Dosen Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Dr Sarju Winardi mengatakan, ada pemicu api tersebut diketahui dari tiga rangkaian observasi dan pengukuran menggunakan detektor gas serta teknologi kamera thermal sejak akhir Mei hingga Juni 2026.
Menurut Dr Sarju, pengukuran lapangan menunjukkan kadar hidrogen di dalam ruangan melonjak ekstrem hingga mencapai 40 ppm bahkan ada yang mencapai 2500 ppm.
Kondisi tersebut jauh melampaui kondisi normal atmosfer yang hanya mencapai 5 ppm.
Tim juga mendeteksi lonjakan terjadi secara spontan di siang hari bahkan di tengah kerumunan orang.
Hal tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa api hanya muncul saat rumah kosong.
Hipotesis tim UGM mengungkapkan, gas hidrogen terbentuk dari proses dark fermentation limbah organik pemotongan ayam di belakang rumah yang telah merembes ke bawah lantai selama bertahun-tahun.