Pedagang di Bekasi Curhat Harga Minyak Goreng Melambung, Untung Kini Makin Tipis
Joseph Wesly June 05, 2026 06:50 PM

 

Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra

TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI BARAT- Kenaikan harga minyak goreng kemasan mulai dikeluhkan pedagang di Kota Bekasi. 

Seorang pedagang sembako di Pasar Kranji Baru, Kecamatan Bekasi Barat, yakni Ita, mengatakan, kenaikan harga minyak goreng cukup signifikan dibandingkan beberapa bulan lalu.

Kenaikan harga pun bervariasi, yakni berkisar Rp 5.000 - 7.000, dan itu diakui Ita menyeluruh terdampak ke semua merk minyak goreng.

Sebagai contoh, untuk merk Sunco yang kini dijual mengalami kenaikan harga berkisar lebih kurang Rp 6.000 - 7.000 ribu.

"Kalau saya terakhir harga jual merk sunco ukuran 2 liter adalah Rp39.000 sampai Rp40.000. Sekarang saya jual yang 2 liter itu Rp46.000 sampai Rp47.000," kata Ita, kepada Tribun Bekasi di lapak dagangnya, Jumat (5/6/2026).

Hanya saja ia belum mengetahui secara pasti apakah informasi itu benar atau tidak.

"Saya tidak stock minyak kita, saya stock seperti sunco, riski, gitu, jadi belum tahu pasti juga akan ada kenaikan harga seperti apa," jelasnya.

Ita menuturkan, kenaikan harga tersebut membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam menentukan harga jual kepada konsumen. 

Sebab, jika harga dinaikkan terlalu tinggi, mereka khawatir pembeli beralih ke tempat lain.

"Modalnya sudah besar. Saya tidak berani naikin harga terlalu tinggi, takut tidak ada yang beli. Akhirnya modal tinggi, untungnya tipis," tuturnya sembari menghela nafas.

Harga Minyak Curah Turun

Sementara itu, kondisi berbeda justru terjadi pada minyak goreng curah. 

Sebab Ita menyampaikan harga komoditas tersebut disebut mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

"Kalau minyak curah malah lagi turun. Kemarin satu liter Rp23.000 sampai Rp24.000, sekarang ada yang Rp21.000 sampai Rp22.000, tergantung timbangannya," ucapnya.

Kerap Dikeluhkan Masyarakat

Dampak lain dari meningkatnya harga minyak goreng itu ditegaskan Ita juga memengaruhi pengusaha UMKM, terkhusus bidang makanan, diantaranya seperti pedagang nasi uduk. 

Terlebih selain minyak goreng, sejumlah bahan kebutuhan lain juga mengalami kenaikan harga.

"Orang beli namanya kebutuhan, mau mahal juga tetap beli. Tapi banyak juga yang ngeluh, seperti pedagang nasi uduk. Minyak naik, kerupuk naik, terigu sama sagu juga naik," tegasnya.

Naiknya harga minyak goreng diungkapkan Ita juga tidak sebanding dengan kondisi pasar yang kini justru sepi pembeli.

Hal itu juga membuat pedagang semakin tertekan, dan mereka harus menghadapi harga modal yang tinggi di tengah daya beli masyarakat yang cenderung melemah.

"Apalagi sekarang sudah mulai sepi. Sebelum Idul Adha juga pedagang banyak yang ngeluh," keluhnya.

Berkaitan hal itu, seorang pembeli di pasar, Ristiani (35) menceritakan kalau ia juga tengah meminimalisir pengeluaran uang sejak awal Mei 2026 lalu. 

Bukan tanpa sebab, ia menilai kondisi bahan pokok di pasar tengah mengalami peningkatan, sementara pendapatan rutin dirinya dari berjualan baju via online justru statis alias tidak ada peningkatan.

Sehingga ia mengungkapkan perlu lebih irit mengeluarkan uang.

"Pendapatan jualan saya gitu-gitu aja, tapi kondisi bahan pokok naik terus, biasanya di momem tertentu aja, tapi ini tidak, jadi harus lebih irit keluarin uang," kata Ristiani.

Ristiani berharap kondisi seperti ini tidak berangsur lama, dan harga bahan pokok, terkhusus minyak juga kembali normal.

"Harapannya sih harga normal lagi ya, semua sektor, tidak hanya sembako, oli kendaraan juga infonya naik harganya, nah itu juga bisa diturunin harganya, semuanya deh," pungkasnya. (M37)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.