Cerita Santri Jadi Korban Perundungan di Pondok Pesantren, Tubuh Alami Luka Bakar 80 Persen
Ardhi Sanjaya June 05, 2026 10:07 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Sahid Al Hudri (13), seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Rusydah, Desa Mantang, Lombok Tengah akhirnya angkat bicara atas kasus perundungan yang menimpanya

Sahid, anak kedua dari pasangan Rum dan Harimah, kini harus menanggung derita akibat luka bakar 80 persen yang menyelimuti tubuhnya setelah diduga sengaja dibakar di dalam ruangan yang terkunci.

Saat ditemui Tribun Lombok, Sahid terlihat duduk dengan muka murung.

Nampak luka bakar disekujur tubuhnya ditutupi oleh kain.

Berdasarkan kesaksian Sahid, peristiwa tersebut terjadi pada siang hari saat ia dan teman-temannya disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan.

Di dalam ruangan tersebut, seorang kakak kelas telah menyiapkan bensin dan menyiramkannya

Sahid menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah sebuah kecelakaan atau permainan. 

Saat ditanya apakah pelaku melakukannya karena main-main, Sahid menjawab dengan tegas, “sengaja,” ucapnya Kamis (4/6/2026) sembari menunduk.

Sahid menceritakan bahwa pintu ruangan tersebut ditutup dengan keras hingga sulit dibuka, memerangkap dirinya bersama dua teman lainnya di dalam api yang mulai berkobar.

“Terjebak kami bertiga, orang yang ngebakar bisa dia keluar,” kata Sahid.

Salah satu dari rekan Sahid dikabarkan telah meninggal dunia akibat luka bakar yang dideritanya.

Aksi keji ini diduga dipicu oleh rasa dendam pelaku. 

Sebelumnya, Sahid dan kawan-kawannya melaporkan pelaku kepada pimpinan pondok karena tindakan perundungan lain, yaitu menelanjangi santri.

Pelaku yang merasa sakit hati karena dipukul dan diperingatkan oleh ketua pondok kemudian mengancam korban.

“Awas besok lagi-lagi kamu ngasih tahu, saya bakar kamu,” ceritanya.

Ditempat yang sama, bibi korban, Nurul Hidayah menceritakan betapa hancurnya perasaan Sahid saat hendak pulang ke rumah.

“Kalau banyak orang malu, jangan dibawa keluar malu. Saya dilihatin terus sama orang, minta ditutup pakai kain panjang kayak orang sudah meninggal,” sebutnya.

Di tengah penderitaan ini, keluarga Sahid yang merupakan keluarga kurang mampu harus berjuang sendiri membiayai pengobatan yang mencapai puluhan juta rupiah hingga harus mencari utang.

Ia mengaku pihak pimpinan pondok tidak bertanggung jawab secara finansial dalam perawatan korban. 

“Satu peser pun tidak ada tanggung jawab dari saya karena saya juga termasuk korban, itu Lillahi Ta'ala,” ujar pimpinan pondok seperti yang ditirukan oleh Bibi korban.

Kini, pihak keluarga telah memutuskan untuk melaporkan kelalaian pihak pondok pesantren ke polisi demi mendapatkan keadilan bagi Sahid.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.