Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Salah seorang korban dari penipuan titik dapur MBG inisial H menceritakan bahwa dia dan rekan-rekannya menjadi korban Yayasan Solusi Bangun Bangsa atau YSBB.
Dia dan rekan-rekannya sempat mendatangi kantor Badan Gizi Nasional di Jakarta pada akhir Mei lalu.
H mengatakan pada Februari 2025 YSBB menjanjikan miliki program berbeda dengan program dapur atau program yang sedang berjalan.
Semisal, YSBB menjanjikan untuk omprengan di mana umumnya omprengannya itu Rp15 ribu untuk satu porsi. Tapi, justru YSBB menjanjikan Rp18 ribu per ompreng.
"Dalam MoU-nya pun ada tertera nanti yayasan dengan mekanisme APBN akan memberikan peralatan seluruhnya ke dapur dan diberikan mobil MBG dua unit. Dalih YSBB itu langsung program pemerintah dengan mekanisme surat perintah kerja atau SPK. Tapi, sampai saat ini belum terbukti (terealisasi) program itu. Maka, kami bersama rekan-rekan dari Jabar dan luar Jabar karena kesal dapur sudah 90 persen oke, dan kami pun sudah rekrutmen pegawai (relawan) namun sudah setahun ini belum terwujud," katanya saat dihubungi, Kamis (4/6/2026).
H juga mengatakan mereka telah melaporkan ke Polda Jabar dan telah berkomunikasi ke BGN bersama tim guna menanyakan kebenaran program yang dijanjikan YSBB ini.
"Nyatanya, informasi orang BGN itu tak ada program tersebut. Kami dikatakan telah tertipu, karena YSBB tak terdaftar atau terverifikasi di BGN. Kami pun diarahkan untuk melaporkannya ke Polda masing-masing, salahsatunya Polda Jabar," katanya
Baca juga: Puluhan Pengelola SPPG dari Bandung dan Sumedang Datangi BGN, Pertanyakan Status YSBB
Selain itu, korban mengaku dari grupnya itu tercatat ada sebanyak 130 orang untuk wilayah Jabar yang senasib dengannya dan tersebar seluruh Jabar.
"Paling banyak di Kabupaten Bandung. Kami sudah melaporkan kasus ini ke Polda Jabar dan belum ada tindaklanjutnya. Laporan kami itu atas arahan komunikasi dengan BGN, termasuk saat audiensi bersama pak Soni Sonjaya yang ketika itu menjabat Wakil BGN. Dia pun katakan bahwa program dari YSBB ini tak ada. Silakan kalian melapor saja ke Polda untuk ditindaklanjuti," ujarnya.
Sony Sonjaya Arahkan untuk Membuat Laporan Polisi
Disinggung terkait penangkapan Soni Sonjaya oleh Kejagung, H pun merasa terkejut. Pasalnya, kata H, saat itu Soni justru mengarahkan untuk melaporkan ke polisi. Jika setelah melapor masih ada titik di setiap wilayah dapur MBG, BGN menjanjikan siap membantu untuk beroperasi dapurnya.
"Nah, dengan kejadian penangkapan (Soni), saya juga kaget. Ini apa sih skenarionya, apakah dia terlibat atau memang ini di luar tanggung jawabnya, karena yang kami tahu dia sangat frontal sekali untuk yayasan yang bermain atasnama BGN," ujarnya.
Lebih lanjut, H menyebutkan banyak titik yang sudah didaftarkan tetapi tak disetujui.
Seperti daerah Gedebage, Kopo, Sumedang, lalu ada di Garut, Sukabumi, Cimaung, dan lainnya.
"Setoran ke YSBB itu ada mekanisme awal seperti setoran awal untuk validasi dari Rp15 - 50 juta untuk setiap titik dapur MBG. Setelah itu ada perkataan dari ketua yayasannya yang membawa atasnama Kemenhan bahwa di sana ada uang Dako alias Dana Koordinasi. Jika ditotal rekan-rekan yang sudah melapor ke Polda yakni 12 dapur dengan kerugian Rp1,6 miliar. Tapi, enggak tahu kalau semua 130-an melapor," katanya.
Baca juga: Modus Jual Titik Dapur Palsu, Polda Jabar Tangkap Pelaku Utama Sindikat Penipuan MBG
Sementara itu, koordinator para korban, Oesep Sarwat, menambahkan bahwa pelaporan ke Polda Jabar itu berawal dari keresahan lantaran tidak jelasnya program dari yang dijanjikan YSBB terhadap para korban.
"Akhirnya, kami putuskan datang saja dahulu ke BGN karena mengikuti imbauan pak Soni Sonjaya yang mengatakan apabila ada sesuatu keberatan silakan datang ke BGN. Jadi, pada Selasa (26/5/2026), kami bersama rombongan berangkat sekitar pukul 03.00 menuju Jakarta dengan membawa sejumlah alat bukti," ujar Oesep.
Dia pun kemudian mempertanyakan ke Soni Sonjaya yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua BGN tentang transparansi pelayanan publik.
"Yang datang itu ada sebanyak 21 orang. Ada dari kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Sumedang. Dari 21 orang itu, 12 orang di antaranya yang membuat laporan ke Polda Jabar dan bukti laporannya sudah saya sampaikan ke Pak Soni," katanya.
Sebanyak 12 korban itu, kata Oesep, ada dari Kabupaten Sumedang dua dapur, lalu kota Bandung dan Kabupaten Bandung.
Dia menyebut setoran ke YSBB variatif mulai Rp15 juta sampai Rp50 juta.
"Dako itu dari Rp20 - 50 juta, bahkan ada pula yang kerugiannya mencapai Rp1 miliar karena sudah membangun dapur MBG. Pada 11 Juni 2025, korban-korban juga sempat ada MoU YSBB Kuningan. Yang hadir MoU itu Ketua YSBB, Dian Helgawati. Dia meminta ditransfer Rp50 juta. Bukti transfernya ada. Korban itu membangun dapur capai Rp 1,1 miliar," katanya.
Disinggung dalih YSBB kepada para korban, Oesep menyebut YSBB mengaku menunggu peluncuran agar serentak.
YSBB menjanjikan bahwa dapur mereka bukanlah dapur mandiri tetapi dapur yang didanai APBN.
Baca juga: Kepala Kanwil Imigrasi Jabar Masuk Daftar Tersangka Kasus OTT Wamen Imipas Silmy Kalim
"Setelah sekian lama mengulur waktu dan tak kunjung terealisasi, maka kami laporkan ke Polda Jabar. YSBB disebut pak Soni Sonjaya memang tak terverifikasi di BGN. Dia jawab dengan lantang bilang begitu," katanya.
Dia sampai saat ini, tak percaya ketika Soni Sonjaya ditangkap Kejagung. Pasalnya, Soni dinilai justru sempat lantang memberantas yayasan-yayasan yang mengatasnamakan BGN. Dia juga menegaskan, pihaknya sempat mengirimkan surat langsung untuk Presiden RI, Prabowo Subianto pada 18 Mei 2026.
"Yang membuat suratnya perwakilan korban ialah Wawan Setiawan dari Rancaekek. Nah, mungkin surat ini sampai ke pak Prabowo dan ditindaklanjuti sampai ada penangkapan seperti sekarang," kata Oesep.
Tribun Jabar pun sempat meminta konfirmasi ke Ketua YSBB atasnama Dian Helgawati. Namun, yang bersangkutan tak berkenan untuk memberikan tanggapannya. (*)