Di Ujung Selatan Bangka, Wak Sani Jadi Mini ATM dan Nadi Ekonomi Pongok Lewat BRILink
Asmadi Pandapotan Siregar June 04, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Gerimis tipis menyambut langkah saya di Pelabuhan Sadai, Kabupaten Bangka Selatan, Senin (1/6/2026). Langit menggantung kelabu. Di dermaga utama, sebuah kapal ferry besar tampak bersiap melayani penyeberangan menuju Pulau Belitung.

Namun perhatian saya justru tertuju pada sebuah kapal kayu besar di sisi lain pelabuhan.

Tak semewah ferry. Tak pula terlihat nyaman.

Lambungnya kusam, termakan garam laut dan usia, catnya memudar. Tetapi justru kapal itulah yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kecamatan Kepulauan Pongok, satu-satunya penghubung reguler antara Pulau Bangka dan pulau kecil di ujung selatan provinsi itu.

Saya berteduh di depan bangunan pelabuhan kayu ketika gerimis mulai rapat. Aktivitas bongkar muat berlangsung sibuk. Suara benturan barang bersahutan dengan percakapan warga dan deru mesin kapal yang sesekali dinyalakan.

Fiber ikan besar berwarna kuning diangkat satu per satu ke atas kapal. Jeriken bensin menyusul. Tabung gas LPG tiga kilogram berdenting keras ketika dipindahkan. Karung sembako, kipas angin, sepeda, baja ringan, keramik rumah hingga sepeda motor dijejalkan ke lambung kapal.

Tak ada batas tegas antara logistik dan manusia, kapal ini bukan sekadar pengangkut barang. Ia adalah bus umum masyarakat Pongok.

Jika ingin menuju Pulau Pongok dari Sadai, inilah satu-satunya moda transportasi reguler yang tersedia. Trayeknya pun terbatas, sekali sehari.

Pukul 10:00 WIB kapal bergerak dari Pongok menuju Sadai. Sebaliknya, pukul 14:00 WIB kapal meninggalkan Sadai menuju Pongok.

Sejumlah warga mendayung sampan kecil menuju kapal nelayan saat air laut surut di Pelabuhan Bum Besar, Desa Pongok, Bangka Selatan.
Sejumlah warga mendayung sampan kecil menuju kapal nelayan saat air laut surut di Pelabuhan Bum Besar, Desa Pongok, Bangka Selatan. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Namun waktu keberangkatan tak selalu pasti, semakin banyak muatan, semakin panjang waktu tunggu.

Di bagian depan kapal, barang-barang bertumpuk tinggi. Ruang tengah disulap menjadi tempat duduk penumpang. Sebuah karpet sederhana dibentangkan di atas lantai kayu.

Tak ada kursi, tak ada pendingin udara. Hanya ruang seadanya untuk perjalanan laut lebih dari empat jam.

Pukul 14:07 WIB, kapal mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Sadai. Suara mesin tua meraung, memecah gerimis siang itu.

Pelan-pelan mercusuar putih di ujung pelabuhan mengecil sebelum akhirnya hilang dari pandangan. Pulau Bangka tertinggal di belakang.

Perjalanan panjang dimulai.

Begitu memasuki laut lepas, suasana berubah. Penumpang mulai mencari posisi ternyaman mereka. Ada yang bersandar pada tas ransel, menjadikan bantal leher sebagai teman perjalanan. Sebagian lainnya langsung tertidur, seperti sudah sangat akrab dengan guncangan ombak.

Bagi saya, ini perjalanan pertama menuju Pongok. Empat jam lebih berada di atas kapal kayu ternyata bukan perkara sederhana.

Sepanjang mata memandang hanya hamparan laut biru tanpa ujung. Gelombang membuat kapal terus bergoyang. Sesekali lambung menghantam ombak kecil, menciptakan suara keras dari bawah kaki.

Tak ada daratan, tak ada sinyal perkotaan. Hanya laut, angin asin, dan suara mesin kapal yang terus meraung.

Di titik tertentu, rasa pusing mulai datang. Perut terasa tak nyaman.

Namun warga terlihat biasa saja. Bahkan beberapa tertidur pulas di tengah guncangan.

Begitulah wajah penyeberangan antar-pulau di wilayah penghasil timah terbesar di Indonesia itu.

Ironis memang.

Setelah hampir empat jam terombang-ambing, pukul 17:54 WIB kapal akhirnya bersandar.

"Inilah Bum Besar," ujar seorang warga menunjuk dermaga. Pelabuhan kecil itu menjadi pintu masuk utama Pulau Pongok.

