Sepeda Masih Terparkir, Tapi Kamaludin Raib di Sungai Butun, Warga Ketakutan: Di Sini Banyak Buaya
M Zulkodri June 04, 2026 09:03 PM

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA BARAT--Suasana tepi Sungai Butun, Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, tampak mencekam pada Kamis (4/6/2026).

Di tengah aliran sungai yang tenang namun gelap, tim SAR gabungan bersama warga terus melakukan pencarian terhadap Kamaludin (58–60), seorang warga yang dilaporkan hilang secara misterius sejak sehari sebelumnya.

Hingga hari kedua pencarian, tidak ada tanda-tanda keberadaan korban.

Yang tersisa di lokasi justru benda-benda pribadi Kamaludin yang masih tertinggal rapi, seolah waktu berhenti tepat di tempat terakhir ia terlihat.

Di antara rerumputan dan tanah lembab dekat pondok kebun sawit miliknya, sebuah sepeda ontel tua masih berdiri diam.

Di atasnya tergantung tas anyaman suyak dan tudung caping yang biasa digunakan korban saat bekerja di kebun.

Tak jauh dari situ, pondok sederhana miliknya juga masih berdiri, menjadi saksi bisu sebelum Kamaludin menghilang tanpa jejak.

Jarak pondok tersebut ke bibir Sungai Butun hanya sekitar 100 meter.

Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga sekitar itu kini berubah menjadi pusat kecemasan, terutama karena dikenal sebagai habitat buaya liar.

Pencarian Diperluas, Sungai Disisir Siang dan Malam

Sejak laporan hilangnya Kamaludin diterima, tim SAR dari USS Mentok bersama aparat kepolisian, relawan, dan warga setempat langsung dikerahkan ke lokasi.

Pencarian dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari penyisiran darat, penyelaman di titik-titik tertentu, hingga penggunaan perahu untuk menyusuri aliran sungai.

Pantauan di lapangan, sejumlah warga tampak berjibaku di tepi sungai.

Ada yang berjalan menyusuri pinggiran aliran air, sementara lainnya turun langsung menyelam di bagian sungai yang kedalamannya mencapai lebih dari dua meter.

Perahu karet dan perahu kayu milik warga juga beberapa kali terlihat hilir mudik, menyisir area yang dianggap sebagai titik kemungkinan korban berada.

Namun hingga siang hari, hasilnya masih nihil.

“Saat ini kami masih fokus melakukan penyisiran di beberapa titik yang diduga menjadi lokasi terakhir korban terlihat,” ujar Mikel, Kepala Kantor SAR Pangkalpinang (Basarnas Babel).

Ia menambahkan bahwa seluruh unsur gabungan terus bekerja tanpa henti, meski kondisi medan cukup sulit dan arus sungai tidak sepenuhnya stabil.

Baca juga: Purbaya Tanggapi Isu Mundur dari Jabatan Menteri Keuangan, Tegaskan Tetap Fokus Jalankan Tugas

PENCARIAN KAMAL — Tim SAR Gabungan bersama warga menyusuri sungai mencari Kamal, yang hilang di sekitar kebun dekat Sungai Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, Kamis (4/6/2026).
PENCARIAN KAMAL — Tim SAR Gabungan bersama warga menyusuri sungai mencari Kamal, yang hilang di sekitar kebun dekat Sungai Desa Tugang, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, Kamis (4/6/2026). (Istimewa/SAR Pangkalpinang)

Barang Korban Masih Lengkap, Jejak Misterius di Pinggir Sungai

Yang membuat peristiwa ini semakin misterius adalah ditemukannya sejumlah barang milik Kamaludin yang masih berada di sekitar pondok kebunnya.

Sepeda ontel, alat kerja, hingga barang-barang pribadi masih dalam kondisi utuh.

Tidak ada tanda-tanda perlawanan maupun jejak yang jelas mengenai arah kepergian korban.

Warga yang pertama kali menemukan kondisi tersebut langsung melaporkan ke pihak keluarga, yang kemudian memicu pencarian besar-besaran sejak Rabu sore (3/6/2026).

