SRIPOKU.COM, BATURAJA – Seminggu pascalebaran Iduladha 1447 Hijriah, aktivitas transaksi di sejumlah pasar tradisional di Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mengalami penurunan drastis. Para pedagang mengeluhkan sepinya masyarakat untuk berbelanja dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru, Kecamatan Baturaja Timur, Kamis (4/6/2026), suasana di los-los pasar tampak lengang.
Pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari, dan umumnya hanya membeli kebutuhan pokok yang sangat mendesak.
Kondisi ini membuat sebagian pedagang terpaksa menunggu peminat sambil terkantuk-kantuk, sementara pedagang usia muda memilih menghabiskan waktu bermain ponsel.
Ironisnya, meski kondisi pasar sepi pengunjung, harga komoditas sayur-mayur dan kebutuhan dapur justru melambung tinggi.
Baca juga: Curhat Pilu Pedagang Pasar 16 Ilir Palembang Makin Sepi Pembeli, Dulu Jalanan Macet Kini Lengang
Beberapa jenis sayuran bahkan mengalami lonjakan harga hingga beberapa kali lipat.
Sebagai contoh, harga tomat ceri atau rampai yang sebelumnya hanya Rp10.000 per kilogram kini meroket menjadi Rp40.000 per kilogram.
Lonjakan ekstrem juga terjadi pada daun seledri yang menyentuh angka Rp80.000 per kilogram, disusul kentang seharga Rp17.000 per kilogram, dan labu siam seharga Rp12.000 per kilogram.
"Habis lebaran ini harga-harga malah semakin naik. Kalau sebelumnya hanya daging sapi dan daging ayam yang mahal, sekarang sayur-mayur ikut melambung. Yang tidak naik hanya tahu dan tempe, tapi untuk tempe ukuran fisiknya jadi lebih kecil dari biasanya. Kata penjualnya karena harga kacang kedelai naik dari Rp7.000 menjadi Rp11.000 per kilogram. Tapi kami bingung, entah kenapa sayuran lokal ikut-ikutan naik mahal," keluh seorang ibu rumah tangga saat berbelanja di Pasar Baru, Kamis (4/6/2026).
Dilema Pedagang di Tengah Musim Panas
Di sisi lain, para pedagang sayuran mengaku berada dalam posisi dilematis.
Kenaikan harga eceran terpaksa dilakukan karena modal yang mereka keluarkan saat membeli barang di tingkat pedagang grosir sudah mengalami kenaikan yang signifikan sejak beberapa waktu lalu.
Pedagang mengaku bingung menghadapi situasi ini.
Jika harga jual diturunkan demi menarik pembeli, mereka dipastikan akan menderita kerugian modal.
Namun, jika harga tetap dipertahankan tinggi, komoditas sayuran dagangan mereka justru tidak laku dan membusuk.
"Lihat sendiri, sayuran saya banyak yang rusak dan kering karena tidak ada yang beli. Kerusakan sayur jadi semakin cepat karena sekarang juga sedang masuk musim panas ekstrem," keluh salah satu pedagang sayur di Pasar Baru Baturaja.
Keluhan serupa turut disuarakan oleh Santi, seorang pemilik kios sayur di Pasar Korpri, Tanjung Baru, Kecamatan Baturaja Timur.
Ia mengaku heran mengapa daya beli masyarakat begitu lesu pada periode kali ini. Padahal, beberapa indikator ekonomi di daerah dinilai sedang cukup baik.
"Saya juga bingung ke mana para pembeli sekarang. Padahal info yang kami dengar gaji ke-13 ASN sudah cair pekan ini, ditambah lagi harga komoditas karet di tingkat petani juga sedang naik bagus. Tapi entah kenapa pasar masih saja sepi nian yang belanja," ujar Santi lesu.
Baca juga: Harga Emas di OKI Naik Tajam, Toko Malah Sepi Pembeli