5 Populer Internasional: DPR AS Batasi Perang Iran - Trump Bicara Kemungkinan Bertemu Mojtaba
Nanda Lusiana Saputri June 05, 2026 07:36 AM

TRIBUNNEWS.COM - Berbagai peristiwa dunia menarik perhatian publik dalam sehari terakhir.

DPR Amerika Serikat (AS) resmi meloloskan resolusi pembatasan kekuasaan perang atau War Powers Resolution, Rabu (3/6/2026).

Langkah politik ini dinilai sebagai tamparan keras sekaligus bentuk perlawanan terbuka parlemen terhadap kebijakan militer Presiden Donald Trump di Timur Tengah.

Sementara itu, Donald Trump mengatakan pada hari Rabu negosiasi dengan Iran berjalan "dengan sangat baik."

Donald Trump mengatakan ia ingin bertemu dengan Mojtaba Khamenei “suatu saat nanti.”

1. Pertama Kalinya! Resolusi Batasi Perang Iran Resmi Diteken DPR AS, Trump Dianggap Langgar Hukum

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) secara resmi mengumumkan pemberlakukan resolusi pembatasan kekuasaan perang atau War Powers Resolution, Rabu (3/6/2026).

Resolusi tersebut diloloskan untuk membatasi perang di Iran yang tak berkesudahan.

Langkah politik ini dinilai sebagai tamparan keras sekaligus bentuk perlawanan terbuka parlemen terhadap kebijakan militer Presiden Donald Trump di Timur Tengah.

Melalui pemungutan suara yang berlangsung dinamis di Capitol Hill, resolusi ini berhasil disahkan dengan kemenangan tipis 215 berbanding 208 suara. 

Menariknya, kemenangan kubu oposisi dicapai setelah empat anggota parlemen dari Partai Republik — partai yang menyokong Trump sendiri — membelot dan memilih bergabung dengan seluruh anggota faksi Demokrat.

Menurut The Washington Post, lolosnya resolusi tersebut menjadi indikasi kuat bahwa dukungan politik internal terhadap agresi militer Trump mulai terkikis.

Sejumlah politisi faksi Republik secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya atas konflik bersenjata yang kini telah memasuki hari ke-90 tanpa arah dan strategi keluar yang jelas.

Terlebih saat ini stabilitas ekonomi domestik kian terpuruk akibat perang Iran.

Sebelum berhasil disahkan, petinggi Partai Republik di DPR sempat melancarkan taktik politik untuk menyelamatkan muka Gedung Putih.

Dua minggu lalu, agenda pemungutan suara ini secara mendadak dibatalkan, dan para anggota parlemen dipulangkan lebih awal untuk menjalani reses bulan Mei.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Sosok Henry Nowak, Mahasiswa Inggris yang Tewas setelah Diborgol Polisi saat Mengaku Ditikam

Nama Henry Nowak kembali menjadi sorotan di Inggris setelah detail baru mengenai kematiannya diungkap ke publik.

Pemuda berusia 18 tahun itu menarik perhatian setelah rekaman kamera tubuh polisi yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan dirinya diborgol saat berulang kali mengatakan ia baru saja ditikam dalam sebuah insiden pada Desember 2025.

Vickrum Digwa (23), pria yang menikam Henry Nowak, diketahui berbohong kepada petugas dengan mengklaim dirinya menjadi rasisme oleh mahasiswa tersebut.

Digwa kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Senin (1/6/2026).

Kasus ini memicu gelombang kritik terhadap kepolisian.

Aksi unjuk rasa juga pecah di Southampton, dekat lokasi Nowak tewas.

Siapa Henry Nowak?

Mengutip Sky News, Henry Nowak merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang dibesarkan di Chafford Hundred, Essex.

Ia adalah mahasiswa tahun pertama jurusan akuntansi dan keuangan di Universitas Southampton.

Dalam putusan yang dibacakan Hakim William Mousley, Nowak digambarkan sebagai pemuda yang baik hati, pekerja keras, ambisius, dan sangat mencintai keluarganya.

