Curhat Ibu Hamil Jadi Korban Penganiayaan Preman, Kehamilan Pertama Usai Keguguran Tahun Lalu
Ardhi Sanjaya June 05, 2026 10:07 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Viral kasus penganiayaan seorang wanita hamil bernama Kartina di Kecamatan Medan Tembung, Sumatera Utara.

Dalam video yang beredar, J, salah satu pelaku menendang perut wanita tersebut.

Di Mapolrestabes Medan, Kartina mengungkap kronologi kejadian sehingga membuatnya syok.

Dia mengungkapkan kondisi dia dan janin dalam kandungan berada dalam kondisi baik.

Kartina mengungkapkan bahwa dirinya saat ini tengah hamil muda dengan usia kandungan memasuki sekitar tujuh minggu atau hampir dua bulan.

“Ini trimester pertama, sudah tujuh minggu,” ujar Kartina saat ditemui, Kamis (4/6).

Ia menjelaskan bahwa kehamilan ini menjadi momen yang sangat dinantikan bersama sang suami.

Pasalnya, ini merupakan kehamilan pertama yang berhasil dipertahankan setelah sebelumnya ia sempat mengalami keguguran pada Desember lalu.

“Ini sebenarnya kalau dibilang memang anak pertama, tapi saya sempat juga sudah hamil tapi keguguran. Di bulan 12 kemarin saya keguguran, dan Puji Tuhan kami dipercaya cepat oleh Tuhan untuk memiliki anak lagi,” ungkapnya.

Kartina juga mengaku bahwa saat insiden penganiayaan terjadi di kawasan Jalan Baru, Kecamatan Medan Tembung, suaminya sempat enggan melintas demi menjaga kondisi kehamilannya. Keputusan itu diambil karena keduanya khawatir terhadap situasi tawuran yang terjadi di lokasi tersebut.

Setelah kejadian penganiayaan, Kartina mengaku sempat merasakan sakit di bagian perut dan khawatir terhadap kondisi janinnya.

Namun, ia segera melakukan pemeriksaan medis untuk memastikan keadaan kandungannya.

Ia mengatakan telah menjalani pemeriksaan USG di dokter kandungan. Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi janinnya dalam keadaan baik dan tidak mengalami gangguan.

“Dua hari ini kurang istirahat dan Puji Tuhan juga tadi hasil USG-nya kandungan saya Puji Tuhan sehat,” katanya.

Meski sempat mengalami peristiwa traumatis, Kartina bersyukur kondisi kehamilannya tetap aman dan berharap tidak ada dampak lanjutan dari kejadian tersebut.

Kartina mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika dirinya baru saja pulang bekerja bersama sang suami. Keduanya kemudian melintas di sekitar lokasi yang saat itu tengah terjadi aksi tawuran di bantaran rel.

Ia menjelaskan, awalnya pasangan tersebut berencana melewati terowongan di bawah rel yang menjadi lokasi tawuran. Namun, niat itu diurungkan karena kondisi yang tidak aman, terlebih dirinya sedang dalam kondisi hamil.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, sang suami kemudian menepikan kendaraan karena khawatir terkena lemparan batu dari lokasi kejadian. Tidak lama setelah itu, sejumlah pria mendatangi mereka.

“Ya, kayak manalah. Bukan kutantang, dia ibarat kata tidak mau lagi itu. Gitu kan. Nah setelah itu dia enggak terima. Mungkin suami saya menyenggak dia. Jadi dia menghampiri kami,” ucapnya.

Kartina mengatakan, para pria tersebut justru meminta mereka untuk tetap melintas di lokasi tawuran dengan alasan menghindari kemacetan. Namun, karena merasa terancam, keduanya memilih menolak.

“Ya karena suami saya takut dengan kenanya perut saya dan kepala saya kebetulan saya tidak pakai helm. Ya kan saya tidak berani jadi saya menjawab pertanyaan apa menanggapi omongan si pelaku ini. Saya bilang kayak ini, saya tidak berani, kami tidak berani melewati itu,” tambahnya.

Penolakan tersebut diduga memicu emosi para pelaku hingga berujung pada aksi penganiayaan. Dalam video yang sempat viral, terlihat suami Kartina dipukul oleh beberapa orang, sementara seorang pelaku lainnya menendang perut Kartina.

“Itu tidak ada kemacetan sama sekali. Jadi si pelaku ini yang menganiaya kami. Kami dipaksa disuruh untuk melintasi jalan yang tawuran tersebut yang lempar-lemparan batu itu,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa saat kejadian dirinya sempat berusaha merekam aksi tersebut menggunakan ponsel sebagai bukti untuk laporan ke pihak kepolisian. Namun, upaya itu gagal setelah ponselnya dirampas dan dihempaskan oleh pelaku.

“Ibarat kata biar saya bisa melapor ke kantor polisi terdekat. Nah setelah itu tidak jadi saya merekam karena HP saya terlempar. Kayak ibarat dijatuhkan lagi itu. Nah setelah itu datanglah satu lagi untuk menendang perut saya,” ujarnya.

Kartina mengaku semakin syok ketika salah satu pelaku yang sebelumnya menendang dirinya kembali datang sambil membawa senjata api. Situasi yang semakin mencekam membuatnya hanya bisa menangis ketakutan di lokasi kejadian.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian setelah video penganiayaan itu beredar luas di media sosial dan memicu kemarahan publik.

Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan memastikan telah mengamankan dua orang yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap seorang ibu hamil di kawasan Medan Tembung.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis, membenarkan penangkapan tersebut. Ia juga mengungkapkan fakta terkait senjata yang sempat dibawa salah satu pelaku saat kejadian.

“Untuk senjatanya air soft gun, diambilnya dari bengkel untuk menakuti kedua korban agar segera pergi dari sana,” ujar Adrian, Kamis (4/6).

Adrian menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terkait asal-usul senjata tersebut, termasuk dari mana pelaku mendapatkannya, status legalitasnya, serta tujuan kepemilikan senjata itu.

“Untuk senjatanya masih kita dalami,” ucapnya.

Selain mengamankan kedua pelaku, petugas Satreskrim Polrestabes Medan juga menyita sejumlah barang bukti dari lokasi maupun dari tangan pelaku. Di antaranya satu unit airsoft gun, tujuh tabung gas untuk pistol, serta beberapa barang bukti lainnya.

Penyidik saat ini masih terus mendalami peran masing-masing pelaku dalam kasus tersebut serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam insiden penganiayaan yang sempat viral di media sosial itu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.