Grid.ID – Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan Rien Wartia Trigina atau Erin, mantan istri komedian Andre Taulany, dengan mantan Asisten Rumah Tangga (ART)-nya, Herawati atau Hera, masih bergulir. Usai saling lapor di Polres Metro Jakarta Selatan pada Mei 2026 lalu, berbagai spekulasi mulai bermunculan.
Sempat muncul tudingan bahwa Hera melarikan diri atau dijemput secara paksa oleh pihak yayasan penyalur. Tak ingin isu liar tersebut merusak reputasi usahanya, Nia selaku penyalur ART yang menyalurkan Hera akhirnya angkat bicara.
Nia menegaskan bahwa kehadirannya di rumah Erin murni sebagai bentuk tanggung jawab seorang agen penyalur ketika mendengar pekerjanya mengalami tindakan kekerasan. Ia membantah keras narasi yang menyebutkan adanya upaya membawa kabur Hera secara ilegal.
"Berulang kali mungkin udah dua kali ini kita press conference ya, tidak ada di situ namanya kabur atau penjemputan paksa, tidak ada. Sebelum kejadian itu saya pun datang baik-baik," kata Nia saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Nia menjelaskan bahwa kronologi perseteruan memuncak pada malam hari tanggal 28 April. Setelah menerima aduan dari Hera mengenai adanya dugaan kekerasan fisik, Nia dan suaminya beriktikad baik mendatangi rumah Erin untuk membicarakan masalah tersebut secara kekeluargaan. Namun, sambutan yang mereka terima justru sebaliknya.
"Saya tanya ke satpam, saya bilang, 'Selamat malam, Pak.' Saya bilang saya mau bertemu dengan Ibu Erin karena mau menjemput Hera, karena Heranya terjadi katanya terjadi penganiayaan di sini. Terus, 'Oh, tidak bisa, Bu, ini sudah malam.'... Lalu saya pun diusir. Itu diusir tanggal 28 April, malam (jam) 9.30, saya diusir," tutur Nia.
Saat itu, pihak keamanan rumah Erin meminta Nia untuk melapor ke polisi terlebih dahulu jika ingin menyelesaikan masalah tersebut atau menjemput pekerja.
Mengikuti arahan pihak keamanan, Nia langsung mendatangi Polsek Pesanggrahan malam itu juga untuk meminta bantuan pendampingan. Tak lama kemudian, Nia kembali ke rumah Erin bersama lima personel polisi, termasuk Bhabinkamtibmas.
Namun, gerbang rumah tetap ditutup rapat. Suasana pun berubah menjadi tegang ketika terdengar teriakan minta tolong dari dalam rumah.
"Sampai sana datanglah polisi empat orang, lima lah bersama Bhabinkamtibmas, lima orang di sana. Setelah itu, tetap saja diusir, tetap saja diusir dan terjadilah tolong-tolong teriak-teriak dari dalam. Itu ada Pak Polisi."
"Setelah itu, larilah ini (Hera) dari dalam, masih dikejar sama Ibu Erin. Itulah yang terjadi sebenarnya," ungkap Nia.
Ia menegaskan tindakan mendobrak sedikit pagar dilakukan semata-mata karena ia mengkhawatirkan keselamatan Hera yang terdengar berteriak histeris dari dalam halaman rumah.
Tim kuasa hukum Hera, Deolipa Yumara menilai bahwa konflik domestik seperti ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin karena kedua belah pihak sebelumnya bekerja dalam satu atap yang sama.
"Tapi yang jelas, ini hubungan 28 hari itu apalagi tiap hari ketemu bukan hubungan yang sebentar, bukan hubungan antara pencuri dengan barang curiannya, tapi ini hubungan interpersonal antara para pihak yang memang sudah saling ketemu setiap hari," pungkas Deolipa.