Langkah pertama saya di pulau kecil tersebut disambut kumandang azan magrib dari masjid desa yang berdiri tak jauh dari pelabuhan.

Suasananya tenang, tak ada hiruk-pikuk kendaraan, tak ada lampu kota yang ramai.

Hanya semilir angin laut dan keramahan warga yang menyapa pendatang asing.

Pongok hanyalah kecamatan kecil yang terdiri dari dua desa Pongok dan Celagen. Keduanya berdiri di pulau berbeda, dipisahkan laut kecil namun bertetangga dekat.

Nur Hasani alias Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok, sedang melayani transaksi di toko kelontong miliknya.
Nur Hasani alias Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok, sedang melayani transaksi di toko kelontong miliknya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Pulau kecil yang dikelilingi laut biru dan gugusan karang itu terasa seperti dunia yang bergerak dengan ritme berbeda.

Malam itu, rumah Nur Hasani (58), atau akrab disapa Wak Sani menjadi tempat saya bermalam.

Ia menjemput langsung di pelabuhan.

"Andini Bangka Pos bukan?" sapanya sambil tersenyum ketika melihat saya tampak kebingungan di dermaga.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, beberapa warga yang hendak ke masjid ikut menyapa. Mereka tampak tahu saya bukan orang sini.

Di pulau kecil seperti Pongok, wajah baru mudah dikenali. Saya memang datang jauh-jauh untuk menemui Wak Sani. Bukan pejabat, bukan pengusaha besar.

Tetapi sosok yang diam-diam menjadi denyut ekonomi masyarakat pulau kecil ini.

Di Pongok, warga mengenalnya sebagai "mini ATM".

Rumah sekaligus toko kelontong Wak Sani berdiri sederhana, tak ada papan besar bertuliskan BRILink, tak ada neon box mencolok seperti gerai modern. Bahkan sekilas, tempat itu tampak seperti toko sembako biasa.

Namun malam itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana toko kecil tersebut benar-benar hidup.

Wak Sani tengah berbincang dengan saya ketika tiba-tiba seorang warga datang.

"Tarik delapan juta, Wak," katanya.

"Tapi transfer dulu ke rekening ini, mau bayar ikan."

Saya terdiam.

Delapan juta rupiah, angka yang tak kecil, ditransaksikan begitu saja di lantai toko sederhana beralas karpet, diapit rak-rak sembako berisi beras, minyak goreng, telur hingga mi instan.

Tak lama berselang, seorang perempuan datang mengambil uang sekaligus melakukan transfer.

Setelah itu datang lagi warga lain, terus berdatangan. Nyaris tanpa jeda.

"Kalau lagi musim ikan, transaksi makin ramai," ujar Wak Sani sambil tetap menggenggam mesin EDC di tangannya.

Pulau Pongok memang hidup dari laut.

Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan. Saat hasil tangkapan melimpah, uang ikut bergerak lebih cepat.

Nelayan yang baru pulang melaut biasanya langsung melakukan transfer pembayaran, menarik uang tunai, atau mengirim hasil transaksi kepada pengepul ikan.

Ketika seluruh kapal nelayan pergi melaut dan musim ikan sedang bagus, aktivitas di toko kecil Wak Sani ikut melonjak.

"Kalau nelayan banyak dapat ikan, ramai sekali. Tarik uang, transfer bayar ikan, macam-macam," katanya.

Dalam sehari, nilai transaksi yang dilayaninya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Angka itu belum termasuk perpindahan uang antar rekening yang nilainya kadang jauh lebih besar.

Namun menjadi agen BRILink di wilayah kepulauan bukan perkara mudah.

Di balik ramainya transaksi, ada tantangan yang tak terlihat yakni sinyal telekomunikasi.

Wak Sani mengaku layanan transaksi sangat bergantung pada jaringan internet dan sinyal seluler.

Tak jarang, ketika toko sedang ramai oleh warga yang antre melakukan transaksi, jaringan mendadak hilang.

"Kendalanya sinyal. Kadang pas ramai-ramainya tiba-tiba hilang. Jadi transaksi terganggu, orang nunggu," katanya.

Meski begitu, ia tetap bertahan.

Wak Sani adalah orang pertama yang membawa layanan BRILink ke Pulau Pongok pada 2018. Saat itu, belum ada agen lain.

Semua kebutuhan transaksi keuangan warga nyaris terpusat di toko kelontong kecil miliknya. Dari tarik tunai, transfer, pembayaran tagihan hingga kebutuhan transaksi nelayan.

