TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Demam Piala Dunia 2026 tak hanya identik dengan berburu jersey atau mencari titik-titik nonton bareng.
Satu di antaranya yang tak kalah digemari adalah berburu kartu bergambar idola pada kartu koleksi Panini edisi Piala Dunia 2026.
Selain kartu, Panini juga menyediakan edisi stiker khusus Piala Dunia.
Adapun di Kota Semarang, kartu ini menjadi buruan para pecinta sepak bola, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Baca juga: Babak Baru Kasus Pelecehan Kiai Abi Jamroh di Jepara, Istri Pelaku Lapor Polisi Soal Perzinaan
Baca juga: Truk Patah As di JLS Pati Bikin Jalur Pantura Macet Berjam-jam, Polisi Berlakukan Buka-Tutup
Salah satu lokasi yang menjadi tujuan para kolektor adalah Kidz Station di DP Mall Semarang.
Sales Associate Kidz Station DP Mall Semarang, Faisal, mengatakan antusiasme pembeli datang dari berbagai kalangan usia.
Bahkan, mayoritas pembelinya justru orang dewasa yang memiliki hobi mengoleksi memorabilia sepak bola.
"Banyak yang cari dari semua usia, bukan hanya anak-anak. Dewasa juga banyak. Ini lumayan laku keras," ujar Faisal kepada tribunjateng.com, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, daya tarik kartu Panini terletak pada sistem pembelian yang bersifat acak atau random.
Dalam satu paket seharga Rp45 ribu, pembeli akan mendapatkan delapan kartu pemain yang tidak bisa dipilih sebelumnya.
"Isinya random, jadi kalau misal cari pemain tertentu belum tentu dapat dalam satu pack. Mereka rata-rata beli untuk berburu kartu idolanya," katanya.
Selain paket reguler, tersedia pula album koleksi seharga Rp380 ribu yang berisi 24 kartu serta album penyimpanan resmi.
Karena sifatnya acak, banyak kolektor yang membeli lebih dari satu paket sekaligus demi memperbesar peluang mendapatkan pemain favorit mereka.
"Biasanya beli satu sampai tiga pack. Kalau Pokémon kadang langsung satu box, tapi kalau Panini Piala Dunia ini mereka coba-coba dulu," tambahnya.
Salah satu kolektor asal Semarang, Fachri Anantyo, mengaku mulai mengoleksi kartu Panini sejak 2024.
Penggemar Barcelona, PSIS Semarang, dan Timnas Argentina itu menilai edisi Piala Dunia 2026 memiliki nilai historis tersendiri.
"Momennya menarik. Ini bisa jadi Piala Dunia terakhir Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, sekaligus Piala Dunia pertama Lamine Yamal. Momen seperti ini selalu berbeda dibanding turnamen lain," ujarnya.
Menurut Fachri, kemudahan mendapatkan kartu Panini di sejumlah pusat perbelanjaan di Semarang turut membuat tren koleksi semakin berkembang.
"Sekarang gampang dapatnya. Ada di Kidz Station DP Mall, Paragon, The Park, sampai 23 Mall Semarang," katanya.
Meski Panini juga menghadirkan versi stiker, Fachri lebih memilih kartu koleksi karena dinilai lebih fleksibel untuk disimpan maupun dijadikan memorabilia jangka panjang.
"Kalau pemain-pemain itu suatu saat datang ke Indonesia, kartunya bisa dimintai tanda tangan. Kalau stiker agak susah," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu sensasi utama mengoleksi Panini adalah unsur keberuntungan saat membuka paket kartu.
Tidak sedikit kolektor yang harus membeli puluhan paket untuk mendapatkan kartu pemain incarannya.
"Memang rezeki-rezekian," katanya.
Selain menjadi hobi, beberapa kartu langka juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi di kalangan kolektor.
Fachri menyebut pernah menemukan kartu Lionel Messi dijual hingga Rp400 ribu di platform jual beli daring.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kartu Panini kini tidak sekadar menjadi mainan atau pelengkap turnamen sepak bola, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari budaya koleksi yang diminati banyak penggemar sepak bola.
"Buat saya, kartu Panini itu bukan sekadar kartu pemain. Ada nilai kenangan dari setiap turnamen. Makanya setiap Piala Dunia selalu menarik untuk dikoleksi," pungkasnya. (*)