Kehilangan Orang Tua Sejak Kecil, Fransiska Bangkit Lewat Usaha Minyak Rambut Alami Cocosera
Paul Manahara Tambunan June 05, 2026 10:28 AM

 

Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai

TRIBUN PAPUA.COM, JAYAPURA - Di balik layar telepon genggamnya, Fransiska Dendegau tampak sibuk membalas pesan satu per satu dari para pelanggan. Sesekali ia memeriksa pesanan yang masuk, lalu mengunggah foto produknya ke media sosial. 

Bagi sebagian orang, aktivitas itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Fransiska, setiap pesan yang masuk adalah bukti bahwa perjuangannya selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Perempuan suku Moni asal Kabupaten Intan Jaya itu merupakan pendiri usaha minyak rambut alami bernama Cocosera.

Di balik produk yang kini mulai dikenal masyarakat di Nabire hingga berbagai daerah di Papua, tersimpan kisah hidup yang penuh kehilangan, air mata, dan perjuangan panjang untuk bangkit dari keterbatasan.

Kepada Tribun Papua, Jumat (4/6/2026), Fransiska menceritakan bahwa masa kecilnya tidak berjalan seperti kebanyakan anak lainnya. Ia lahir dari keluarga sederhana dan merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Meski berasal dari Intan Jaya, sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Nabire.

Saat masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, cobaan besar datang menghampiri. Ibunya meninggal dunia dan meninggalkan luka mendalam bagi dirinya dan saudara-saudaranya.

"Sejak mama meninggal, kehidupan keluarga berubah. Kami harus belajar hidup dengan keadaan yang baru," ujarnya.

Kesedihan itu belum sempat benar-benar hilang ketika beberapa tahun kemudian ia kembali kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Saat duduk di kelas 2 SMP, sang ayah meninggal dunia.

Baca juga: Sosok Capt Tania Karima, Pilot Smart Air yang Mendarat di Pantai Kaladiri Nabire: Mengabdi di Papua

Kehilangan kedua orang tua di usia yang masih sangat muda membuat Fransiska harus tumbuh lebih cepat dibandingkan teman-teman seusianya.

"Saya menjadi yatim piatu sejak kecil. Banyak sekali tantangan yang saya hadapi waktu itu. Kadang saya merasa sedih melihat teman-teman masih memiliki orang tua yang bisa mendampingi mereka," katanya.

Sebelum meninggal dunia, ayah Fransiska sempat menikah lagi dengan seorang perempuan asal Biak yang bermarga Wambrauw. Kehadiran mama tiri tersebut membawa warna baru dalam kehidupannya.

Meski hanya bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama, perempuan itu meninggalkan jejak yang sangat mendalam. Dari tangan mama tirinya itulah Fransiska pertama kali belajar membuat minyak rambut tradisional berbahan dasar kelapa dan serai.

"Saya masih ingat waktu mama tiri membuat minyak rambut. Beliau biasa mengolah sendiri secara sederhana dan menjualnya kepada orang-orang di sekitar rumah. Saya sering membantu dan melihat proses pembuatannya," kenangnya.

Ilmu sederhana yang saat itu terlihat biasa ternyata menjadi bekal berharga yang kelak mengubah jalan hidupnya.

Namun setelah ayahnya meninggal dunia, mama tirinya memutuskan kembali ke kampung halamannya. Seiring berjalannya waktu, komunikasi mereka perlahan terputus.

Lebih dari sepuluh tahun berlalu, Fransiska mengaku tidak lagi mengetahui keberadaan perempuan yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya tersebut.

Meski demikian, kenangan dan pelajaran yang pernah diberikan tidak pernah hilang dari ingatannya.

Bahkan hingga saat ini, setiap kali memproduksi minyak rambut Cocosera, ia selalu teringat kepada sosok mama tiri yang dahulu mengajarinya.

"Kalau saya sedang membuat produk, saya sering teringat mama. Saya berharap suatu saat beliau bisa melihat apa yang saya kerjakan sekarang," ujarnya.

Kerinduan itu pula yang menjadi salah satu alasan dirinya terus mengembangkan usaha Cocosera. Melalui media sosial, Fransiska kerap membagikan perjalanan usahanya.

Dalam hati, ia berharap suatu hari mama tirinya dapat melihat unggahan tersebut dan mengetahui bahwa ilmu yang pernah diajarkan kini telah berkembang menjadi sebuah usaha yang membantu banyak orang.

"Saya ingin beliau tahu bahwa apa yang diajarkan dulu sekarang saya lanjutkan. Kalau Tuhan berkenan, saya ingin bertemu lagi dan mengucapkan terima kasih secara langsung," katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan di STIKES Jayapura, Fransiska sempat berharap dapat bekerja sesuai bidang ilmu yang dipelajarinya.

Namun kesempatan kerja yang dinantikan belum juga datang. Di tengah situasi tersebut, ia dihadapkan pada pilihan untuk terus menunggu atau mencoba menciptakan peluang sendiri.

Fransiska memilih pilihan kedua.