"Dulu lebih ramai lagi, karena belum ada agen lain. Semua ke sini," ujarnya sambil tersenyum.

Kini, jumlah agen BRILink di Pongok memang bertambah menjadi lima.

Tampak depan toko Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok yang melayani transaksi keuangan warga dari toko kelontong sederhana miliknya.
Tampak depan toko Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok yang melayani transaksi keuangan warga dari toko kelontong sederhana miliknya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Namun nama Wak Sani tetap lekat di ingatan warga sebagai pelopor layanan keuangan di pulau kecil tersebut.

Wak Sani merupakan agen BRILink pertama di Pulau Pongok sejak 2018.

Sudah delapan tahun ia menjalani peran yang tak ringan itu. Dalam sehari, ia bisa melayani hingga sekitar puluhan bahkan hingga 100 transaksi.

Mulai dari tarik tunai, transfer, pembayaran, top Up Dana hingga cek saldo.

"Kalau nominal kecil, biasanya admin lima ribu. Tapi kalau besar saya lihat dulu, jangan terlalu memberatkan warga," ujarnya.

Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, keberadaan layanan keuangan bukan sekadar kemudahan, tetapi kebutuhan mendasar.

Sebelum ada BRILink, warga harus menempuh perjalanan laut panjang menuju daratan hanya untuk mengambil uang, mentransfer pembayaran, atau bertransaksi perbankan.

Artinya, satu urusan bank bisa menghabiskan waktu seharian, bahkan ongkos yang tidak sedikit.

Kini, semuanya tersedia di sebuah toko kecil di tengah pulau.

Ketika Laut Menjadi Tantangan Mengelola Uang Tunai

Menjadi agen BRILink di kota mungkin perkara biasa. Namun di pulau kecil seperti Pongok, tantangannya jauh berbeda.

Wak Sani harus memastikan uang tunai selalu tersedia, minimal Rp100 juta harus berada di tangannya setiap hari.
Jumlah yang besar untuk ukuran sebuah toko kelontong di pulau terpencil.

Masalahnya, mendapatkan uang tunai di Pongok tidak mudah, tak ada bank., tak ada ATM, tak ada mesin setor tunai.

Laut menjadi satu-satunya jalur distribusi.

Untuk mengisi persediaan uang, Wak Sani kerap menitipkan dana melalui kapal trayek Sadai-Pongok kepada orang-orang kepercayaannya. Sistemnya mengandalkan kepercayaan.

Kadang ia juga bekerja sama dengan nelayan atau pengusaha ikan. Mereka mentransfer uang ke rekeningnya, lalu Wak Sani memberikan uang tunai secara langsung.

"Kalau tidak begitu, susah mutar uangnya," kata dia.

Di pulau kecil ini, kepercayaan menjadi modal utama selain saldo rekening.

Tak pernah terbayang sebelumnya, menjadi agen BRILink akan mengubah hidup Wak Sani. Dulu, ia hanya pedagang kue biasa.

Kini, dari usaha itu ia mampu menyekolahkan seluruh anaknya hingga sarjana. Ia bahkan mulai berinvestasi di sektor perkebunan di daratan Pulau Bangka.

Nur Hasani alias Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok
Nur Hasani alias Wak Sani, agen BRILink pertama di Pulau Pongok (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Di usianya yang tak lagi muda, tangan Wak Sani masih cekatan memencet mesin EDC, mengecek saldo hingga melayani transaksi puluhan juta rupiah.

Sulit membayangkan banyak ibu seusianya yang mampu begitu luwes mengoperasikan mesin transaksi digital.

Namun Wak Sani melakukannya nyaris tanpa kesulitan. Toko kelontongnya memang tampak sederhana, sembako yang dijual pun lebih seperti pelengkap.

Sebab sebagian besar orang datang bukan untuk belanja. Mereka datang untuk bertransaksi keuangan.

Dan benar saja, pagi harinya saya kembali menyadari betapa lekat nama Wak Sani dengan kehidupan warga Pongok.

Saat berjalan-jalan di Bum Besar menikmati suasana pulau, beberapa warga menyapa dan bertanya saya menginap di mana.

Ketika saya menjawab, "Di rumah Wak Sani."

Mereka spontan mengangguk.

"Oh… Wak Sani BRILink."

Semua langsung tahu. Nama itu seperti penanda penting di pulau kecil tersebut.

Siang harinya pukul 10:00 WIB, saya harus kembali menuju pelabuhan.

Wak Sani mengantar hingga halaman rumah, tangannya melambai ketika saya mulai menjauh.

