Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya memperkuat transformasi industri hasil hutan nasional melalui penyelenggaraan Indo Wood Expo 2026 yang resmi dibuka di Grand City Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Pameran internasional tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Ekonomi Kreatif, pelaku industri furnitur dan kehutanan, investor, buyer internasional, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri.
Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur Jumadi mengatakan Indo Wood Expo 2026 bukan sekadar ajang pameran produk kayu dan furnitur.
Kegiatan ini diharap bisa menjadi ruang kolaborasi strategis untuk memperkuat investasi, inovasi, dan transformasi industri kehutanan yang berkelanjutan.
"Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan geopolitik, dan meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk berkelanjutan, industri hasil hutan Indonesia justru menghadapi momentum baru. Dunia tidak hanya membutuhkan produk kayu berkualitas, tetapi juga produk yang berkelanjutan secara ekologis, menguntungkan secara ekonomi, dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat," kata Jumadi.
Baca juga: Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka di Kota Surabaya, Ajang Pameran Lintas Museum di Indonesia
Menurut Jumadi, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam rantai nilai industri kehutanan nasional.
Saat ini Jawa Timur menjadi salah satu pusat industri pengolahan kayu terbesar di Indonesia dengan sekitar 1.332 unit industri pengolahan kayu yang menghasilkan berbagai produk unggulan seperti plywood, furnitur, moulding, engineered wood, dan produk kreatif berbasis kayu lainnya yang telah menembus pasar Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, dan berbagai negara lainnya.
Nilai ekspor produk hasil hutan dan industri kayu Jawa Timur saat ini mencapai sekitar USD 2,5 miliar, menjadikan sektor ini sebagai salah satu kontributor penting bagi perekonomian daerah maupun nasional.
Keunggulan Jawa Timur, lanjut dia, tidak hanya terletak pada kapasitas industrinya, tetapi juga pada kekuatan ekosistem kehutanan yang terintegrasi.
Mulai dari produksi kayu hutan rakyat sebesar 3,5–4 juta meter kubik per tahun, dukungan Perhutani dan perhutanan sosial, pasokan kayu antar wilayah, tenaga kerja terampil, pelabuhan internasional, lembaga pendidikan, pusat inovasi, hingga jaringan ekspor global yang saling terhubung.
Untuk memperkuat daya saing industri hasil hutan nasional, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong empat agenda strategis, yaitu:
1. Memperkuat hilirisasi hasil hutan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
2. Memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
3. Memperluas akses pasar global melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi keberlanjutan, dan inovasi desain.
4. Mempercepat pembangunan ekonomi hijau yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Salah satu inovasi yang telah dikembangkan Jawa Timur adalah Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan Rakyat (SIPUHH-R) yang mendukung ketelusuran asalusul kayu rakyat sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan sertifikasi keberlanjutan.
Jumadi juga mengajak seluruh pelaku industri memanfaatkan Indo Wood Expo 2026 sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri hasil hutan dunia.
"Dari Surabaya, kita kirimkan optimisme kepada dunia bahwa industri kayu Indonesia tidak sedang berjalan mengikuti perubahan global, tetapi Indonesia sedang memimpin perubahan itu. Hutan bukan hanya warisan yang harus dijaga. Hutan adalah modal masa depan yang harus dikelola secara bijak untuk kesejahteraan rakyat," ujarnya.
"Melalui Indo Wood Expo 2026, Jawa Timur berharap terbangun kemitraan yang semakin kuat antara pemerintah, industri, investor, masyarakat, dan pasar global sehingga mampu mempercepat transformasi industri kehutanan nasional menuju industri yang produktif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan," tutupnya