Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochammad Irfan Yusuf melihat peluang besar bagi produk pangan Indonesia untuk menjadi bagian dari rantai pasok katering jemaah haji di Arab Saudi.
Peluang tersebut mencakup berbagai komoditas yang selama ini akrab dengan lidah masyarakat Indonesia, seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga beragam bumbu masakan.
Hal itu disampaikan Gus Irfan usai meninjau dua perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah, yakni Meez Mary Catering dan Uhud Taiba for Catering, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan memastikan kualitas layanan makanan bagi jemaah haji Indonesia, tetapi juga melihat kemungkinan penggunaan bahan pangan asal Indonesia dalam operasional katering haji.
“Kita melihat juga kemungkinan-kemungkinan bagaimana dapur ini juga bisa memanfaatkan atau memaksimalkan penggunaan bahan-bahan bagu dari Indonesia. Apakah itu beras, krupuk, kemudian ikan patin," ujar Irfan kepada tim Media Center Haji (MCH) di Madinah.
Baca juga: Kumpulkan 23 Katering Jemaah Haji di Madinah, Gus Irfan Minta Layanan Konsumsi Ditingkatkan
Dari hasil peninjauan, ia menemukan sejumlah bahan pangan yang digunakan perusahaan katering memiliki keterkaitan dengan Indonesia.
Namun, produk-produk tersebut saat ini masih masuk ke Arab Saudi melalui negara lain.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah santan yang digunakan dalam proses memasak makanan jemaah haji.
Menurut Irfan, bahan baku santan tersebut kemungkinan berasal dari Indonesia meski dipasarkan menggunakan merek dari negara lain.
Ia juga menemukan pasokan ikan patin yang berasal dari negara tetangga, padahal komoditas tersebut juga banyak diproduksi di Indonesia.
“Saya lihat ada santan, santan itu saya yakin dari Indonesia, tapi capnya itu dari negara tetangga. Kemudian saya lihat juga ada ikan patin itu dari negara tetangga juga yang seharusnya kita juga bisa memproduksinya,” katanya.
Meski demikian, Irfan mengakui upaya memasukkan lebih banyak produk pangan Indonesia ke pasar Arab Saudi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama biaya logistik dan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah, kata dia, sebenarnya telah menjajaki pengiriman sejumlah komoditas untuk kebutuhan katering haji, termasuk beras dan bumbu masakan. Namun rencana tersebut belum
berjalan maksimal karena tingginya biaya distribusi.
"Kami sudah mencoba mengirim beras, tetapi pengiriman terkendala situasi konflik sehingga batal. Kami juga mencoba mengirim bumbu-bumbu, tetapi karena kondisi Timur Tengah biaya transportasi menjadi mahal sehingga tidak semuanya bisa terkirim," jelasnya.
Gus Irfan menilai pasar katering haji dan umrah di Arab Saudi memiliki potensi yang sangat besar bagi produk pangan Indonesia.
Kebutuhan konsumsi jutaan jemaah setiap tahun menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha nasional.
Baca juga: 421 Armada Bus Shalawat Beroperasi Lagi, Layani Pergerakan Jemaah Haji pada 25 Rute di Makkah
"Peluangnya sangat bagus. Saya tadi mencicipi ada ikan teri, asam, dan ikan patin. Semua itu kita punya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan aturan yang berlaku di sini agar produk Indonesia bisa masuk. Negara lain bisa, kenapa kita tidak?" ujarnya.
Untuk memperluas penggunaan produk dalam negeri, pemerintah juga membuka kemungkinan memasukkan syarat penggunaan bahan pangan asal Indonesia dalam kontrak penyediaan katering haji pada masa mendatang.
"Dalam kontrak bisa saja ditentukan beras dari Indonesia atau beberapa bahan lauk dari Indonesia. Dengan begitu penggunaan produk kita lebih terjamin. Namun tahun ini memang belum bisa dilakukan sepenuhnya karena situasinya berbeda," kata Irfan.
Ia berharap kondisi kawasan Timur Tengah segera membaik sehingga distribusi logistik kembali lancar dan semakin banyak produk pangan Indonesia dapat menembus pasar katering haji dan umrah di Arab Saudi.
Selain mendorong ekspor, langkah tersebut juga diharapkan memperkuat peran pelaku usaha nasional dalam ekosistem penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.