Di perjalanan pulang menuju Sadai, kapal kayu kembali bergoyang diterpa ombak. Empat jam laut lepas terbentang di depan.

Pikiran saya terus tertuju pada satu hal. Tentang betapa berat kehidupan masyarakat pulau kecil yang terpisah dari daratan.

Tentang barang kebutuhan yang tidak selalu tersedia, tentang perjalanan panjang yang harus ditempuh hanya untuk mengakses layanan dasar.

Namun di tengah keterbatasan itu, ada satu hal yang membuat roda kehidupan terus berputar.

Sebuah toko kecil tanpa papan nama mencolok, seorang perempuan paruh baya yang setia duduk di atas karpet sederhana, dan mesin EDC di tangannya.

Di Pulau Pongok, mini ATM itu bernama Wak Sani, BRILink di ujung selatan Bangka bukan sekadar layanan transaksi.

Ia telah menjelma menjadi jembatan ekonomi, penghubung harapan, sekaligus bukti bahwa layanan keuangan bisa hadir bahkan di tempat yang nyaris terpisah dari daratan.

BRILink Jadi Bank Mini di Pongok

Keterbatasan akses perbankan di wilayah kepulauan menjadikan kehadiran Agen BRILink bukan sekadar layanan tambahan, tetapi kebutuhan utama masyarakat.

Di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, layanan BRILink menjadi salah satu tumpuan warga untuk melakukan transaksi keuangan tanpa harus menyeberang ke daratan Pulau Bangka.

Kepala Unit BRI Tukak Sadai, Ifan, mengatakan saat ini terdapat lima Agen BRILink yang tersebar di wilayah Pulau Pongok.

Menurut dia, keberadaan agen tersebut menjadi solusi utama bagi masyarakat pesisir yang sulit menjangkau layanan perbankan konvensional.

"Di Pongok ada lima agen BRILink yang aktif melayani masyarakat. Mereka ini pada dasarnya berfungsi seperti kantor bank mini," ujar Ifan kepada Bangkapos.com, Kamis (4/6/2026).

Melalui Agen BRILink, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi keuangan, mulai dari transfer uang, setor dan tarik tunai, pembayaran tagihan listrik, PDAM, BPJS, hingga pembelian pulsa dan layanan digital lainnya.

Bagi masyarakat kepulauan, layanan ini dinilai sangat vital.

Sebab, sebelum hadirnya BRILink, warga harus mengeluarkan biaya tambahan dan menunggu kapal penyeberangan untuk menuju kantor bank terdekat di daratan.

"Efisiensinya sangat terasa. Warga tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos besar atau menunggu kapal untuk transaksi perbankan," katanya.

Tak hanya mempermudah masyarakat, kehadiran Agen BRILink juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal.

Melalui skema sharing fee, agen memperoleh tambahan pendapatan dari setiap transaksi yang dilakukan masyarakat.

Selain itu, keberadaan agen juga membantu pemerintah dalam penyaluran bantuan sosial dan subsidi agar lebih tepat sasaran di wilayah terpencil.

Ifan menyebut BRI memandang Agen BRILink di Pulau Pongok sebagai pilar penting strategi inklusi keuangan.

Menurut dia, agen BRILink menjadi jawaban atas keterbatasan infrastruktur fisik perbankan di kawasan kepulauan.

"BRILink ini menjadi solusi utama untuk mengatasi keterbatasan akses layanan bank di pulau. Jadi masyarakat tidak perlu lagi menyeberang jauh ke kantor unit," ujarnya.

Tingginya kebutuhan transaksi masyarakat di wilayah kepulauan juga terlihat dari aktivitas Agen BRILink di Pongok.

Dalam satu periode, satu agen bahkan mampu melayani hingga 882 transaksi dengan Fee Based Income (FBI) mencapai Rp1.418.735.

Angka tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis agen di wilayah terpencil.

Ke depan, Ifan menilai layanan keuangan bagi masyarakat kepulauan masih perlu diperkuat.

Salah satu gagasan yang menurutnya dapat menjadi solusi ialah menghadirkan layanan bank terapung yang secara rutin berlayar melayani masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

"Kalau memungkinkan, tentu bagus ada layanan bank terapung yang rutin ke pulau-pulau seperti Pongok. Tapi saat ini BRI tetap memprioritaskan penambahan dan pemerataan Agen BRILink hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal," katanya.

Dengan begitu, warga pulau tidak lagi bergantung pada perjalanan laut panjang hanya untuk melakukan transaksi keuangan sederhana. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.