Ayah Henry Nowak, Mark Nowak, menangis saat membacakan sebuah pernyataan di pengadilan.

"Ada lubang berbentuk Henry di keluarga kami selamanya dan tidak ada yang akan bisa mengisinya," katanya.

"Jika saya bisa bertukar tempat agar mereka berempat bisa bersama lagi, saya akan melakukannya tanpa ragu."

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Trump Bicara Kemungkinan Bertemu Mojtaba Khamenei, Klaim Iran Setuju untuk Tak Miliki Senjata Nuklir

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam negosiasi untuk kesepakatan mengakhiri perang.

Donald Trump menambahkan bahwa dia ingin bertemu dengan Mojtaba Khamenei “suatu saat nanti.”

“Dia terlibat, tentu saja. Ya, saya pikir mereka sangat menghormatinya,” kata Trump tentang Khamenei, Rabu (3/6/2026), dilansir Anadolu Agency.

“Kita mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,” jelasnya dalam sebuah wawancara dengan Pod Force One.

Presiden AS juga mengatakan Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir, dengan alasan “itu adalah hal yang besar.”

“Kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Mereka sudah setuju bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, dan mereka bisa berubah pikiran, tetapi itu adalah salah satu hal yang harus mereka setujui, dan itu adalah hal yang sangat penting,” tambah Trump.

Adapun AS dan Israel mengatakan program nuklir Iran dan "menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran" adalah alasan utama untuk melancarkan perang pada 28 Februari 2026.

Trump Klaim Negosiasi Berjalan Baik

Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa negosiasi dengan Iran berjalan "dengan sangat baik."

Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump ditanya apakah gencatan senjata yang melibatkan Iran masih berlaku setelah perkembangan terkini.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Rupiah Jatuh ke Rekor Terendah, Media Internasional Pertanyakan Arah Kebijakan Ekonomi RI

Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah memicu sorotan luas media internasional.

Media berbasis Qatar itu mengutip Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, yang menyebut level Rp18.000 sebagai "ambang batas psikologis" bagi investor.

Menurut Josua, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya permintaan dolar AS akibat kenaikan harga minyak serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.

"Pasokan dolar dari perdagangan barang semakin berkurang, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan," kata Josua kepada AFP seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ia menilai kenaikan suku bunga dan intervensi Bank Indonesia belum cukup untuk membalikkan tren depresiasi rupiah.

CNA menyebut kekhawatiran pasar meningkat karena Indonesia merupakan pengimpor minyak bersih yang sangat rentan terhadap lonjakan harga energi global.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Trump Kena Teguran Langka dari DPR AS Buntut Perang Iran Telan Biaya 29 Miliar Dolar AS

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) melayangkan teguran politik yang jarang terjadi kepada Presiden Donald Trump.

Untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai, DPR berhasil mengesahkan resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan Trump menggunakan kekuatan militer tanpa persetujuan Kongres, dikutip dari Al Jazeera.

Resolusi tersebut lolos dengan hasil 215 suara berbanding 208 dalam pemungutan suara yang digelar Rabu (3/6/2026) waktu Washington, Associated Press melaporkan.

Empat anggota Partai Republik membelot dan bergabung dengan Partai Demokrat untuk mendukung langkah tersebut.

The New York Times melaporkan bahwa pemungutan suara ini menjadi pukulan politik simbolis bagi Trump di tengah konflik Iran yang mendekati hari ke-100.

Perang Iran Picu Perlawanan di Kongres

Resolusi itu muncul setelah Trump memutuskan membawa AS bergabung dalam serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Keputusan tersebut dilakukan tanpa meminta persetujuan resmi dari Kongres.

Langkah Trump sejak awal menuai kritik karena Konstitusi AS memberikan kewenangan kepada Kongres untuk menyatakan perang.

Dilansir The Guardian, anggota Kongres dari Partai Demokrat, Gregory Meeks, yang memimpin pengajuan resolusi itu, menyebut konflik tersebut sudah berlangsung terlalu lama.

"Sudah cukup," kata Meeks saat debat di DPR.

"Sudah saatnya presiden melakukan hal yang benar," lanjutnya.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.