Apa Itu Love Scamming dan Cara Menghindarinya, Modus Penipuan yang Melibatkan Fabiola Elizabeth
Putra Dewangga Candra Seta June 04, 2026 07:05 PM

 

SURYA.co.id – Kasus dugaan love scamming yang melibatkan Fabiola Elizabeth, mantan istri artis Reza Smash, membuka tabir baru tentang bagaimana sindikat penipuan digital modern bekerja.

Bukan sekadar mengandalkan rayuan lewat pesan teks, jaringan ini diduga menggunakan strategi yang jauh lebih meyakinkan, yakni menghadirkan model asli saat video call dengan korban.

Modus tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sindikat ini mampu menjerat ratusan korban warga negara asing dan meraup keuntungan hingga puluhan miliar rupiah.

Kasus yang ditangani Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah itu bahkan telah menarik perhatian aparat penegak hukum internasional.

Dalam proses penyelidikannya, Polda Jateng bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Bareskrim Polri, dan Hubinter karena mayoritas korban berasal dari Amerika Serikat.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengungkapkan bahwa kasus tersebut terungkap melalui patroli siber yang dilakukan jajarannya.

"Dari hasil patroli siber kami menemukan ada indikasi kegiatan penipuan online yang dilakukan di wilayah Solo. Kemudian kami lakukan pendalaman terhadap aktivitas yang dilakukan oleh mereka," kata dia, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Penyelidikan kemudian mengarah pada sebuah perusahaan bernama PT Digi Global Konsultan di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo yang diduga menjadi pusat operasional jaringan tersebut.

Berawal dari Aplikasi Kencan

LOVE SCAMMING - Fabiola Elizabeth, mantan istri artis Reza Smash yang menjadi tersangka kasus Love Scamming di Jawa Tengah. 
LOVE SCAMMING - Fabiola Elizabeth, mantan istri artis Reza Smash yang menjadi tersangka kasus Love Scamming di Jawa Tengah.  (Tribun Jateng/istimewa)

Menurut penyidik, sindikat menggunakan modus yang dikenal sebagai pig butchering scam.

Dalam praktiknya, pelaku terlebih dahulu membangun hubungan emosional dengan korban melalui aplikasi kencan dan media sosial.

Target dicari melalui platform seperti Tinder, Puf, Boo, hingga Facebook.

Setelah menemukan calon korban potensial, tim asisten marketing melakukan pendekatan awal dan menyaring target yang dianggap menjanjikan.

Ketika komunikasi mulai intens, percakapan kemudian diambil alih oleh marketing yang menggunakan identitas palsu.

Baca juga: Rekam Jejak Fabiola Elizabeth dari Eks Istri Boyband Jadi Tersangka Love Scamming Internasional

Menariknya, sebagian besar operator disebut merupakan laki-laki yang menyamar sebagai perempuan untuk membangun hubungan romantis dengan korban.

Korban yang mulai percaya kemudian diarahkan untuk berinvestasi dalam aset kripto melalui platform perdagangan palsu yang telah dikendalikan oleh jaringan tersebut.

Di tampilan luar, situs investasi itu terlihat seperti platform kripto resmi.

Namun di balik layar, seluruh sistem telah dimanipulasi sehingga dana yang disetorkan korban langsung masuk ke jaringan pelaku.

Peran Fabiola Elizabeth

Dalam skema yang terorganisasi tersebut, polisi menyebut Fabiola Elizabeth memiliki peran sebagai model.

Tugasnya bukan mencari korban maupun melakukan komunikasi harian, melainkan tampil saat korban mulai meminta bukti identitas melalui panggilan video.

Kombes Pol Himawan menjelaskan peran tersebut sangat penting dalam memperkuat kepercayaan korban yang sudah dibangun selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

"Model yang dapat kami amankan ini tugasnya melayani video call sesuai yang diinginkan korban, sementara peran marketing yang mencari korban. Apabila korban membutuhkan keyakinan, maka yang tampil bukan marketing tetapi model," kata Kombes Himawan.

