Olahraga Berlebihan Bisa Bikin Ginjal Rusak, Ini Penjelasan Medis 'Rhabdomyolysis'
GH News June 06, 2026 07:08 AM
Jakarta -

Olahraga tentu sangat penting untuk menjaga gaya hidup sehat. Namun, meski rutinitas olahraga yang teratur memberi banyak manfaat, latihan yang berlebihan bisa berdampak negatif.

Dikutip dari laman , seorang wanita di Amerika Serikat, Savanna Stebbins masuk rumah sakit setelah mengikuti kelas bersepeda indoor. Melalui media sosialnya pada bulan Maret 2025, dia bercerita dirinya tengah berada di rumah sakit dan didiagnosis rhabdomyolysis karena melakukan latihan yang terlalu intens.

Sementara seorang wanita di Malaysia, Atrina Lau juga mengalami Rhabdomyolisis pada bulan Maret 2021 setelah mencoba latihan spinning atau sepeda statis. Menurut dokter yang merawat Atrina, tingkat kreatinin kinasenya (protein yang dilepaskan oleh otot saat otot rusak) berada pada tingkat yang berbahaya, sehingga dia harus segera dirawat di rumah sakit atau akan mengalami gagal ginjal.

Lantas, mengapa olahraga terlalu keras bisa berpengaruh pada ginjal?

Olahraga Terlalu Keras Bisa Bikin Ginjal Rusak?

Berolahraga terlalu keras bisa menyebabkan kondisi bernama rhabdomyolisis atau . Dalam kondisi ini, kelelahan yang berlebihan membuat jaringan otot rusak dan melepaskan protein, seperti kreatin kinase atau (CK) dan mioglobin yang bisa merusak ginjal.

"Rhabdomyolisis akibat aktivitas fisik dapat terjadi setelah olahraga berat dan dari latihan intensitas tinggi di mana otot-otot digunakan secara berlebihan," kata profesor klinis asosiasi nefrologi, Niloofar Nobakht, MD, dikutip dari laman UCLA Health.

"Anda juga bisa terkena rhabdomyolisis akibat trauma langsung, seperti cedera remuk akibat kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh," tambahnya.

Siapapun bisa mengalami rhabdomyolisis. Namun, menurut Dr Nobakht atlet, pelari, atau orang-orang dengan pekerjaan tertentu seperti polisi atau petugas pemadam kebakaran berisiko lebih tinggi.

Gejala Rhabdomyolosis

Dikutip dari laman CDC (), jika mengalami rhabdomyolisis, seseorang mungkin mengalami satu atau lebih dari gejala berikut:

  • Kram otot, pegal, atau nyeri yang lebih parah dari yang diperkirakan
  • Urine berwarna gelap, seperti warna teh atau cola
  • Merasa lemas, tidak mampu menyelesaikan tugas atau latihan yang sebelumnya bisa dilakukan. Kondisi ini disebut juga intoleransi olahraga.

Gejala rhabdomyolosis mungkin tidak muncul hingga beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera otot awal. Bagi sebagian orang, gejalanya mungkin baru muncul beberapa hari setelah cedera awal.

Jika mengalami salah satu dari kondisi ini jangan abaikan dan segera cari perawatan medis. Diagnosis lebih awal membuat pengobatan bisa dimulai lebih awal. Dengan demikian, peluang pemulihan tanpa efek kesehatan permanen lebih besar.

Lakukan Olahraga dari Intensitas Rendah

Praktisi kebugaran dr Anita Suyani, SpKO mengatakan, dalam olahraga dikenal prinsip . Artinya olahraga apapun tetap harus dimulai dari awal atau intensitas lebih rendah.

"Mau push the limit nggak apa-apa. Tapi jangan sakit Kalau sakit berarti kita udah nggak sanggup. Ada limit bawah, ada limit atas," katanya.

"Dulu bisa angkat 150 kg, tapi sudah dua tahun berhenti, jangan mulai dari situ lagi. Mulai dari 80 dulu, nanti nambah lagi," tutupnya.

Adaptasi tubuh harus dilakukan secara perlahan. Dorongan untuk push the limit boleh dilakukan ketika tubuh siap tanpa menimbulkan cedera.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.