Ia kembali mengingat keterampilan yang pernah diajarkan mama tirinya dan mulai mengembangkan minyak rambut alami tersebut menjadi sebuah produk yang lebih modern.

Menurut Fransiska, minyak rambut itu sebenarnya telah lama dibuat secara tradisional oleh mama tirinya. Namun ia kemudian memiliki gagasan untuk mengemasnya dalam bentuk yang lebih modern agar terlihat menarik, profesional, dan mampu bersaing di pasaran.

"Dulu mama membuatnya secara sederhana. Saya kemudian mencoba mengembangkan dan mengemasnya lebih modern supaya terlihat bagus dan menarik bagi masyarakat," ujarnya.

Dari proses itulah lahir produk yang kemudian diberi nama Cocosera.

Nama tersebut merupakan gabungan dari dua bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatannya, yakni "Coco" yang berasal dari kata coconut atau kelapa, dan "Sera" yang berarti serai.

"Dua bahan utama itu saya gabungkan menjadi nama Cocosera," jelasnya.

Bahan utama yang digunakan bukan sembarang minyak kelapa. Untuk menjaga kualitas produk, ia memilih minyak kelapa murni yang diproduksi secara tradisional oleh mama-mama di Pulau Mambor, Nabire.

Minyak tersebut dibuat tanpa campuran bahan kimia dan melalui proses tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Setelah selesai diproduksi, minyak dikirim menggunakan perahu motor menuju Nabire sebelum kemudian diolah kembali menjadi produk Cocosera.

"Kalau stok minyak habis, saya harus menunggu lagi sampai mama-mama di pulau membuat dan mengirimkannya. Kadang itu memerlukan waktu cukup lama," jelasnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap mempertahankan penggunaan bahan baku alami karena percaya kualitas tidak boleh dikorbankan.

Perjuangan yang dilakukan secara perlahan mulai menunjukkan hasil.

s dari ilmu yang diwariskan mama tirinya tersebut kini
SOSOK - Fransiska Dendegau menunjukkan produk minyak rambut alami Cocosera di Nabire, Papua Tengah, Jumat (4/6/2026). Usaha yang dirintis dari ilmu yang diwariskan mama tirinya tersebut kini mulai menjangkau berbagai daerah di Papua hingga luar Papua. (Dok. Pribadi)

Dari mulut ke mulut dan promosi sederhana melalui media sosial, pelanggan Cocosera terus bertambah.

Banyak pelanggan memberikan testimoni positif setelah menggunakan produk tersebut. Sebagian mengaku ketombe berkurang, rambut menjadi lebih kuat, tidak mudah rontok, serta lebih sehat dan mudah diatur.

"Saya selalu menanyakan perkembangan kepada pelanggan setelah satu atau dua minggu pemakaian. Dari situ saya bisa mengetahui manfaat yang mereka rasakan dan terus memperbaiki kualitas produk," katanya.

Kini Cocosera tidak hanya dikenal di Nabire. Produk tersebut telah menjangkau berbagai daerah seperti Jayapura, Wamena, Timika, hingga Kendari, Sulawesi Tenggara.

Bagi Fransiska, pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Dulu saya hanya berpikir bagaimana bisa menjual beberapa botol saja. Sekarang ternyata pesanan datang dari berbagai daerah. Saya sangat bersyukur," ujarnya.

Perjalanan usahanya semakin mendapat dukungan ketika Mama Amady Mote, seorang penjual pinang di Pasar Oyehe Nabire, menawarkan tempat di lapaknya untuk membantu memasarkan Cocosera kepada masyarakat.

Dukungan itu menjadi suntikan semangat bagi Fransiska untuk terus berkembang.

Baca juga: Kisah Eplonika Tipagau Temukan Harapan Baru Lewat Program MBG di Nabire

Ia percaya bahwa keberhasilan usaha tidak hanya lahir dari kerja keras pribadi, tetapi juga dari dukungan banyak orang yang percaya pada mimpinya.

Melalui kisah hidupnya, Fransiska berharap dapat menginspirasi perempuan Papua dan generasi muda agar tidak takut memulai usaha dari hal-hal kecil.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi, kehilangan orang tua, maupun berbagai kesulitan hidup bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

"Saya mau bilang kepada teman-teman bahwa gengsi tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kalau orang lain bisa, kita juga bisa. Yang penting mau belajar, mau bekerja, dan tidak takut memulai," ujarnya.

Kini, dari sebuah usaha rumahan sederhana yang berawal dari kenangan masa kecil bersama mama tirinya, Fransiska terus melangkah membawa harapan besar.

Di balik setiap botol Cocosera yang terjual, tersimpan kisah seorang anak yatim piatu yang memilih bangkit dari keterbatasan, menjaga warisan ilmu keluarga, serta mengembangkan resep tradisional menjadi produk modern yang memberi manfaat bagi banyak orang.

 Dari kenangan masa kecil, lahirlah sebuah usaha yang kini menjadi sumber harapan baru bagi masa depannya. (*)
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.