama menginap, tamu asing ini memang mengalami kenaikan," imbuhnya.

​Dijelaskan, dengan nilai tukar dolar AS yang perkasa terhadap Rupiah, turis asing merasa punya nilai anggaran wisata yang lebih besar saat dibelanjakan di destinasi lokal.

​Meskipun dinamika kurs ini membawa tantangan makroekonomi seperti tekanan inflasi, realitas di sektor akomodasi membuktikan Kota Yogyakarta tetap menjadi destinasi prima yang semakin memikat.

"Iya (ada dampak ganda). Jadi, dari sisi (wisatawan mancanegara) mereka merasa duit yang dimiliki nilainya semakin tinggi, lebih berharga ya," pungkas Joko. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.