Masuk Musim Kemarau, Kebakaran Hutan dan Lahan Mulai Landa Sejumlah Wilayah Sumbar
Rezi Azwar June 04, 2026 09:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terjadi di Sumatera Barat seiring memasuki musim kemarau. 

Dinas Kehutanan Sumbar mencatat kebakaran terjadi di kawasan sekitar Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, tepatnya di dekat kawasan wisata Puncak Gagoan.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, mengatakan kebakaran tersebut dilaporkan terjadi sekitar tiga hari lalu dan diduga berawal dari aktivitas perladangan masyarakat.

"Sudah mulai. Kemarin kita dapat laporan terjadi kebakaran di daerah sekitar Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, dekat Puncak Gagoan. Apinya memang berawal dari perladangan masyarakat," kata Ferdinal Asmin saat diwawancarai. TribunPadang.com, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, api berhasil dipadamkan oleh masyarakat bersama kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berada di lokasi.

Baca juga: Dampak Rupiah Melemah, Harga Plastik di Pasar Raya Padang Tembus Rp48 Ribu Sekilo

Saat ini, tim Dinas Kehutanan Sumbar masih berada di lapangan untuk melakukan pengecekan dan pendataan terkait luas area yang terdampak kebakaran.

"Kita sedang menurunkan tim untuk mengecek luasan kebakaran. Diperkirakan luasnya sekitar satu hektare," ujarnya.

Titik Panas Terdeteksi di Pessel dan Pasaman Barat

Selain kejadian di Solok, Dinas Kehutanan Sumbar juga terus memantau kemunculan titik panas atau hotspot melalui sistem pemantauan Sipongi.

Dari hasil pemantauan tersebut, sejumlah hotspot terdeteksi di Kabupaten Pesisir Selatan dan Pasaman Barat.

Di Pesisir Selatan, titik panas banyak ditemukan di wilayah Lunang dan Tapan yang didominasi kawasan perkebunan. 

Sementara di Pasaman Barat, hotspot juga terpantau berada di area perkebunan.

Baca juga: WPR dan IPR Masih Berproses, ESDM Sumbar Harap Penambang Beralih ke Jalur Legal

Ferdinal mengingatkan seluruh pihak, baik masyarakat maupun perusahaan pengelola lahan, untuk tidak melakukan pembakaran selama musim kemarau.

"Kita mengharapkan kepada seluruh pihak, baik pengelola lahan, swasta maupun masyarakat dan petani, selama musim kemarau ini untuk menghindari aktivitas membakar agar tidak menyebabkan kebakaran yang tidak terkendali," katanya.

70 Persen Karhutla Dipicu Pembukaan Lahan

Menurut Ferdinal, sekitar 70 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan di Sumbar selama ini dipicu aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat.

Biasanya, kebakaran bermula dari pembakaran sisa-sisa pembersihan lahan yang kemudian merambat akibat kondisi cuaca dan angin yang sulit diprediksi.

"Hampir 70 persen kebakaran hutan itu berada di lahan perladangan masyarakat. Setelah membuka lahan, sisa-sisa pembersihan dibakar. Kadang api tidak terpantau dan pada daerah rawan kebakaran bisa cepat merambat karena pengaruh angin," ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Gagoan yang memiliki karakteristik tiupan angin cukup kuat dari arah danau sehingga api mudah menyebar ke area lain.

Siagakan Brigade dan Petakan Daerah Rawan

Menghadapi musim kemarau tahun ini, Pemprov Sumbar telah mengambil sejumlah langkah antisipasi. 

Salah satunya melalui surat edaran Gubernur Sumbar kepada seluruh bupati dan wali kota untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla.

Selain itu, patroli rutin terus dilakukan oleh petugas kehutanan sekaligus memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya kebakaran selama musim kemarau.

"Kita juga sudah menyiapkan brigade-brigade pengendalian kebakaran hutan di masing-masing UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan untuk siap siaga selama musim kemarau," katanya.

Ferdinal menyebut terdapat sejumlah daerah yang menjadi perhatian karena memiliki tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi, yakni Pesisir Selatan, Solok Selatan, Dharmasraya, Sijunjung, Agam, Solok, Limapuluh Kota, Pasaman dan Pasaman Barat.

Baca juga: Pilu dan Bahagia, Cerita Jemaah Haji Padang Berjuang Lawan Batuk Pilek dan Cuaca Ekstrem di Makkah

Karena itu, koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI dan Polri, terus diperkuat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi kebakaran.

"Kemarin kita juga sudah melakukan apel siaga dan mengoordinasikan dengan para pihak agar siap siaga selama musim kemarau," ujarnya.

Ferdinal mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari tindakan-tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan.

Ia mencontohkan kejadian kebakaran yang pernah terjadi di kawasan wisata Lembah Harau yang diduga dipicu kelalaian pengunjung membuang puntung rokok.

"Kita harapkan masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar. Kelalaian-kelalaian seperti membuang puntung rokok sembarangan juga harus dihindari. Pengelola kawasan wisata dan perusahaan perkebunan juga harus meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau ini," tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.