Keluarga korban yang datang ke lokasi tampak terpukul. Mereka hanya bisa menunggu di sekitar pondok, berharap Kamaludin segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Baca juga: Diduga Diintimidasi Oknum Polwan, Korban KDRT di Takalar Cabut Laporan, Kasus Mandek

Sungai Butun dan Bayang-Bayang Buaya

Namun harapan itu dibayangi rasa cemas yang besar. Sungai Butun bukanlah sungai biasa bagi warga Desa Tugang.

Sejak lama, kawasan ini dikenal sebagai habitat buaya liar yang kerap muncul di permukaan air.

Seorang warga setempat bahkan mengaku jumlah buaya di sungai tersebut sulit dipastikan.

“Banyak kalau buaya di sini, sudah enggak bisa dihitung lagi,” ujar salah satu warga yang ikut dalam pencarian.

Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, di mana seorang warga pernah diterkam buaya saat memancing di sungai yang sama.

“Dulu ada yang diterkam, waktu itu lagi mancing. Pas ketemu sudah tidak utuh lagi,” ungkapnya dengan nada pelan.

Cerita itu membuat proses pencarian kali ini berlangsung dengan penuh kewaspadaan. Setiap pergerakan di air harus dilakukan dengan hati-hati, karena ancaman satwa liar bisa datang kapan saja.

Kronologi Hilangnya Kamaludin

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kamaludin terakhir kali terlihat pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Saat itu ia diketahui masih berada di area kebunnya seperti biasa.

Namun setelah waktu magrib berlalu, ia tidak kunjung pulang ke rumah. Keluarga yang mulai khawatir kemudian menyusul ke kebun. 

Sesampainya di lokasi, mereka tidak menemukan Kamaludin, hanya menemukan sepeda dan barang-barangnya.

Kondisi itu langsung memicu kepanikan. Warga sekitar kemudian ikut membantu pencarian hingga malam hari, namun hasilnya tetap nihil.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim rescuer dari USS Mentok segera dikerahkan menuju lokasi kejadian pada pukul 07.50 WIB hari ini dan langsung melakukan upaya pencarian.

"Saat ini tim sudah bergerak ke lokasi di sekitar Sungai Desa Tugang. Kami bersama unsur masyarakat fokus melakukan pencarian terhadap korban dengan melakukan penyisiran ke area-area yang difokuskan menjadi titik pencarian," ujar Mikel, Kakansar Pangkalpinang (Basarnas Babel), Kamis (4/6/2026).

Hingga saat ini, proses pencarian terus dilakukan, termasuk menyusuri sungai. Namun, belum ada tanda-tanda ditemukannya keberadaan korban.

Pencarian Masih Berlanjut

Baca juga: Sosok Silmy Karim Dari Pejabat Berharta Rp234 Miliar hingga Terseret Kasus KPK

Hingga Kamis sore, Kamaludin belum juga ditemukan.

Tim SAR menyatakan bahwa operasi pencarian akan terus dilanjutkan dengan memperluas area hingga beberapa kilometer dari titik awal dugaan hilangnya korban.

Selain menyisir sungai, tim juga memeriksa area rawa, semak-semak, dan jalur darat di sekitar kebun sawit milik korban.

Meski kondisi medan berat, tim gabungan tetap berupaya maksimal.

“Kami akan terus melakukan pencarian sampai ada kejelasan keberadaan korban,” tegas petugas di lokasi.

Harapan di Tengah Ketegangan

Di tengah suasana mencekam, keluarga korban masih bertahan di sekitar lokasi.

Mereka berharap Kamaludin segera ditemukan, apa pun kondisinya.

Sementara itu, warga sekitar juga ikut berjaga, sebagian membantu pencarian, sebagian lainnya hanya bisa mengamati dari kejauhan dengan rasa was-was.

Sungai Butun yang biasanya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi tempat penuh tanda tanya.

Sepeda yang masih terparkir di tepi kebun menjadi saksi bisu, sementara keberadaan Kamaludin masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Pemancing hilang di Sungai Nyireh

Seorang warga Desa Delas, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dilaporkan hilang saat memancing di Sungai Nyireh, Kamis (16/4) pagi. Korban diduga diterkam buaya di kawasan Ilir Lubuk Banti, sekitar 40 meter dari hulu pondok memancing milik warga setempat.

