Fluktuasi Dolar Picu Kekhawatiran Industri Kabupaten Bandung, Produksi Terancam Terganggu
Muhamad Syarif Abdussalam June 05, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat hingga sempat berada di kisaran Rp18.000 mulai memicu kewaspadaan di kalangan pelaku industri di Kabupaten Bandung.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bandung menilai kestabilan kurs menjadi salah satu faktor krusial dalam menjaga kesinambungan aktivitas produksi, terutama bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri.

Pelaksana Tugas Kepala Disperdagin Kabupaten Bandung, Dicky Anugerah, mengatakan sektor industri seperti tekstil termasuk yang paling rentan menerima dampak dari gejolak nilai tukar mata uang asing.

"Ketika harga bahan baku tersebut naik, biaya produksi juga otomatis meningkat dan akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga," ujarnya kepada awak media pada Jumat (5/6/2026).

Menurut Dicky, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berhenti pada kenaikan biaya produksi. Jika pergerakan kurs terus berfluktuasi dan tidak diimbangi langkah intervensi pemerintah, konsekuensinya dapat menjalar ke sektor ketenagakerjaan.

"Bahkan, jika industri tidak sanggup membeli bahan baku. Bisa jadi juga akan terjadi penghentian produksi yang tentu itu akan berdampak pada tenaga kerja," katanya.

Meski demikian, Dicky memastikan hingga saat ini gejolak nilai tukar dolar belum memberikan pengaruh signifikan terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat di pasar tradisional Kabupaten Bandung.

Ia menjelaskan, pasokan sejumlah komoditas pangan seperti sayuran, bawang, dan daging ayam masih didominasi hasil produksi lokal sehingga pergerakan harganya tetap terjaga. Kendati demikian, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian.

"Sebab, yang perlu diwaspadai adalah inflasi akibat rantai distribusi yang panjang atau adanya penimbunan. Tapi sampai saat ini belum ada laporan penimbunan dan harga-harga masih relatif stabil," ucapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Dicky menilai ketahanan ekonomi daerah harus diperkuat dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Upaya pengembangan sektor hulu dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemandirian industri.

"Intinya, komoditas yang masih bergantung pada impor, kita harus memperkuat produksi lokal. Pemberdayaan sektor industri tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan bahan baku lokal yang berkualitas," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.