42 Tahun Tinggal di Rumah Gedek dan Lantai Tanah, Kini Mbah Tukiyem Dapat Bedah Rumah
Yoseph Hary W June 04, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Di tengah perbukitan di Kaligatuk, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, terdapat satu unit rumah dengan kondisi sangat memprihatinkan. 

Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com pada Kamis (4/6/2026), terlihat satu unit rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu atau gedek. Bahkan, tidak ada ubin keramik yang bersih, apalagi karpet yang empuk. Yang ada hanyalah permukaan tanah hitam yang mengeras.

42 tahun tinggal di rumah gedek

Rumah itu dihuni oleh seorang nenek bernama Tukiyem. Nenek berusia 66 tahun ini, mengaku selama 42 tahun telah tinggal di rumah gedek tersebut. Ia mengaku, angin malam yang menembus dinding gedek sudah menjadi sahabat sehari-hari.

"Kalau malam ya dingin. Tapi ya mau gimana lagi. Adanya seperti ini. Kadang kalau hujan ya atap juga bocor. Tapi tetap disyukuri yang penting masih bisa tidur dan berteduh," ucap dia.

Selama empat tahun terakhir, ia harus hidup sendiri sebab suaminya telah mangkat dan anak-anaknya telah mentas. Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Tukiyem rela bekerja sebagai buruh harian lepas atau buruh tani. Namun, penghasilannya hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"(Untuk mencukupi kebutuhan hidup) ya kadang-kadang kerja. Kadang kalau musim panen kulo derep (memanen padi). Bayaran gabah. Inggih buruh, buruh tani. Neng mboten mesti (tapi tidak pasti)," ucapnya.

Senang rumah diperbaiki

Kendati begitu, kini raut wajahnya mulai berubah. Senyum sumringah terpancar saat Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Ketua Komisi IV DPR RI, dan sejumlah pihak mengunjungi rumahnya. Pasalnya, pemerintah berencana memberikan perbaikan atau peningkatan kualitas rumah.  

Ia mengaku senang dan mengucap rasa terima kasih kepada pemerintah yang telah menyalurkan tangan dan melakukan perbaikan rumah. Sebab, sebagai seorang janda dan hidup serba pas-pasan, ia mengaku tidak bisa melakukan perbaikan rumah dengan maksimal.

"Kulo remen (saya senang). Matur nuhun (terima kasih) kepada pemerintah, kepada Bapak Presiden yang sudah mau memperbaiki rumah saya. Jadi, nanti saya tidur sudah enggak kedinginan lagi," tuturnya.

Sementara itu, Menteri PKP Indonesia, Maruarar Sirait, berujar, bahwa pihaknya terus berupaya memberikan program bedah rumah berupa bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) kepada masyarakat yang kurang mampu. 

"Tahun lalu, kita telah mengalokasikan 105 unit rumah di DIY. Tahun ini ada 3.000 unit rumah di DIY," katanya.

Adapun alasan pengalokasian BSPS di DIY ini dikarenakan masyarakat masih sangat perlu mendapatkan rumah yang layak. Apalagi, berdasarkan pantauan tersebut ada beberapa rumah yang memprihatinkan, sehingga sangat penting untuk mendapatkan BSPS.

Anggaran bedah rumah

Kehadiran program ini diharapkan dapat memberikan keadilan bagi masyarakat dan menggerakkan perekonomian. Pihaknya berharap, pengerjaan program BSPS sendiri dapat semakin cepat terealisasi sehingga penghuni rumah bisa segera tinggal dengan nyaman.

"Mudah-mudahan tahun depan kita tingkatkan lagi ya. Nanti, 1 Juli kita umumkan (realisasi BSPS pada tahun 2027). Setiap tanggal 1 kami umumkan. Tanggal 1 realisasinya. Anggarannya tadi totalnya Rp8 triliun lebih, khusus bedah rumah," jelas dia.

Nantinya, masing-masing penerima bantuan mendapatkan Rp20 juta guna meningkatkan huniannya. Namun, penerima program tersebut tidak bisa asal-asalan. Setidaknya terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk sudah berkeluarga dan masuk dalam DTSEN.

Selain itu, penerima bantuan program tersebut harus belum pernah memperoleh BSPS, memiliki atau menguasai tanah dengan bukti kepemilikan dan penguasaan yang jelas atau sah, hingga masuk kelompok rumah tangga desil empat ke bawah atau penghasilan maksimal UMK/UMP.

"Contohnya penerima bantuan ini Ibu Tukiyem asal Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, buruh harian lepas, pendapatannya kurang lebih Rp1 jutaan," tutur dia.

Sementara itu, sebagai pengusul, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, berharap, program tersebut dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. 

"Ini pemerintah hanya memberikan Rp20 juta untuk memperbaiki rumah. Selebihnya, ada swadaya dari masyarakat (Rp16,2 juta) untuk membeli kebutuhan bangunan dan renovasi rumah," tutupnya.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.