Menurut penyidik, keberadaan model menjadi elemen penting yang membuat korban yakin bahwa orang yang mereka ajak berbicara selama ini benar-benar nyata.

"Karena marketing ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ditawarkan," imbuh dia.

Saat ditanya mengenai identitas model yang diamankan, Himawan mengisyaratkan bahwa sosok tersebut pernah dikenal publik.

"Yang jelas model dari mantan artis, itu saja," ungkapnya.

Hingga kini penyidik belum membuka identitas lengkap F karena proses hukum masih berjalan.

Sindikat Diduga Raup Rp41,1 Miliar dari 133 Korban Asing

Berdasarkan hasil penyelidikan, jaringan tersebut diduga beroperasi sejak Juli 2025 hingga Mei 2026.

Dalam periode itu, penyidik menemukan nilai transaksi mencapai USD 2.327.625,85 atau setara sekitar Rp41,1 miliar.

Sedikitnya terdapat 133 korban yang teridentifikasi dan seluruhnya merupakan warga negara asing. Mayoritas korban berasal dari Amerika Serikat.

Polda Jateng juga mengamankan 39 tersangka yang terdiri dari 28 warga negara Indonesia, tujuh warga Nepal, dan empat warga Myanmar.

Mereka memiliki tugas yang berbeda-beda, mulai dari leader, supervisor, asisten marketing, marketing, model, hingga penyedia sarana dan tempat operasional.

Penyidik menemukan tujuh lokasi yang digunakan sebagai pusat aktivitas sindikat, termasuk kantor PT Digi Global Konsultan di Solo Baru serta sejumlah rumah kos dan penginapan di wilayah Sukoharjo dan Surakarta.

Dari penggerebekan tersebut, polisi menyita 140 telepon seluler, 123 komputer, dua laptop, 78 monitor, 54 keyboard, empat televisi, buku panduan marketing, dokumen perusahaan, dan papan nama perusahaan.

Apa Itu Love Scamming?

Love scamming adalah modus penipuan yang memanfaatkan hubungan asmara atau kedekatan emosional secara daring untuk memperoleh keuntungan finansial dari korban.

Pelaku biasanya menciptakan identitas palsu yang menarik, membangun komunikasi intens dalam waktu lama, lalu perlahan meminta korban mengirim uang, berinvestasi, atau memberikan akses terhadap data pribadi.

Dalam banyak kasus internasional, pelaku bahkan menggunakan foto, video, hingga model sungguhan agar korban semakin percaya.

Cara Menghindari Love Scamming

Agar tidak menjadi korban penipuan serupa, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal secara online.
  • Waspadai jika hubungan berkembang terlalu cepat dan penuh rayuan.
  • Jangan mengirim uang kepada orang yang belum pernah ditemui secara langsung.
  • Hindari investasi yang direkomendasikan oleh kenalan dari media sosial atau aplikasi kencan.
  • Lakukan pengecekan terhadap platform investasi yang ditawarkan.
  • Curigai apabila seseorang selalu memiliki alasan untuk tidak bertemu langsung.
  • Laporkan akun mencurigakan kepada platform dan aparat berwenang.

Kasus yang terungkap di Jawa Tengah ini menunjukkan bahwa penipuan digital modern tidak lagi hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga memanfaatkan aspek psikologis manusia.

Sindikat diduga memahami bahwa rasa percaya dan keterikatan emosional sering kali lebih efektif dibandingkan serangan siber konvensional.

Kemunculan model asli saat video call menjadi bukti bahwa pelaku berupaya menghilangkan keraguan korban dengan menciptakan ilusi hubungan yang tampak nyata.

Strategi tersebut membuat love scamming berkembang menjadi salah satu bentuk kejahatan siber yang paling sulit dideteksi korban karena memanfaatkan emosi, harapan, dan kepercayaan dalam sebuah hubungan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.