TRIBUNNEWS.COM - Pernahkah Anda tiba-tiba terbangun di tengah malam, melihat jam di ponsel, dan mendapati waktu menunjukkan pukul 03.27 atau 04.11 pagi secara berulang?
Banyak orang menganggap hal ini aneh, mengganggu, bahkan sedikit menakutkan.
Namun menurut sebuah perspektif psikologis yang berkembang, kebiasaan terbangun antara pukul 3 hingga 5 pagi mungkin bukanlah kebetulan.
Bisa jadi itu merupakan sinyal dari sistem saraf tentang emosi yang belum sepenuhnya diproses, terutama kesedihan atau kehilangan yang terpendam.
Mengapa Jam 3–5 Pagi Terasa Sangat Berat?
Mengutip discoverwildscience.com, pada dini hari, pola tidur manusia memasuki fase yang lebih ringan.
Suhu tubuh berada pada titik terendah, sementara hormon stres seperti kortisol mulai meningkat untuk mempersiapkan tubuh bangun. Kondisi ini membuat otak lebih mudah terjaga.
Pada saat yang sama, gangguan dan kesibukan siang hari menghilang, sehingga emosi yang belum terselesaikan lebih mudah muncul ke permukaan.
Akibatnya, seseorang bisa terbangun dengan jantung berdebar dan perasaan tidak nyaman tanpa mengetahui penyebab pastinya.
Baca juga: Mantan Pramugari Ungkap Posisi Tidur di Pesawat yang Bisa Berbahaya
Kesedihan Tidak Selalu Berkaitan dengan Kematian
Dalam psikologi, duka tidak hanya muncul karena kehilangan orang yang dicintai.
Kesedihan juga dapat berasal dari putusnya hubungan, kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, keguguran, impian yang gagal terwujud, atau perubahan besar dalam hidup.
Ketika perasaan tersebut tidak pernah benar-benar diproses, kesedihan dapat tersimpan dalam diri dan muncul dalam bentuk lain seperti mudah marah, mati rasa secara emosional, bekerja berlebihan, kecanduan media sosial, atau sering terbangun di tengah malam dengan perasaan berat yang sulit dijelaskan.
Bagaimana Duka Memengaruhi Tubuh?
Secara ilmiah, duka memengaruhi seluruh tubuh. Kondisi ini dapat mengubah kadar hormon stres, mengganggu sistem kekebalan tubuh, memengaruhi nafsu makan, dan merusak kualitas tidur.
Sistem saraf bisa tetap berada dalam keadaan siaga tinggi seolah-olah ancaman masih ada. Akibatnya, tubuh terus memeriksa apakah situasi sudah aman, dan proses tersebut sering muncul dalam bentuk terbangun pada dini hari.
Bukan Selalu Karena Duka
Discoverwildscience.com menekankan bahwa tidak semua orang yang terbangun pada pukul 3–5 pagi sedang mengalami kesedihan yang belum terselesaikan.
Penyebab lain bisa berupa konsumsi kafein, alkohol, paparan layar ponsel sebelum tidur, gangguan tidur seperti sleep apnea, masalah tiroid, perubahan hormon, kecemasan, atau depresi. N
amun jika pola ini berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan disertai rasa sedih dan hampa, ada baiknya seseorang mulai mengevaluasi apakah ada kehilangan yang belum benar-benar diterima.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Saat terbangun di dini hari, disarankan untuk tidak melawan kondisi tersebut dengan panik.
Sebaliknya, fokuslah pada pernapasan, amati sensasi yang dirasakan tubuh, dan akui bahwa ada sesuatu yang mungkin membutuhkan perhatian. Menulis jurnal singkat juga dapat membantu mengurangi beban pikiran.
Yang terpenting, proses penyembuhan dilakukan pada siang hari melalui refleksi, menulis, berbicara dengan orang terpercaya, atau menjalani terapi jika diperlukan.
Kesimpulan
Terbangun berulang kali antara pukul 3 dan 5 pagi bisa menjadi pesan dari tubuh bahwa ada emosi atau kehilangan yang belum sepenuhnya diproses.
Meskipun tidak selalu menjadi tanda duka yang terpendam, pola ini dapat menjadi kesempatan untuk lebih memahami kondisi emosional diri sendiri dan memberikan ruang bagi proses penyembuhan.
(*)