BANJARMASINPOST.CO.ID - Bagi kawula muda di kabupaten Banjar, dakwah bukan soal siapa paling lantang, melainkan siapa mampu mengajak berpikir.
Pendakwah muda Muhammad Ali Syahbana, pemuda kelahiran Martapura, 24 Februari 1988, melihat satu kegelisahan yang sama di kalangan anak muda.
Banyak yang ingin memahami agama dan kehidupan secara lebih dalam, namun tak menemukan ruang yang aman untuk bertanya.
Bagaimana peranan pendakwah Ali Syahbana agar masuk di ruang kawula muda?
Wartawan Banjarmasin Post: Bagaimana awal mula Anda tertarik berdakwah melalui jalur diskusi dan literasi?
Muhammad Ali Syahbana: Saya melihat banyak anak muda yang sebenarnya ingin memahami agama dan kehidupan lebih dalam, tetapi tidak memiliki ruang yang aman untuk bertanya. Mereka kritis dan memiliki banyak kegelisahan. Dari situ saya merasa dakwah tidak cukup hanya berupa ceramah satu arah. Anak muda perlu diajak berdialog dan berpikir bersama.
Banjarmasin Post: Mengapa Anda memilih pendekatan dakwah intelektual?
Muhammad Ali Syahbana: Karena menurut saya anak muda hari ini memiliki daya kritis yang tinggi. Kalau hanya diminta menerima tanpa memahami, pesan yang disampaikan biasanya cepat hilang. Saya percaya kesadaran yang lahir dari proses berpikir akan lebih kuat dan bertahan lama.
Banjarmasin Post: Seperti apa perjalanan pendidikan yang membentuk cara pandang Anda saat ini?
Muhammad Ali Syahbana: Sejak kecil saya banyak belajar bersama Habib Muhsin bin Husein Al Haddad di Solo. Beliau membimbing saya sejak taman kanak-kanak hingga sekitar usia 10 tahun.
Dari beliau saya belajar tentang adab dan pentingnya mengelola hati.
Meski tidak menempuh pendidikan pesantren secara formal dalam waktu lama, suasana pesantren sangat memengaruhi pembentukan karakter saya.
Saya juga banyak belajar melalui pengajian bersama paman saya yang memimpin Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim.
Baca juga: TERPOPULER KALSEL- Sidang Pemerasan Oknum Kejaksaan HSU dan Pendaftaran Rektor ULM
Baca juga: Api Lumat 18 Ruangan Madrasah Muhammadiyah di Banjarmasin, Puluhan Komputer Gosong
Banjarmasin Post: Anda dikenal sebagai penulis buku Awal Perjalanan. Apa yang melatarbelakangi lahirnya buku tersebut?
Muhammad Ali Syahbana: Buku itu lahir dari kegelisahan dan rasa ingin tahu yang besar tentang kehidupan. Saya mulai menulisnya sejak 2014. Setiap kalimat merupakan hasil perenungan yang panjang. Buku itu saya niatkan sebagai media dakwah, bukan untuk kepentingan komersial.
Banjarmasin Post: Mengapa format buku itu hanya berisi satu kutipan pada setiap halaman?
Muhammad Ali Syahbana: Saya ingin pembaca memiliki ruang untuk merenung. Setiap orang bisa menangkap makna yang berbeda-beda tergantung pengalaman hidup dan kondisi batinnya.
Karena itu saya menyarankan buku tersebut dibaca perlahan dan dalam suasana yang tenang.
Banjarmasin Post: Apa pesan yang paling sering diingat pembaca dari buku tersebut?
Muhammad Ali Syahbana: Salah satunya adalah kalimat, “Hidup ini seperti cermin, kita melihat apa pun yang kita lakukan.” Maknanya sederhana, bahwa apa yang kita tanam dalam kehidupan akan kembali kepada diri kita sendiri.
Banjarmasin Post: Bagaimana respons masyarakat terhadap buku Awal Perjalanan?
Muhammad Ali Syahbana: Alhamdulillah cukup baik. Awalnya saya hanya mencetak 150 eksemplar dan membagikannya kepada teman-teman serta kolega.
Di luar dugaan, buku itu mendapat perhatian dari almarhum Nadjmi Adhani yang mengusulkan agar dicetak ulang sebagai buah tangan tamu. Almarhum KH Khalilurrahman juga memberikan apresiasi dan menilai buku tersebut memiliki kedalaman refleksi spiritual.
Banjarmasin Post: Anda juga mendirikan Komunitas Teduh Pikir. Apa tujuan komunitas tersebut?
