Laporan Kemenkeu jadi Salah Satu Awal Mula Dugaan Korupsi Dadan CS, Diakui Purbaya: Mungkin
M Zulkodri June 04, 2026 08:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Sejumlah laporan dan hasil pengawasan dari berbagai lembaga negara menjadi awal mula terbongkarnya dugaan korupsi yang dilakukan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Salah satu laporan berasal dari Kementerian Keuangan yang berada di bawah naungan Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, laporan yang disampaikan pihaknya turut menjadi salah satu bahan awal yang digunakan dalam proses penyelidikan hingga akhirnya berujung pada penetapan Dadan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Sejumlah lembaga pengawas dan penegak hukum juga melakukan pemeriksaan secara paralel sebelum data-data tersebut dibandingkan dan dianalisis bersama.

"Mungkin salah satu laporan juga dari kita asalnya kan. Bukan dari kita aja ya. BPKP memeriksa. Kejaksaan meriksa. Semuanya memeriksa, mengecek. Jadi kita tukar-tukar data lah kira-kira," kata Purbaya usai Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Purbaya menjelaskan, pengawasan terhadap penggunaan uang negara melibatkan berbagai institusi agar setiap indikasi pelanggaran dapat ditelusuri secara menyeluruh.

Baca juga: Sosok Sony Sonjaya, Eks Wakil Kepala MBG Surati Nanik S Deyang, Singgung Hadiah yang Diterima

Dari proses itulah, memperoleh informasi yang kemudian menjadi dasar untuk mendalami dugaan penyimpangan yang terjadi di lingkungan BGN.

Sementara terkait pencopotan Dadan dari kursi Kepala BGN, Purbaya menegaskan langkah tersebut merupakan keputusan Presiden Prabowo Subianto setelah melakukan evaluasi terhadap kinerja pimpinan lembaga tersebut.

"Ini keputusan Bapak Presiden setelah melakukan evaluasi terhadap kinerja beliau kan. Kita nggak ikut campur," tegas Purbaya.

Prabowo Endus Kecurangan Dadan

Presiden Prabowo Subianto mencium adanya kecurangan yang dilakukan oleh eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Untuk mengungkapkan kecurigaan tersebut, orang nomor satu di Indonesia ini memanggil Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPKP), Muhammad Yusuf Ateh, serta Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana.

Setelah dilakukan penelurusan mendalam terhadap aliran dana dan pengelolaan anggaran di BGN, terungkap kebohongan yang dilakukan oleh Dadan Hindayana dan dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya.

Kini ketiga orang tersebut harus berurusan dengan hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

Adapun awal mula kecurigaan Prabowo berasal dari banyaknya laporan negatif dari berbagai pihak mengenai kondisi internal lembaga pengelola makanan gratis tersebut.

“Waktu saya mendapat laporan-laporan itu saya panggil Kepala BPKP dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil berapa pejabat lain, saya tanya 'Tolong saya mendapat laporan tentang BGN,” kenang Prabowo.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Prabowo saat memberikan pidato dalam acara bertajuk ‘Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition’ di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan penelusuran, pergerakan senyap ini sejatinya telah diatur sejak awal minggu.

Presiden awalnya dijadwalkan bertemu dengan Kepala BPKP dan Kepala PPATK pada Senin malam (1/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di Istana Jakarta

Namun, pertemuan penting tersebut harus dijadwal ulang karena satu dan lain hal.

Pertemuan rahasia itu akhirnya baru terlaksana pada Selasa siang (2/6/2026) di rumah dinas Widya Chandra.

Di sana, Presiden menerima laporan mengenai hasil penelusuran keuangan dari kedua lembaga pengawas tersebut.

Setelah mengantongi bukti awal, Presiden langsung bergeser untuk menggelar rapat tertutup di Wisma Danantara pada sore harinya.

Baca juga: Awal Mula Prabowo Endus Kecurangan Dadan CS, Kebohongan Terbongkar Usai jadi Tersangka: Saya Sedih

Tak butuh waktu lama setelah rangkaian pertemuan itu, keputusan pencopotan langsung dieksekusi.

Pada Selasa malam, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari mendadak menggelar konferensi pers.

Pengumuman pencopotan pimpinan BGN dilakukan secara resmi di Kantor Presiden, tepat di bawah ruangan tempat Presiden biasa memimpin sidang kabinet paripurna.

Prabowo menegaskan bahwa laporan mengenai kekurangan dan penyelewengan di BGN sebenarnya sudah lama masuk ke mejanya.

Menurutnya, kegagalan atau kerusakan di dalam sebuah lembaga selalu berhulu dari kualitas para pimpinannya.

“Dalam setiap organisasi selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar. Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak bener, tidak kompeten, atau tidak jujur,” tegas Presiden.

Jejak Karier Dadan Hindayana

Sebelum dikenal sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana merupakan akademisi yang memiliki karier panjang di dunia pendidikan dan pertanian.

Pria kelahiran Garut, Jawa Barat, tahun 1967 itu menyelesaikan pendidikan Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1990 sebagai lulusan terbaik Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.

Ia kemudian melanjutkan studi ke Jerman dan meraih gelar doktor bidang Entomologi Terapan dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover pada periode 1997 hingga 2000.

Sejak tahun 1992, Dadan mengabdikan diri sebagai dosen di Departemen Proteksi Tanaman IPB.

Kariernya terus berkembang hingga menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB, Direktur Ad Interim Kerja Sama IPB, hingga Ketua STPK Banau Halmahera Barat.

Di dunia akademik, Dadan dikenal aktif dalam penelitian dan pengembangan sumber daya manusia, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Nama Dadan mulai dikenal luas publik ketika dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional yang dibentuk pemerintah pada 2024.

Ia dilantik Presiden Joko Widodo pada 19 Agustus 2024 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 94P Tahun 2024.

Saat itu, BGN merupakan lembaga baru yang belum memiliki struktur organisasi lengkap.

Dadan bahkan pernah menceritakan pengalaman unik ketika dilantik sebagai kepala badan.

Menurutnya, saat itu ia datang sendirian tanpa didampingi protokoler karena BGN belum memiliki pegawai.

"Saya dilantik sendirian tanpa diantar protokoler karena memang belum ada pegawai satu pun di Badan Gizi Nasional," ujarnya dalam sebuah kesempatan pada Agustus 2025.

Selama memimpin BGN, Dadan menjadi figur utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Sepanjang kariernya, Dadan menerima berbagai penghargaan dan tanda jasa dari pemerintah maupun lembaga lainnya.

Beberapa di antaranya adalah Satyalancana Karya Satya X Tahun, XX Tahun, dan XXX Tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Ia juga pernah menerima penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa serta menjadi warga kehormatan di Kabupaten Halmahera Barat dan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan.

(Bangkapos.com/TribunJatim.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.