SAKSI KATA: Rumah Terbakar di Ngada, Ramsi Abas: Saya Tidak Pikir Apa-apa, Hanya Anak Saya
Nofri Fuka June 04, 2026 07:58 PM

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Pukul 03.05 WITA, Kamis dini hari (4/6/2026), langit Kelurahan Kisanata, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih gelap ketika kepanikan tiba-tiba memecah sunyi. Dari sebuah rumah sederhana, suara percikan api terdengar seperti “jagung digoreng”, disusul asap yang perlahan memenuhi ruangan.

Bagi Ramsi Abas salah satu korban kebakaran, malam itu berubah menjadi detik-detik paling panjang dalam hidupnya.

“Jam tiga pagi istri saya bangun untuk persiapan masak warung. Anak di belakang bilang ada asap masuk seperti percikan api,” tutur Ramsi membuka kesaksiannya, 4 Juni 2026 siang.

Awalnya ia mengira hanya gangguan biasa. Namun hawa panas yang cepat menyebar membuatnya tersentak. 

 

Baca juga: Pemkab Ngada Pastikan Bantuan Darurat bagi Korban Kebakaran di Kisanata Bajawa

 

 

Saat membuka mata, api sudah terdengar dari atas atap rumahnya.

Tanpa banyak waktu berpikir, Ramsi langsung menggendong anaknya yang masih berusia enam tahun. Ia berlari keluar rumah, memastikan sang anak selamat lebih dulu.

“Yang saya pikir hanya anak saya harus keluar,” katanya pelan.

Namun setelah itu, ia kembali masuk ke dalam rumah. Ia berusaha menyelamatkan barang-barang penting—berkas, ijazah, dan dokumen keluarga. Sekali keluar, ia masuk lagi. 

Hingga upaya ketiga, ia tak lagi mampu menembus kepulan asap tebal yang sudah memenuhi rumah.

“Uang, HP, emas semua tidak sempat diambil lagi,” ujarnya.

Api semakin membesar. Ramsi lalu berlari ke luar rumah, meminta bantuan warga dan langsung menuju kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Tak lama kemudian, tim pemadam kebakaran bersama warga tiba di lokasi sekitar pukul 03.30 WITA.

Di tengah kepanikan itu, Ramsi masih sempat berteriak memperingatkan tetangga. Namun situasi sudah terlalu cepat berubah. Api merambat dari rumahnya ke bangunan sekitar, termasuk kompleks Madrasah Al-Quraba dan Kantor DPD Partai Golkar Ngada.

Ia memperkirakan sumber api berasal dari bagian belakang bangunan, area yang berdekatan dengan ruang kelas dan kamar guru. Namun ia menegaskan, semua masih dugaan awal.

“Tidak ada firasat sama sekali. Saya biasa cek kompor, listrik, semua sebelum tidur,” ujarnya.

Kebakaran itu meninggalkan luka besar. Rumah Ramsi ludes terbakar bersama uang tunai sekitar Rp40 juta, emas kurang lebih 16 gram serta seluruh perabot rumah tangga. Hanya kendaraan dan sebagian berkas penting yang berhasil diselamatkan.

Namun di balik kehilangan materi, ada satu hal yang tak bisa diganti yakni keselamatan keluarganya.

“Yang penting anak-anak selamat,” ucapnya singkat.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan aparat berwenang. Sementara puing-puing sisa kebakaran di Kisanata menjadi saksi bisu perjuangan seorang ayah yang memilih nyawa keluarga di atas segalanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.