Penjabat Kepala Desa Delas, Tanjaya, mengungkapkan korban bernama Doli (38), seorang buruh harian. 

Ia diketahui berangkat memancing bersama rekannya, Kandi (42), sejak Rabu (15/4) sore dan bermalam di pondok di tepi sungai.

“Korban bersama rekannya memang sudah berada di lokasi sejak sore untuk memasang pancing dan bermalam di pondok. Diduga diterkam buaya,” ujar Tanjaya saat dikonfirmasi. 

Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 09.15 WIB. 

Saat itu, korban berpamitan kepada rekannya untuk lebih dulu menuju titik pemasangan pancing menggunakan perahu sampan. Namun, beberapa saat setelah berangkat, situasi berubah mencekam.

Kandi mengaku mendengar teriakan minta tolong dari arah sungai. Ia kemudian bergegas menyusul menggunakan perahu. Setibanya di lokasi, ia hanya menemukan perahu milik korban dalam kondisi terbalik di tengah sungai, sementara korban sudah tidak terlihat.

“Saksi hanya melihat perahu terbalik dan korban sudah hilang dari permukaan air,” kata Tanjaya.

PENCARIAN DI SUNGAI NYIREH -- Tim SAR ketika melakukan pencarian warga hilang di Sungai Nyireh, Desa Delas, Minggu (19/4/2026). Pencarian dilakukan terhadap Doli (38) warga setempat yang hilang akibat serangan buaya ketika tengah mencari ikan.
PENCARIAN DI SUNGAI NYIREH -- Tim SAR ketika melakukan pencarian warga hilang di Sungai Nyireh, Desa Delas, Minggu (19/4/2026). Pencarian dilakukan terhadap Doli (38) warga setempat yang hilang akibat serangan buaya ketika tengah mencari ikan. (Istimewa/ dok Basarnas)

Di sekitar lokasi kejadian, saksi juga melihat buih di permukaan air yang diduga berasal dari pergerakan hewan buas.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban diserang buaya. 

Karena khawatir, saksi tidak berani melakukan pencarian seorang diri.

Kandi kemudian kembali ke daratan untuk meminta bantuan warga. Informasi tersebut dengan cepat menyebar dan memicu kepanikan masyarakat setempat. Warga yang berada di sekitar lokasi, termasuk yang sedang berkebun, langsung menuju sungai untuk melakukan pencarian awal.

Upaya pencarian terus dilakukan hingga siang hari dengan melibatkan ratusan warga. Mereka menyisir aliran Sungai Nyireh menggunakan perahu sampan dan menyusuri bantaran sungai secara manual.

“Kurang lebih ada 150 warga yang ikut melakukan pencarian di lokasi,” ujar Tanjaya.

Warga membagi diri dalam beberapa kelompok kecil agar pencarian lebih efektif dan menjangkau area yang lebih luas. Meski kondisi medan cukup sulit dan terdapat potensi bahaya dari satwa liar, upaya pencarian tetap dilakukan secara maksimal.

Sekitar pukul 16.10 WIB, tim SAR dari Bangka Selatan tiba di lokasi untuk membantu proses pencarian. Tim tersebut langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa, aparat keamanan, serta unsur masyarakat guna menyusun strategi pencarian.

“Tim SAR sudah turun dan berkoordinasi dengan semua pihak di lokasi,” kata Tanjaya.

Hingga pukul 18.00 WIB, korban belum ditemukan dan pencarian masih terus berlangsung.

Dugaan korban hilang akibat serangan buaya semakin menguat berdasarkan kondisi di lokasi kejadian, yang diketahui merupakan habitat satwa tersebut.

Pemerintah desa mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai.

“Kami mengimbau warga agar berhati-hati, mengingat Sungai Nyireh memang menjadi habitat buaya,” ujar Tanjaya.

Doli diketahui merupakan seorang duda dengan satu orang anak. Warga berharap korban segera ditemukan dan proses pencarian dapat segera membuahkan hasil.(*)

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra/Cepi Marlianto)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.