Rupiah Terus Tertekan, Ekonom Unand Minta Sumbar Perkuat Pariwisata dan Ekspor Produk Lokal
Rezi Azwar June 04, 2026 08:46 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai akan tetap berdampak pada perekonomian Sumatera Barat meskipun tekanan kurs terjadi pada level nasional.

Ekonom Unand, Syafruddin Karimi, menyebut dampak pelemahan rupiah bakal masuk melalui berbagai sektor yang berkaitan dengan kebutuhan impor dan aktivitas ekonomi masyarakat.

"Sumatera Barat tetap akan merasakan dampak pelemahan rupiah meskipun tekanan kurs terlihat sebagai isu nasional," ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Menurut Syafruddin, dampak tersebut dapat dirasakan melalui kenaikan harga barang impor, biaya transportasi, pupuk, pakan, obat-obatan, bahan baku UMKM, komponen usaha kuliner, hingga kebutuhan pendidikan dan perjalanan ke luar negeri.

Untuk itu, ia menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Baca juga: Rupiah Melemah, Kadin Sumbar Sebut Dolar Tak Terlalu Berdampak karena Didominasi Industri Kecil

"Pemda perlu mengantisipasi melalui stabilisasi harga pangan, penguatan distribusi antardaerah, pengendalian inflasi daerah, dan perlindungan UMKM yang memakai input impor," ujarnya.

Tak hanya langkah pengendalian harga dan inflasi, Sumatera Barat juga perlu memperkuat sumber-sumber devisa daerah guna meningkatkan ketahanan ekonomi.

Sektor yang dapat dikembangkan antara lain pariwisata berkualitas, ekspor produk halal, kopi, gambir, rendang, produk agroindustri, ekonomi kreatif, serta penguatan jejaring diaspora Minang.

"Masyarakat juga perlu melakukan langkah antisipatif dalam mengelola keuangan rumah tangga," sebutnya.

Syafruddin menyarankan masyarakat menjaga pola konsumsi secara rasional, menghindari utang konsumtif berbunga tinggi, memperkuat tabungan, serta mendukung penggunaan produk lokal.

Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp18.040 per Dolar AS, Ekonom Unand Sebut Alarm Risiko Ekonomi Indonesia

Ia juga menyoroti peran lembaga keuangan daerah dalam mendukung sektor produktif. Kata dia, Bank Nagari dapat mengambil peran lebih aktif dengan menyalurkan pembiayaan produktif kepada UMKM yang berorientasi ekspor, sektor pertanian olahan, perdagangan lokal, dan usaha pariwisata.

Meski berdampak terhadap berbagai sektor, Syafruddin menyebut Sumatera Barat memiliki peluang untuk menjadikan tekanan akibat pelemahan rupiah sebagai momentum memperkuat ekonomi daerah.

"Jadi, pelemahan rupiah berdampak nyata, tetapi Sumbar bisa mengubah tekanan itu menjadi momentum memperkuat ekonomi lokal berbasis produksi," tutupnya.

Kadin Sebut Dolar Tak Terlalu Berdampak di Sumbar

NILAI RUPIAH MELEMAH - Ketua Umum Kadin Sumbar, Buchari Bachter, saat ditemui di Hunsela Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang beberapa waktu lalu. Buchari sebut pelemahan nilai tukar rupiah belum terlalu berdampak di Sumbar, Kamis (4/6/2026).
NILAI RUPIAH MELEMAH - Ketua Umum Kadin Sumbar, Buchari Bachter, saat ditemui di Hunsela Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang beberapa waktu lalu. Buchari sebut pelemahan nilai tukar rupiah belum terlalu berdampak di Sumbar, Kamis (4/6/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar, Buchari Bachter menilai pelemahan nilai tukar rupiah belum terlalu berdampak untuk Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Pernyataan itu ia sampaikan saat dikonfirmasi TribunPadang.com pada Kamis (4/6/2026).

Untuk diketahui, nilai kurs rupiah terus melemah, hingga saat ini tercatat untuk 1 Dolar AS setara Rp18.025

Kata Buchari, industri besar tidak terlalu banyak, sehingga nilai kurs rupiah yang melemah tidak terlalu berdampak untuk Sumbar.

"Untuk sementara belum," ucapnya saat memberikan keterangan via pesan WhatsApp.

Baca juga: Solar Subsidi di Sumbar Diduga Banyak Tersedot ke PETI, Satu Titik Bisa Habiskan 1 Ton

Sementara di sisi lain, industri kecil cukup banyak di Sumbar. Hanya saja, juga belum berdampak besar terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Di Sumbar kebanyakan industri kecil, jadi dampak PHK tidak terlalu besar," sebut Ketua Kadin Sumbar itu.

Akan tetapi, ia mengatakan bakal ada pengurangan produksi, apalagi industri terkait bahan baku impor.