Muhammad Ali Syahbana: Komunitas Teduh Pikir lahir sebagai ruang diskusi bagi anak muda. Kami ingin menghadirkan tempat yang nyaman untuk bertukar pikiran tentang agama, kehidupan, dan berbagai persoalan sosial tanpa rasa takut dihakimi.
Banjarmasin Post: Metode apa yang digunakan dalam diskusi Teduh Pikir?
Muhammad Ali Syahbana: Kami banyak menggunakan pendekatan dialog Socrates, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan yang membantu peserta menemukan pemahaman mereka sendiri.
Tujuan kami bukan memberikan semua jawaban, melainkan melatih cara berpikir yang jernih dan beretika.
Baca juga: Terdampak Kebakaran, Warga S Parman Banjarmasin Dapat Bantuan dari Yayasan Ini
Banjarmasin Post: Banyak peserta menyebut Anda sebagai guru spiritual. Bagaimana tanggapan Anda?
Muhammad Ali Syahbana: Saya memaknainya sebagai bentuk kepercayaan. Namun saya tidak ingin diposisikan sebagai orang yang memiliki semua jawaban. Saya hanya berusaha membuka ruang refleksi dan percakapan yang sehat.
Banjarmasin Post: Selain berdakwah melalui diskusi, Anda juga aktif di dunia pendidikan pesantren?
Muhammad Ali Syahbana: Ya, saat ini saya mendapat amanah sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan. Saya ingin pendidikan agama tetap berakar pada adab, ilmu pengetahuan, serta memiliki keterhubungan dengan realitas sosial dan kebangsaan.
Banjarmasin Post: Kemudian lahir pula buku Teduh Pikir. Apa yang membedakan buku ini dengan karya sebelumnya?
Muhammad Ali Syahbana: Teduh Pikir merupakan karya kolektif komunitas. Buku ini lahir dari kegelisahan melihat banyak orang hidup dalam kesibukan tanpa sempat memahami pikiran, hati, dan perasaannya sendiri. Kami ingin menghadirkan teman refleksi bagi masyarakat.
Banjarmasin Post: Benarkah buku tersebut dijual untuk kegiatan sosial?
Muhammad Ali Syahbana: Betul. Penjualannya bersifat non-profit. Seluruh hasilnya disalurkan untuk mendukung pendidikan anak yatim dan dhuafa melalui yayasan yang kami kelola. Saya percaya dakwah harus berujung pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Banjarmasin Post: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda?
Muhammad Ali Syahbana: Anak muda tidak perlu terus-menerus digurui. Mereka cukup diajak berpikir dan berdialog. Kesadaran yang tumbuh dari dalam diri akan jauh lebih kuat. Saya berharap setiap renungan yang saya tuliskan bisa menjadi pelita kecil, bukan cahaya yang menyilaukan, tetapi cukup untuk menemani langkah agar tetap tenang, sadar, dan tidak mudah goyah dalam menghadapi kehidupan.
Ustadz Muhammad Ali Syahbana dari sudut kerabatnya adalah pendakwah mudah yang dicerna dakwahnya untuk kaula muda. Sehingga bisa dibilang guru spriritual anak muda Banjar terutama di kalangan anak muda di Nahdlatul Ulama (NU) Banjar.
Menurut, Muhammad Fahrie, sebagai Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama, Kabupaten Banjar, sosok M Ali Syahbana, memang dikenal aktif berdakwah di kalangan pemuda dan mahasiswa.
"Selain itu Ustadz Ali Syahbana merupakan seorang dai muda. Selain aktif di dunia tulis menulis, beliau juga aktif di media sosial. Beliau patut untuk kita jadikan role model. Karena, selain bergerak di dunia dakwah beliau juga seorang intelek dan politikus. Saat ini untuk menjadi public pigur di dunia dakwah tidak cukup hanya alim secara spiritual, tapi juga intelek, agar dakwah seimbang," urai Muhammad Fahrie.
Sepengengetahuan M Fahrie, Ustadz Muhammad Ali Syahbana juga aktif berdakwah dengan membangun
Komunitas Teduh Pikir, ruang diskusi yang ia dirikan sebagai alternatif dakwah konvensional.
"Pada komunitas itu, agama tidak diposisikan sebagai dogma yang diturunkan dari atas, melainkan nilai yang dipahami bersama lewat dialog," jelasnya.
Metode yang gunakan M Ali Syahbana merujuk pada dialog Socrates, yaikni menggunakan serangkaian pertanyaan yang mendorong peserta menemukan kebenaran dengan pikirannya sendiri.
"Beliau juga diskusi digelar rutin setiap bulan dan dihadiri pemuda dari Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, hingga Balangan," ujar Muhammad Fahrie.
(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)