Dokter Ungkap Tanda Bahaya Batuk Pilek pada Anak, Waspada Pneumonia dan Jangan Asal Beri Obat
Rr Dewi Kartika H June 05, 2026 07:53 PM

TRIBUNJAKARTA.COM -  Dokter spesialis anak, Wanda Gautami mengingatkan para orangtua untuk jeli mengenali tanda-tanda bahaya (red flags) batuk pilek pada anak.

Ia juga menyarankan orangtua untuk menghentikan kebiasaan memberikan obat batuk bebas secara sembarangan yang justru berisiko memicu efek samping berbahaya bagi keselamatan si kecil.

Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Rumah Saki?

Menurut dr. Wanda Gautami, perhatian khusus harus diberikan pada bayi yang usianya masih di bawah 6 bulan, terutama jika menunjukkan gejala demam tinggi dan perubahan pola napas.

"Pertama untuk bayi-bayi di bawah 6 bulan itu hati-hati apabila bayi itu demam, demam tinggi di atas 38 derajat khususnya, karena itu bisa menandakan infeksi yang lebih serius. Kemudian untuk bayi-bayi di bawah 6 bulan itu karena dinding dadanya masih tipis, jadi tampak sekali kalau misalnya bayi itu sesak napas, pasti akan ada tarikan dinding dada yang nyata," kata dr. Wanda dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Tanya Dokter.

Lebih rinci, ia menjelaskan bahwa tanda fisik sesak napas pada anak dapat diamati secara kasatmata melalui beberapa bagian tubuh.

"Napasnya lebih cepat, ada tarikannya, ada cuping hidungnya kembang-kempis, itu tandanya bayi itu sudah mengalami sesak napas. Atau apabila sudah mengganggu makan atau minumnya dan tidurnya, jadi misalnya kalau makannya jadi banyak muntah karena batuk atau kelihatan minumnya sudah berkurang jadi dehidrasi, itu juga sudah merupakan salah satu tanda bahaya yang harus segera dibawa ke rumah sakit atau dibawa berobat," paparnya.

Gejala-gejala tersebut, lanjut dr. Wanda, merupakan indikasi kuat dari kondisi infeksi saluran pernapasan yang jauh lebih serius.

"Ada tanda-tanda yang lebih berbahaya misalnya pneumonia, jadi infeksi paru yang lebih berat, yang tandanya seperti yang tadi sudah kita bahas ya; napas lebih cepat, ada demam tinggi, atau anaknya tampak lemas atau lesu dan tidak mau makan atau bahkan minumnya sudah sangat kurang," tegasnya.

Efek Samping Obat Bebas 

Kesalahan umum lain yang kerap dilakukan orang tua saat anak mengalami batuk berulang adalah melakukan swamedikasi dengan membeli obat bebas tanpa resep, lalu menggunakannya kembali di kemudian hari hanya berdasarkan asumsi kecocokan obat.

dr. Wanda mengingatkan bahwa setiap obat memiliki risiko efek samping, dan pemberiannya pada anak harus didasarkan pada perhitungan berat badan, bukan sekadar rentang usia yang tertera pada kemasan.

"Kita mesti hati-hati tetap terhadap obat over-the-counter, karena dosisnya harus kita perhatikan untuk anak-anak. Karena kan kadang tertulisnya misalnya usia, tidak sesuai berat badan atau semacamnya gitu. Dan obat-obat itu kan masing-masing punya efek sampingnya masing-masing, jadi mungkin bisa meringankan gejala tapi juga ada side effect atau efek samping yang harus kita perhatikan juga," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan utama batuk pilek pada anak sebenarnya terletak pada aspek suportif kenyamanan, bukan pada intervensi obat-obatan kimia dosis tinggi.

"Yang terpenting dari batuk pilek pada anak itu tadi; pemberian cairan, membuat anak lebih nyaman, itu yang terutama. Dan yang bisa kita bantu di depan anak itu memberikan vitamin D itu bisa membantu. Kalau vitamin D, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah merekomendasikan pemberian vitamin D mulai dari sejak bayi lahir hingga dewasa, itu boleh diberikan setiap hari," tambahnya.

Lima Langkah Pencegahan Batuk Pilek Berulang di Rumah

Sebagai penutup, dr. Wanda membagikan lima poin penting yang wajib diperhatikan oleh orang tua untuk menjaga imunitas anak dan mencegah penularan batuk pilek di lingkungan keluarga:

Penuhi Kecukupan Gizi Anak

"Pastikan gizi anak tercukupi dengan baik, mulai dari makronutriennya; protein, karbohidrat, dan lemaknya. Juga vitaminnya, jadi pastikan anak banyak mengonsumsi sayur dan buah dalam jumlah yang cukup agar multivitaminnya juga tercukupi demi imunitas yang baik."

Lengkapi Jadwal Imunisasi

Dokter mengingatkan orangtua untuk melengkapi imunisasi anak.

Pasalnya dengan imuniasi bisa menjaga atau melindungi anak dari infeksi berbahaya.

"Lengkapi imunisasi, itu juga penting karena imunisasi yang baik dapat mendukung imunitas anak dan bisa menjaga anak terinfeksi penyakit-penyakit yang berat yang ternyata sudah dapat dicegah melalui imunisasi," ucap dr. Wanda

Edukasi Etika Batuk dan Isolasi Mandiri

Tak hanya itu, dr. Wanda juga menyarankan anak-anak yang sedang menderita batuk dan pilek, untuk memakai masker serta menjaga jarak dengan anak lain.

"Ajarkan anak yang lebih dewasa itu untuk terhadap etika batuk pilek. Jadi misalnya bila batuk, tutup menggunakan masker, tidak kita dekatkan dengan anak lain, atau kita dirumahkan dulu supaya mencegah penularan lebih sering,"  kata dr. Wanda

Optimalkan Hidrasi Fisik

Dokter lalu menegaskan anak-anak yang mengalami batuk dan pilek harus selalu terhidrasi.

"Pastikan anak nyaman saat mengalami infeksi atau batuk pilek itu, misalnya dengan memberikan cairan yang cukup, usahakan makan banyak kuah, jadi yang cairannya cukup, makanan bernutrisi juga tetap dilakukan," ujar dr. Wanda.

Menjaga Kebersihan Lingkungan dan Bebas Asap Rokok

Terakhir, dr.Wanda menekankan pentingnya menjaga lingkungan dari asap rokok.

"Pastikan lingkungan juga kita sirkulasinya baik dengan kita bersihkan, hindari dari tungau debu, dan jangan merokok," imbuh  dr. Wanda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.