TRIBUN-MEDAN.com - Kasus korupsi MBG tidak melibatkan Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang. Padahal Kepala BGN Dadan Hindayana dan 2 Wakil Kepala yang lain terlibat dan telah ditangkap Keagung.
Banyak spekulasi yang muncul kenapa Nanik S Deyang tidak terlibat.
Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio atau Hensa, mengatakan eks Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang tidak ikut terseret kasus korupsi seperti dua rekannya, Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya.
Sebelum sekarang menjabat sebagai Kepala BGN, Nanik sebelumnya merupakan Wakil Kepala BGN yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 17 September 2025 lalu bersama Sony Sanjaya.
Sementara Lodewyk sudah lebih dulu dilantik Prabowo sebagai Wakil Kepala BGN pada 22 Oktober 2024.
Namun, saat terjadi kasus dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2025 sampai 2026 yang menimpa eks Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua Wakil Kepala BGN tersebut, Nanik tidak ikut terseret.
Publik pun mempertanyakan hal itu, karena hanya Nanik yang tidak terseret, padahal dia termasuk bagian dari para petinggi BGN tersebut.
Terkait hal ini, Hensa mengatakan bahwa dirinya memilih berprasangka baik dengan menganggap alasannya mungkin karena Nanik merupakan pihak yang paling belakangan bergabung di BGN.
"Ada pertanyaan juga di masyarakat ini kenapa Naniknya enggak kena ya, kan gitu, yang tiga sudah masuk gitu ya, kalau saya sih positif thinking aja karena dia paling belakangan juga masuknya," ungkap Hensa, Jumat (5/6/2026), dikutip dari YouTube tvOne.
Baca juga: Sidak SPBE Teluk Dalam, Polres Asahan dan Pertamina Pastikan Stok Elpiji 3 Kg Aman
Baca juga: KASUS Pencabulan Dua Anak Kandung di Sidoarjo, Satu Hamil dan Satunya Lagi Dipaksa Minum Pil KB
Selain itu, Hensa juga menilai bahwa Nanik selama ini menunjukkan loyalitas yang kuat kepada Presiden Prabowo.
"Dia tegak lurus ke Pak Prabowo, sehingga dia bisa menjaga marwah itu," ucapnya.
Sebagai informasi, Nanik akan resmi dilantik Prabowo sebagai Kepala BGN yang baru pada Senin (8/6/2026) pekan depan.
Selain Nanik, para Wakil Kepala BGN seperti Mayjen TNI Trenggono dan Agustina Arumsari juga akan dilantik Prabowo.
Nanik Dapat Ucapan Selamat dari Sony Sanjaya
Setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi MBG, Sony sebelumnya sempat menyampaikan kepada Nanik atas jabatan baru sebagai Kepala BGN.
Ucapan selamat yang ditulis dalam sebuah surat tersebut diunggah Sony melalui Instagram pribadi miliknya @sonysanjayabd pada Rabu (3/6/2026).
Dalam unggahan surat tersebut, Sony juga menyampaikan apresiasi atas sebuah hadiah yang telah diberikan kepadanya, tetapi dia tidak menjelaskan secara rinci hadiah yang dimaksud itu.
"Kepada Yth: Ibu Nanik S Deyang. Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala BGN. Terima kasih atas hadiah indah yang diberikan kepada saya," tulis Sony dalam surat.
Kemudian pada kolom caption Instagram, Sony menuliskan doa dan harapan untuk Nanik agar bisa menjalankan amanah barunya dengan baik.
"Sebuah kebahagian melihat sahabat dan rekan yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa," ujar Sony.
"Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas."
"Teruslah menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Doa terbaik selalu menyertai setiap langkah pengabdian untuk Indonesia," tulis Sony.
Pengamat Minta Prabowo Tetap Awasi Nanik di BGN
Sementara itu, Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik sebagai Kepala BGN yang baru, meski keduanya telah menjalin persahabatan sejak lama.
Nanik dan Prabowo diketahui telah mengenal satu sama lain sejak lama. Nanik sebelumnya pernah menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.
Mantan jurnalis tersebut, terus konsisten berada di barisan pendukung dan mengawal perjuangan politik Prabowo hingga memenangkan Pilpres pada 2024.
Sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden RI, Nanik mendapatkan posisi-posisi strategis di pemerintahan, termasuk menjadi Wakil Kepala BGN, sebelum akhirnya kini menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terjerat kasus korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bahkan, jauh sebelum itu, pada Pemilu 2014 silam, Nanik yang saat itu masih menjadi jurnalis sudah menjalin hubungan erat dengan Prabowo. Sejak saat itulah, Nanik dikenal sebagai salah satu sahabat yang dipercaya Prabowo.
Dengan hubungan yang sudah berlangsung lama ini, Agung menilai bahwa terpilihnya Nanik sebagai Kepala BGN ini tidak terlepas dari alasan kedekatan personal dengan Prabowo.
"Relasi dengan Bu Nanik secara personal sudah lama ya terajut sejak masa kampanye Pilpres, setahu saya 2019. Bahkan jauh dari itu, 2014 juga ada relasi ya persahabatan antara Bu Nanik dengan Pak Prabowo," ungkapnya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews dalam program ON FOCUS, Kamis (4/6/2026).
"Jadi suka atau tidak memang ketika terjadi reshuffle ini motif politiknya lebih kuat ketimbang motif teknokratisnya," sambung Agung.
Meski keduanya sudah dekat sejak lama, Agung meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik di BGN.
"Sehingga ini bisa menjadi masukan juga bagi Presiden untuk memonitor kinerja dari Mbak Nanik gitu ya. Apakah memang sudah sesuai tupoksinya? Apakah mampu memainkan peran untuk memastikan kualitas itu bisa tercapai gitu," ucapnya.
"Karena orang semua melihat ya kesuksesan Makan Bergizi Gratis ini dengan asosiasi bahwa ini program utama presiden," imbuh Agung.
Oleh karena itu, tidak boleh ada celah atau toleransi terhadap berbagai persoalan, seperti kasus keracunan, kualitas menu yang dinilai seadanya, dan tidak sesuai dengan konsep makanan bergizi, maupun profesionalitas penyelenggaraan dapur oleh petugas aparat yang bertugas di lapangan.
"Ataupun soal-soal penganggarannya ya. Publik membutuhkan transparansi, akuntabilitas, pengelolaan dana jumbo yang dilakukan oleh BGN berapa, Rp300 triliun lebih, yang itu kalau diasumsikan rata ya Rp1 triliun per bulan," paparnya.
Penggunaan anggaran tersebut, kata Agung, harus benar-benar dipastikan sesuai dengan peruntukannya serta dikelola secara profesional dan prudent.
"Supaya publik tidak was-was, pasar tidak khawatir ataupun stakeholder lain melihat memang program ini bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.
(*/tribun-medan.com)