De Berry Denpasar Siapkan Layar Raksasa dan Sasar Turis Asing untuk Nobar Piala Dunia 2026
Aurora Nightingale June 05, 2026 09:51 PM

DENPASAR – Menyambut semarak dan antusiasme Piala Dunia 2026, De Berry Beerhouse Denpasar tengah bersiap memanjakan para penggemar sepak bola di Bali dengan menggelar acara nonton bareng (nobar) berskala besar.

Menariknya, untuk edisi Piala Dunia kali ini, pihak manajemen tidak hanya menargetkan penonton lokal, tetapi juga secara khusus membidik pasar wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Pulau Dewata.

Manajemen De Berry kini menaruh perhatian pada turis asing yang berasal dari negara peserta seperti Belanda, Brasil, dan Australia, dengan harapan mereka akan ikut menikmati atmosfer pertandingan di venue tersebut.

Untuk memperluas jangkauan, strategi pemasaran digital akan digencarkan melalui berbagai platform media sosial guna menarik minat wisatawan asing.

“Selama ini kalau ada pertandingan klub besar seperti Liverpool atau Manchester United, selalu saja ada pengunjung dari luar negeri yang datang karena melihat promosi kami di media sosial. Kami memanfaatkan platform seperti Instagram dan Facebook untuk promosi,” ujar Manajer De Berry Denpasar, Nyoman Kariadi, saat ditemui di lokasi pada Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menambahkan, “Ke depan kami juga akan menambah iklan berbayar (ads) agar jangkauannya lebih luas, supaya turis asing tahu bahwa di sini ada tempat nobar Piala Dunia.”

Nyoman mengakui bahwa kegiatan besar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan De Berry selama bulan Juni.

Kehadiran suporter lokal dan wisatawan mancanegara diharapkan mampu mengisi waktu operasional dini hari yang biasanya sepi pengunjung karena bertepatan dengan perayaan keagamaan di Bali.

“Kami tentu menargetkan peningkatan omzet. Bulan Juni ini juga bertepatan dengan banyak kegiatan di Bali, termasuk Hari Raya Galungan dan Kuningan,” katanya.

Ia melanjutkan, “Dengan adanya acara nobar ini, kami berharap bisa menambah omzet pada jam-jam yang biasanya sepi karena masyarakat sibuk bersembahyang di siang hari.”

“Kami manfaatkan waktu subuh untuk menutup kekosongan omzet. Sebenarnya kalau pertandingan berlangsung jam 10 atau 11 pagi, kami sudah bisa menerima tamu karena outlet buka dari pukul 10 pagi. Namun, kendalanya kualitas tayangan proyektor kami tidak maksimal pada siang hari,” jelas Nyoman.

Meski berambisi menarik wisatawan mancanegara, pihak De Berry harus berhadapan dengan tantangan perbedaan waktu antara Indonesia dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—tuan rumah Piala Dunia 2026—yang membuat sebagian besar pertandingan penting disiarkan pada waktu subuh atau pagi hari di Bali.

“Pertandingannya rata-rata tayang pagi hari. Ini jadi tantangan tersendiri, karena jam-jam seperti itu tidak seramai malam hari,” ujar Kariadi.

Untuk mengatasi hal tersebut, De Berry akan lebih selektif dalam memilih pertandingan yang akan ditayangkan pada waktu dini hari, demi menjaga kualitas proyeksi di layar besar (big screen) yang terpasang di area depan.

Pertandingan yang berlangsung sekitar pukul 3 hingga 4 pagi tetap akan ditayangkan, sedangkan laga yang dimulai setelah pukul 9 pagi akan dilewati karena gangguan cahaya matahari yang memengaruhi tampilan layar.

Demi kenyamanan dan keamanan seluruh penonton, baik lokal maupun turis, manajemen memastikan seluruh perizinan siaran resmi telah diselesaikan sejak April lalu.

Selain itu, area nobar yang mampu menampung hingga 100 penonton ini akan diberlakukan sistem penutupan area luar untuk membatasi penonton sekaligus mencegah potensi gesekan antarpendukung.

Pada tahap awal turnamen, pengunjung dapat datang langsung dan memesan menu seperti biasa, dengan harga minuman mulai dari Rp25.000.

Namun, mulai babak 16 besar hingga final, De Berry akan menerapkan sistem First Drink Charge (FDC) untuk menjaga ketertiban dan memastikan suasana nobar tetap aman dan nyaman bagi semua pengunjung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.