BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum sepenuhnya terasa di seluruh sektor ekonomi Bangka Belitung.
Namun, kondisi tersebut diperkirakan akan memunculkan efek berantai terhadap harga barang, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.
Di satu sisi, harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Pangkalpinang masih relatif stabil karena faktor stok yang mencukupi. Bulog juga memastikan harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap normal dengan stok aman hingga beberapa bulan ke depan.
Namun, di sisi lain, pelaku usaha toko bangunan mulai mengeluhkan kenaikan harga material seperti besi, keramik, hingga cat yang disebut telah merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Darman Saputra, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal awal bahwa dampak pelemahan rupiah mulai terasa secara bertahap di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung.
Menurut Darman, dampak dolar Rp18.000 terhadap ekonomi Bangka Belitung cukup signifikan, meski tidak langsung dirasakan secara serentak pada semua komoditas.
“Bagi Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan, dampaknya bisa lebih besar karena biaya distribusi dan transportasi menjadi komponen penting dalam pembentukan harga barang,” kata Darman kepada Bangkapos.com, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar kebutuhan masyarakat Bangka Belitung masih bergantung pada pasokan dari luar daerah yang didatangkan melalui jalur laut dan udara.
Kondisi tersebut membuat struktur biaya di Bangka Belitung sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar rupiah, terutama karena operasional transportasi berkaitan dengan harga bahan bakar minyak (BBM), suku cadang, hingga komponen lain yang banyak terhubung dengan dolar AS.
“Sebagian besar kebutuhan masyarakat didatangkan melalui transportasi laut dan udara. Biaya operasionalnya sangat dipengaruhi harga BBM, suku cadang, dan komponen yang berkaitan dengan nilai tukar dolar. Akibatnya, biaya logistik bisa naik dan harga barang dari luar daerah ikut terdorong,” ujarnya.
Darman menilai tidak semua komoditas akan langsung mengalami kenaikan harga.
Untuk bahan pangan pokok seperti cabai, bawang, hingga beras, kata dia, harga lebih dipengaruhi oleh stok dan hasil panen dibandingkan pergerakan kurs dolar.
Hal ini sejalan dengan pantauan Bangkapos.com di Pasar Ratu Tunggal Pangkalpinang yang menunjukkan harga cabai cenderung turun karena pasokan melimpah, sementara stok beras Bulog juga dipastikan aman.
Namun, sektor material bangunan disebut menjadi salah satu yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah.
Menurut Darman, bahan bangunan memiliki keterkaitan kuat dengan pasar global karena sebagian bahan baku maupun komponennya masih mengacu pada harga internasional berbasis dolar AS.
“Material bangunan biasanya menjadi sektor pertama yang merasakan dampak pelemahan rupiah. Besi baja, aluminium, mesin konstruksi, kabel listrik, masih bergantung pada bahan baku impor atau harga internasional,” katanya.
Tak heran, sejumlah toko bangunan di Pangkalpinang mulai mengeluhkan kenaikan harga material sejak beberapa bulan terakhir, bahkan sebelum dolar menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS.
Lebih jauh, Darman mengingatkan bahwa pelemahan rupiah juga berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Dalam perspektif ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai imported inflation atau inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat depresiasi nilai tukar terhadap mata uang asing.
Ketika pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang terus meningkat, maka kemampuan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa akan ikut melemah.
“Kalau pendapatan masyarakat tetap tetapi harga barang naik, maka daya beli akan menurun,” ujarnya.
Kelompok masyarakat yang dinilai paling rentan menghadapi situasi ini antara lain rumah tangga berpenghasilan rendah, pekerja informal, nelayan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Darman, dampak terhadap UMKM akan sangat bergantung pada sumber bahan baku yang digunakan. Jika bahan baku diperoleh dari luar daerah atau memiliki keterkaitan dengan impor, maka kenaikan harga menjadi sulit dihindari.
Di tengah ancaman pelemahan rupiah, Darman menilai pemerintah daerah perlu bergerak cepat agar dampaknya tidak semakin luas.
Dalam jangka pendek, pemerintah diminta memastikan stok kebutuhan pokok tetap aman dan memperkuat pengawasan harga, termasuk pada sektor material bangunan.
“Pengendalian inflasi daerah menjadi penting, terutama memastikan stok kebutuhan masyarakat tetap tersedia dan harga tetap terkendali,” katanya.
Untuk jangka menengah, Darman mendorong Bangka Belitung memperkuat produksi lokal melalui sektor pertanian, peternakan, dan perikanan agar ketergantungan terhadap pasokan luar daerah berkurang.
Penguatan UMKM berbasis produk lokal serta peningkatan konektivitas pelabuhan dan distribusi juga dinilai penting guna menekan biaya ekonomi.
Sementara dalam jangka panjang, Darman menilai Bangka Belitung perlu mempercepat hilirisasi sumber daya alam, mulai dari timah, perikanan, hingga perkebunan agar memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Selain itu, ia juga mendorong peningkatan investasi produktif di sektor agroindustri, ekonomi kreatif, manufaktur ringan, hingga pariwisata.
Sebagai daerah kepulauan, Bangka Belitung disebut perlu memperkuat ekonomi maritim dan memanfaatkan momentum peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara melalui festival budaya dan event internasional.
“Bangka Belitung harus memperkuat ekonomi maritim dan meningkatkan nilai tambah sektor unggulan, termasuk perikanan dan pariwisata. Namun, semua itu harus ditopang infrastruktur dan iklim investasi yang mendukung,” pungkasnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)