Kampus Pertama Bangun Dapur MBG, Unhas Yakin Investasi Gizi Tingkatkan Kualitas SDM
Alfian June 04, 2026 09:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi perguruan tinggi negeri (PTN) pertama yang membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keterlibatan Unhas dalam program nasional tersebut bukan sekadar mendukung penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik.

Namun juga dilandasi keyakinan bahwa investasi gizi merupakan salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof dr Veny Hadju, mengatakan keputusan Unhas membangun SPPG didasari kajian keilmuan yang kuat. 

Berbagai penelitian di sejumlah negara menunjukkan program makan bergizi mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga: Akademisi Unhas Desak Evaluasi Total Tata Kelola MBG, Pengawasan Wajib Makin Ketat

Tim Ahli SPPG Tamalanrea 14 Unhas itu menjelaskan, program pemberian makanan di sekolah atau school feeding program telah terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan status gizi dan kualitas generasi muda.

"Kalau kita membaca berbagai publikasi internasional, program pemberian makan di sekolah menjadi salah satu intervensi yang sangat baik untuk meningkatkan status gizi masyarakat," ujar Prof Veny saat menjelaskan alasan Unhas membangun Dapur MBG, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, dalam kajian kesehatan masyarakat, intervensi gizi merupakan salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus kualitas SDM.

Berbagai dokumen Bank Dunia dan WHO menempatkan investasi gizi sebagai salah satu intervensi paling efektif untuk meningkatkan kualitas manusia. 

Dampaknya dinilai jauh lebih besar dibandingkan banyak sektor pembangunan lainnya.

"Kalau kita bicara investasi gizi, berbagai kajian menyimpulkan return of investment-nya bisa mencapai 7 sampai 31 kali lipat. Artinya manfaat yang dihasilkan sangat besar dibandingkan investasi yang dikeluarkan," katanya.

Prof Veny mengaku pengalaman akademiknya di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membentuk pandangannya mengenai pentingnya program makan bergizi. 

Ia menyaksikan langsung penerapan program serupa yang telah berjalan di sekolah-sekolah.

Saat itu, ia melihat langsung bagaimana program pemenuhan gizi anak dan pemberian makanan di sekolah dijalankan secara terstruktur.

Kemudian menjadi bagian penting dalam pembangunan kualitas generasi muda.

Karena itu, ketika peluang keterlibatan Unhas dalam program MBG muncul, pihaknya melihat hal tersebut sebagai langkah strategis yang harus didukung kampus.

Menurut Prof Veny, keberadaan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran.

Terlebih berbagai disiplin ilmu lainnya menjadi modal besar bagi Unhas untuk menghadirkan model SPPG berbasis riset dan keilmuan.

SPPG Unhas dinilai dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus penelitian yang berbasis praktik lapangan. 

Dosen dan mahasiswa memiliki kesempatan untuk menguji berbagai inovasi yang berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat.

"Kalau ada SPPG di Unhas, ini menjadi laboratorium yang sangat bagus bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa. Banyak sekali studi internasional yang bisa kita kembangkan karena kita punya laboratorium nyata untuk diteliti dan dievaluasi," ujarnya.

Tidak hanya fokus pada aspek pemenuhan gizi, Unhas juga ingin menjadikan program tersebut sebagai sarana edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang bagi anak-anak.

Prof Veny menjelaskan, salah satu tantangan masyarakat Indonesia saat ini adalah rendahnya keberagaman konsumsi pangan. 

Padahal sumber pangan lokal yang tersedia sangat beragam, mulai dari jagung, umbi-umbian, sagu, sayuran, hingga berbagai sumber protein hewani.

Melalui MBG, anak-anak diharapkan terbiasa mengonsumsi makanan dengan komposisi gizi yang lengkap, seimbang, dan bervariasi.

"Yang ingin ditanamkan bukan hanya anak kenyang, tetapi pemahaman bahwa makan sehat harus lengkap, cukup, dan beragam. Ini investasi jangka panjang untuk kualitas generasi Indonesia," katanya.

Selain melibatkan ahli gizi dan tenaga kesehatan, pembangunan SPPG Unhas juga didukung berbagai fakultas lain.

Termasuk Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Perikanan.

Masing-masing fakultas diminta merancang model rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir agar mampu mendukung kebutuhan dapur MBG dengan standar kualitas yang baik dan harga yang tetap ekonomis.

Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof Dr Syahdar Baba, mengatakan pihaknya mendapat mandat untuk menyiapkan model rantai pasok pangan bagi SPPG. 

Sistem tersebut dirancang agar kebutuhan bahan pangan dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Menurutnya, sejak awal pembentukan program MBG di lingkungan kampus, Unhas membentuk kelompok kerja.

Lalu menyusun strategi keterlibatan seluruh fakultas dalam mendukung program tersebut.

“Unhas memiliki 17 fakultas dan semuanya memiliki peluang untuk berkontribusi. Karena itu kami diminta mendesain model dari hulu hingga hilir agar rantai pasok pangan untuk SPPG bisa berjalan baik,” ujar Prof Syahdar.

Fakultas Peternakan, kata dia, fokus mengembangkan model produksi pangan berbasis riset, terutama untuk komoditas telur yang menjadi salah satu kebutuhan utama dalam program MBG.

Namun yang dikembangkan bukan sekadar penyediaan telur biasa. 

Fakultas Peternakan didorong menghasilkan telur dengan nilai tambah melalui intervensi pakan dan teknologi peternakan yang dikembangkan dari hasil penelitian kampus.

“Kami diminta membuat inovasi. Jadi telur yang masuk ke SPPG bukan hanya tersedia, tetapi memiliki kualitas yang lebih baik berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh dosen dan peneliti,” katanya.

Selain mendukung pasokan pangan, Fakultas Peternakan juga menyiapkan program edukasi kepada siswa penerima manfaat MBG mengenai proses produksi pangan.

Menurut Prof Syahdar, pendekatan tersebut penting untuk membangun empati dan penghargaan generasi muda terhadap petani, peternak, dan seluruh rantai produksi pangan.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa makanan yang mereka konsumsi tidak hadir begitu saja,” ujarnya.

Ia menambahkan Fakultas Peternakan saat ini juga telah menyiapkan berbagai teaching factory.

Mulai dari peternakan ayam modern hingga unit pengolahan hasil ternak yang nantinya dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung SPPG Unhas.(*)

 

.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.