TRIBUNJAMBI.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan udara yang dikaitkan dengan Iran menghantam wilayah Kuwait pada Rabu (3/6/2026). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu orang dan menyebabkan sedikitnya 63 lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa ini menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengakui telah melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait serta markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Menurut pihak Iran, serangan itu merupakan respons terhadap operasi militer Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam Pulau Qeshm, wilayah strategis milik Iran di dekat Selat Hormuz.
Baca juga: Menkeu Purbaya Tolak Rapat Darurat KSSK Usai Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Serahkan ke BI
Baca juga: Rupiah Jebol Rp18.031 per Dolar AS, Ekonom Peringatkan Ancaman PHK Massal Semester II 2026
Iran Kerahkan Rudal dan Drone
Laporan yang beredar menyebutkan militer Iran meluncurkan dua gelombang serangan ke sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Teluk. Serangan dilakukan dengan kombinasi rudal balistik dan drone tempur.
Namun, otoritas Amerika Serikat menyatakan sebagian besar proyektil yang diluncurkan berhasil dicegat sistem pertahanan udara atau meleset dari target yang dituju.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi terhadap Pulau Qeshm dilakukan sebagai langkah pertahanan diri setelah adanya ancaman terhadap pasukan dan fasilitas militer AS di kawasan.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut serangan tersebut menyasar stasiun pengendali drone dan rudal yang digunakan militer Iran.
AS Klaim Berhasil Gagalkan Serangan
CENTCOM juga menegaskan bahwa serangan drone Iran yang diarahkan ke pangkalan militer AS di Kuwait tidak mencapai sasaran.
"Gelombang tambahan drone Iran yang berusaha menyerang pasukan AS di Kuwait gagal mengenai sasaran yang dituju malam ini. Pertahanan udara Komando Pusat AS berhasil menembak jatuh beberapa drone dan memastikan tidak ada personel atau aset Amerika yang berada dalam bahaya," demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Selain mengamankan fasilitas militer, pasukan AS juga mengaku berhasil menghancurkan tiga drone Iran di wilayah perairan regional guna melindungi jalur pelayaran sipil yang melintas di kawasan tersebut.
Iran Sebut Serangan Balasan
Di sisi lain, IRGC menegaskan bahwa serangan terhadap pangkalan militer Amerika merupakan bentuk pembalasan atas operasi yang dilakukan AS di Pulau Qeshm.
Iran menilai tindakan Washington telah melanggar kedaulatan negaranya.
Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait disebut menjadi sasaran utama dalam operasi tersebut.
Sebelumnya, pada 28 Mei 2026, rudal balistik Fateh-110 dilaporkan menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem dan menyebabkan lima warga Amerika mengalami luka ringan, termasuk personel militer dan kontraktor.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Camp Buehring setelah serangan yang melibatkan pesawat tempur F-5 dan drone Iran.
Kuwait Perketat Pertahanan
Di tengah meningkatnya ancaman, Kuwait dikabarkan memperkuat sistem pertahanan udaranya dan meminta dukungan tambahan dari negara-negara sekutu Barat.
Pemerintah Kuwait kini menghadapi tekanan besar untuk menjaga keamanan wilayahnya, terutama karena sejumlah fasilitas militer Amerika berada di negara tersebut.
Situasi terbaru ini menambah kekhawatiran dunia internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan dan distribusi energi global.