Salah satu bahan baku yang diimpor jagung untuk pakan ternak, seperti peternakan ayam (DOC).

"Sepertinya perlu pengurangan produksi, seperti bahan baku impor," tambahnya.

Ekonom Unand Sebut Alarm Risiko Ekonomi Indonesia

Syafruddin Karimi, Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Universitas Andalas (Unand)
Syafruddin Karimi, Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Universitas Andalas (Unand) (ISTIMEWA/DOK.UNAND)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut, dinilai sebagai sinyal serius bagi perekonomian Indonesia.

Ekonom Unand, Syafruddin Karimi menyebut pelemahan rupiah tidak bisa dibaca hanya sebagai pergerakan teknis pasar valuta asing semata.

Menurutnya, ketika kurs USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di level 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia.

"Pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal serius, bukan sekadar pergerakan teknis pasar valuta asing. Ketika USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia," ucap Syafruddin Karimi saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Kata dia, tekanan terhadap rupiah semakin kuat karena terjadi bersamaan dengan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau JKSE sekitar 3,48 persen.

Baca juga: Kodam Cari Saksi, Minta Warga Laporkan Suara Dentuman Terkait Kasus Peluru Nyasar di UNP

Menurut Syafruddin, kondisi tersebut menunjukkan investor tidak hanya melepas rupiah, tetapi juga mengurangi eksposur pada aset Indonesia.

"Situasi ini menunjukkan pola risk-off: pasar meminta premi risiko lebih tinggi karena menilai stabilitas rupiah, prospek laba emiten, dan kredibilitas kebijakan sedang diuji," ujarnya.

Ia juga menilai Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang tetap positif dan inflasi yang relatif terkendali.

Akan tetapi, pasar tidak hanya melihat kondisi saat ini, melainkan juga mempertimbangkan berbagai risiko ke depan, termasuk biaya impor, beban utang valas, arus modal, serta kemampuan kebijakan dalam menjaga kepercayaan.

Perihal penyebab pelemahan rupiah, Syafruddin menyebut kondisi tersebut merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Baca juga: Polisi Bakar Pondok Tambang Emas Ilegal di Pasaman Barat, Sita Puluhan Jeriken Solar

Dari sisi eksternal, gejolak global, suku bunga internasional yang tinggi, harga energi, ketegangan geopolitik, serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman membuat dolar AS tetap kuat.

Sedangkan dari sisi domestik, rupiah menghadapi tekanan karena Indonesia masih bergantung pada impor strategis, mulai dari bahan baku industri, energi, pangan tertentu, obat-obatan hingga barang modal.

"Ketika rupiah melemah, kebutuhan dolar dari importir dan korporasi meningkat. Investor asing juga menghitung return dalam dolar AS. Jika rupiah turun lebih dalam, keuntungan saham atau obligasi dalam rupiah bisa hilang setelah dikonversi ke dolar," jelasnya.

Ia menambahkan, data kawasan menunjukkan rupiah lebih rentan dibandingkan beberapa mata uang negara ASEAN lainnya.

Menurut Syafruddin, hal tersebut menunjukkan pasar tidak hanya merespons kekuatan dolar AS, tetapi juga menilai risiko spesifik Indonesia.

Baca juga: Daftar Jenis Pelanggaran Incaran Polisi dalam Operasi Patuh Singgalang 2026

"Struktur ekspor yang belum cukup bernilai tambah, ketergantungan pada komoditas, dan sensitivitas terhadap arus portofolio membuat rupiah cepat tertekan ketika sentimen global memburuk," katanya.

Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, Syafruddin menilai langkah yang diperlukan harus dilakukan dalam tiga lapis.

Pertama, Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas pasar valuta asing melalui intervensi terukur, pengelolaan likuiditas, operasi moneter yang kredibel, serta komunikasi yang jelas.

Ia menyebut kenaikan BI-Rate ke 5,25 persen menunjukkan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas.

"Langkah ini perlu disertai pesan kebijakan yang konsisten agar pasar tidak menebak-nebak arah otoritas," sebutnya.

Baca juga: Latifa Jemaah Termuda Sumbar Tiba di Padang, Tunaikan Haji Gantikan Almarhum Ayah

Kedua, pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dengan mengarahkan belanja negara pada sektor produktif, bukan hanya konsumsi jangka pendek.

Menurutnya, defisit, subsidi, dan utang harus dikelola secara hati-hati agar investor tidak meminta premi risiko tambahan.

Ketiga, sektor riil harus memperkuat fondasi rupiah melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pendalaman hilirisasi, penguatan industri domestik, pengurangan impor strategis, serta menarik investasi langsung yang menghasilkan devisa.

"Stabilitas rupiah tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga. Rupiah akan lebih kuat jika ekonomi menghasilkan devisa secara berkelanjutan," tambahnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.