TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dua insiden yang terjadi dalam rentang setahun terakhir mulai mengubah cara dunia memandang kemampuan teknologi militer China.
Setelah rudal udara-ke-udara PL-15E buatan Beijing diklaim berhasil menjatuhkan jet tempur Rafale milik India pada 2025, kini muncul dugaan bahwa rudal dan radar buatan China kembali berperan dalam jatuhnya pesawat tempur F-15 Angkatan Udara Amerika Serikat di Iran pada 2026.
Jika kedua peristiwa tersebut terbukti benar, maka China tidak lagi dipandang sekadar sebagai peniru teknologi militer Barat.
Sebaliknya, Beijing mulai dianggap mampu menguji sekaligus menantang dominasi platform tempur paling canggih yang selama ini menjadi simbol superioritas Amerika Serikat dan sekutunya.
Pada Mei 2025, Pakistan mengejutkan dunia setelah mengklaim berhasil menembak jatuh sejumlah jet tempur Rafale milik Angkatan Udara India menggunakan rudal udara-ke-udara PL-15E buatan China.
Pihak India mengakui kehilangan satu Rafale, namun menyatakan pesawat tersebut jatuh akibat gangguan teknis di ketinggian tinggi.
New Delhi juga mengklaim berhasil menghancurkan hingga 14 pesawat Pakistan dalam serangan balasan Angkatan Udara India.
Meski demikian, apabila versi Pakistan terbukti akurat, maka peristiwa tersebut akan tercatat sebagai salah satu penembakan udara-ke-udara jarak jauh paling bersejarah dalam dunia penerbangan militer.
Insiden itu juga akan menjadi kehilangan tempur pertama bagi pesawat tempur Rafale buatan Prancis.
Sumit Ahlawat, analis pertahanan dari India, dalam tulisannya di Eurasian memandang kejadian tersebut sebagai tonggak penting bagi industri militer China.
"Rudal PL-15 dinilai mampu membuktikan bahwa sistem persenjataan Beijing dapat menantang bahkan mengalahkan platform tempur Barat dalam pertempuran jarak jauh atau beyond visual range (BVR)," tulisnya.
Setahun berselang, China kembali dikaitkan dengan insiden yang berpotensi mengguncang peta kekuatan udara global.
Berdasarkan laporan NBC News yang mengutip sejumlah pejabat pertahanan Amerika Serikat, sebuah rudal panggul buatan China diduga menjadi penyebab jatuhnya jet tempur F-15 Angkatan Udara AS pada 3 April 2026 di wilayah Iran.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian besar karena merupakan pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade sebuah pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat ditembak jatuh dalam pertempuran.
Sebelumnya, pesawat A-10 Thunderbolt II pernah ditembak jatuh oleh rudal pertahanan udara Roland milik Irak di Baghdad pada 2003.
Jatuhnya F-15 memicu operasi penyelamatan besar-besaran selama 36 jam untuk mengevakuasi pilot yang selamat.
Dalam operasi itu, sebuah pesawat A-10 Thunderbolt II kembali ditembak jatuh di Selat Hormuz. Militer Amerika juga terpaksa menghancurkan sendiri dua pesawat MC-130J Commando II dan empat helikopter operasi khusus setelah aset-aset tersebut tidak lagi dapat dioperasikan.
Pejabat Amerika Serikat juga meyakini bahwa China kemungkinan memasok Iran dengan radar peringatan dini jarak jauh yang mampu mendeteksi pesawat siluman atau stealth yang dirancang untuk menghindari radar musuh.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah pada 19 Maret 2026 sebuah pesawat tempur siluman F-35A Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan terkena rudal pertahanan udara yang diduga ditembakkan Iran saat menjalankan misi tempur.
Meski berhasil melakukan pendaratan darurat, insiden itu menjadi kasus pertama di dunia di mana jet tempur siluman generasi kelima terkena serangan rudal dalam operasi tempur.
Menurut tiga sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut, F-15 yang jatuh di Iran kemungkinan besar terkena rudal panggul atau Man-Portable Air Defense Systems (MANPADS) buatan China.
Saat insiden terjadi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa pesawat itu terkena rudal yang diluncurkan dari bahu prajurit.
MANPADS merupakan rudal permukaan-ke-udara yang dapat dibawa dan dioperasikan oleh satu orang atau tim kecil.
Sistem ini dirancang untuk menyerang pesawat yang terbang rendah, terutama helikopter, drone, maupun pesawat serang. Umumnya rudal jenis ini memiliki jangkauan antara tiga hingga delapan kilometer.
Hingga kini penyelidikan mengenai jatuhnya F-15E Strike Eagle masih berlangsung. Otoritas Amerika Serikat belum dapat memastikan apakah rudal yang digunakan baru dikirim ke Iran atau berasal dari stok persenjataan lama yang telah berada di negara tersebut selama bertahun-tahun.
Washington juga belum dapat memastikan apakah radar YLC-8B buatan China yang diduga mampu mendeteksi pesawat siluman telah dioperasikan Iran selama konflik berlangsung.
Selain itu, waktu pengiriman sistem radar tersebut ke Iran juga masih belum diketahui secara pasti.
Apabila China benar-benar memasok radar peringatan dini jarak jauh yang mampu melacak pesawat siluman, maka konsekuensinya sangat besar bagi operasi militer Amerika Serikat.
Kemampuan tersebut dapat mengurangi keunggulan utama pesawat F-35 maupun F-22 yang selama ini mengandalkan karakteristik siluman untuk menembus pertahanan lawan tanpa terdeteksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, China berulang kali mengklaim telah mengembangkan berbagai teknologi anti-stealth.
Mulai dari radar yang memanfaatkan sinyal satelit navigasi BeiDou, radar gelombang meter JY-27V, radar YLC-8B, hingga sistem radar berbasis satelit ganda dan radar kuantum. Klaim-klaim tersebut sebelumnya kerap disambut skeptis oleh para analis Barat.
Namun kini, ketika militer Amerika mulai menyelidiki kemungkinan penggunaan radar buatan China dalam pelacakan F-35 di Iran, perhatian terhadap kemampuan anti-stealth Beijing tampak semakin serius.
Ditambah keberhasilan tempur rudal PL-15 dalam konflik India-Pakistan serta dugaan keterlibatan sistem China dalam konflik Amerika-Iran, Beijing semakin sulit dipandang sebagai kekuatan teknologi militer kelas dua.
Sebaliknya, China kini mulai dianggap sebagai pesaing utama Barat dalam perlombaan teknologi perang modern.