Mengenal Jagoi Babang: Sejarah, Keunikan Budaya Bidayuh, dan Potensi Geografis Beranda Depan NKRI
Rivaldi Ade Musliadi June 05, 2026 05:29 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BENGKAYANG - Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menyimpan satu kawasan perbatasan yang sangat strategis sekaligus kaya akan nilai historis dan budaya, yaitu Kecamatan Jagoi Babang.

Sebagai salah satu kecamatan yang berada tepat di garis perbatasan Republik Indonesia dan Sarawak, Malaysia, Jagoi Babang kini bukan lagi dianggap sebagai "halaman belakang", melainkan telah menjelma menjadi beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang megah.

Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dalam, berikut adalah ulasan lengkap mengenai sejarah, keunikan, hingga kondisi geografis Jagoi Babang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta rilis resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang.

Geografi Jagoi Babang

Hanya 2,5 Kilometer dari Batas NegaraSecara geografis, Kecamatan Jagoi Babang merupakan wilayah paling utara di Kabupaten Bengkayang. 

Kecamatan ini berjarak sekitar 115 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bengkayang, atau sekitar 250 kilometer di sisi utara Kota Pontianak.

• Mini Niagara di Kalimantan Barat Menilik Air Terjun Riam Merasap Bengkayang

Menariknya, pusat pemukiman di Jagoi Babang hanya berjarak 2,5 kilometer dari titik nol garis perbatasan Indonesia-Malaysia. 

Bahkan, akses menuju pusat kota Sarawak di Malaysia hanya membutuhkan jarak sekitar 50 kilometer, atau dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam perjalanan darat.

Berdasarkan data histori pembentukan wilayah dari Pemkab Bengkayang, Kecamatan Jagoi Babang resmi dibentuk pada 17 Juni 1996 berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 1996, yang kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Bengkayang saat pemekaran tahun 1999. 

Saat ini, Jagoi Babang membawahi 6 desa administratif, yaitu:Desa Jagoi Desa Sekida Desa Sinar BaruDesa Semunying Jaya Desa Kumba Desa Gersik

Sejarah dan Keunikan Budaya Suku Dayak Bidayuh Bijagoi

Sejarah Jagoi Babang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat asli Dayak Bidayuh, khususnya sub-suku Bijagoi. 

Peradaban mereka di wilayah ini sudah berlangsung turun-temurun jauh sebelum adanya garis batas negara modern.

Salah satu bukti pelestarian sejarah dan adat yang paling mencolok di kawasan ini adalah berdirinya Rumah Adat Boli Panggah Bipokat. 

Rumah panggung melingkar setinggi 10 meter ini memiliki struktur arsitektur yang unik dengan 4 lantai.

Pondasi bangunan ini ditopang oleh 8 tiang utama (8 segi pondasi) yang melambangkan 8 pilar kekuatan hidup masyarakat Jagoi untuk bertahan hingga sekarang, yakni: tanah pemukiman, pangan, keamanan, adat budaya, persatuan, gotong royong, keberadaban, serta keadilan.

Selain arsitektur, ritual adat Gawai Nyobeng (ritual pasca-panen dan penghormatan terhadap leluhur) menjadi magnet budaya tahunan yang menarik kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara ke Jagoi Babang.

Geliat Ekonomi Perbatasan

Melansir data dari publikasi Kecamatan Jagoi Babang Dalam Angka oleh BPS Kabupaten Bengkayang, wilayah ini terus mengalami pertumbuhan dari segi demografi dan infrastruktur. 

Berikut beberapa data penting yang berhasil dihimpun:

Demografi: Jumlah penduduk Kecamatan Jagoi Babang tercatat mencapai lebih dari 9.391 jiwa, dengan konsentrasi penduduk laki-laki yang mendominasi tipis di angka sekitar 4.889 jiwa dan perempuan 4.502 jiwa.

Sentra Ekonomi Kreatif: Jagoi Babang terkenal dengan kerajinan tangan anyaman Bidai (kerajinan berbahan dasar rotan dan kulit kayu kapuak) khas Dayak Bidayuh. 

Komoditas ini menjadi produk unggulan UMKM lokal yang bernilai ekspor.

Revitalisasi Pemerintah: Guna mendongkrak ekonomi perbatasan, Pemkab Bengkayang bersama Pemerintah Pusat terus mengucurkan anggaran strategis. 

Salah satunya adalah alokasi dana miliaran rupiah untuk pembangunan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) anyaman rotan di Dusun Jagoi Kindau, Desa Sekida, yang pengelolaannya diserahkan langsung kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Pintu Gerbang Internasional: PLBN Terpadu Jagoi BabangWajah Jagoi Babang kini berubah total sejak diresmikannya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Jagoi Babang. 

Berdiri di atas lahan seluas belasan hektar, PLBN ini dibangun sebagai realisasi proyek strategis nasional berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2019.

Kehadiran PLBN Jagoi Babang bukan sekadar berfungsi sebagai pos pemeriksaan imigrasi dan bea cukai, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru guna meningkatkan konektivitas internasional dan kesejahteraan masyarakat perbatasan Kalbar.

Dengan infrastruktur jalan yang semakin mantap dan penguatan identitas budaya lokal, Jagoi Babang kini siap menyambut masa depan sebagai pusat diplomasi, ekonomi, dan pariwisata andalan di beranda utara Kalimantan Barat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.